Bursa Asia Cerah di Awal Pekan, Tiongkok dan Australia Jadi Perhatian Investor Global
Para ekonom memperkirakan ekspor Tiongkok pada bulan November 2025 akan naik 3,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan membalikkan kontraksi sebesar 1,1 persen pada bulan Oktober 2025.
Sementara itu, ekomo juga sepakat bahwa impor akan mengalami peningkatan sebesar 3 persen pada periode yang sama. Angka ini naik 1 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Investor juga akan mencermati keputusan Bank Sentral Australia (RBA) setelah melakukan pertemuan selama dua hari yang berakhir pada Selasa, 9 Desember 2025. Menurut jajak pendapat ekonom, Bank Sentral Australia diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tunai di level 3,60 persen dan mempertahankannya hingga tahun 2026.
Ilustrasi Laporan Keuangan
Pemerintah Jepang merevisi data keuangan yang menunjukkan ekonomi menyusut lebih tajam antara Juli dan September 2025 dibandingkan perkiraan awal. Data resmi menunjukkan produk domestik bruto (PDB) pada kuartal III-2025 merosot 2,3 persen secara year on year (yoy).
Hasil tersebut lebih buruk daripada perkiraan median ekonom sebesar 2,0 persen. Laporan awal mencatat kontraksk sebesar 1,8 persen.
Dikutip dari CNBC Internasional, indeks acuan Jepang, Nikkei 225, melesat 0,18 persen. Indeks Topix menguat 0,15 persen.
Di Korea Selatan, indeks Kospi naik 0,2 persen. Indeks Kosdaq yang terdiri dari saham-saham berkapitalisasi kecil meningkat 0,37 persen.
Di Australia, indeks ASX/S&P 200 melemah 0,17 persen. Namun, Kontrak Berjangka untuk Indeks Hang Seng Hong Kong bergerak lebih tinggi ke level 26.121, dari 26.085,08.
Ketiga indeks utama di bursa Amerika Serikat (AS), Wall Street, menguat seiring pasar mencerna serangkaian rilis ekonomi yang baru. Indeks S&P 500 ditutup naik tipis 0,19 persen ke level 6.870,40.
Nasdaq Composite melonjak 0,31 persen menjadi 23.578,13. Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average membukukan lonjakan sebesar 104,05 poin atau 0,22 persen ke area 47.954,99.