Harga Emas Global Turun ke Level Terendah, Investor Mulai Tinggalkan Aset Safe Haven?

Ilustrasi emas.
Ilustrasi emas.

Harga emas dunia kembali tertekan dan kini menyentuh level terendah dalam dua bulan terakhir. Logam mulia yang selama ini dikenal sebagai aset safe haven justru kehilangan daya tarik di tengah membaiknya sentimen pasar terkait konflik Amerika Serikat dan Iran.

Penurunan harga emas terjadi setelah investor mulai mengalihkan dana ke aset dengan imbal hasil lebih tinggi. Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral global juga menjadi faktor yang membebani pergerakan logam mulia tersebut.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam perdagangan terbaru, harga emas dunia turun lebih dari 1 persen setelah aksi jual besar yang terjadi sehari sebelumnya. Harga emas bahkan jatuh ke level terendah sejak akhir Maret 2026.

Selama konflik geopolitik berlangsung, harga emas biasanya bergerak searah dengan sentimen risiko pasar. Namun kondisi pekan ini justru berbeda.

“Untuk sebagian besar konflik ini, emas cenderung bergerak seiring dengan irama aset berisiko. Namun sejauh pekan ini, kondisinya justru berbeda. Ketika pasar global mulai lebih optimistis terhadap situasi AS-Iran, emas dan perak justru kesulitan bertahan,” demikian dikutip dari Investing Live, Kamis, 28 Mei 2026.

Harga emas kini berada di bawah US$252 atau setara sekitar Rp4,43 juta per troy ounce dengan asumsi kurs Rp17.600 per dolar AS. Angka tersebut menjadi level terendah sejak 30 Maret 2026.

Menurut analisis teknikal, pantulan harga emas pada awal Mei gagal menembus rata-rata pergerakan 100 hari. Kini pasar melihat potensi penurunan lebih lanjut menuju area rata-rata pergerakan 200 hari.

“Level teknikal penting terlihat di US$249 atau sekitar Rp4,38 juta per troy ounce dan akan menjadi titik utama yang perlu diwaspadai. Terutama karena level itu sempat menahan penurunan tajam selama Maret,” tulisnya. 

Jika level tersebut berhasil ditembus, tekanan jual diperkirakan akan semakin besar dalam beberapa pekan mendatang.

Selain faktor geopolitik, perubahan arah kebijakan suku bunga global juga dinilai menjadi penyebab utama melemahnya harga emas. Dalam hampir dua tahun terakhir, emas menjadi salah satu aset unggulan ketika banyak bank sentral memangkas suku bunga.

Namun kini situasinya mulai berubah. Investor mulai khawatir terhadap dampak inflasi global yang masih tinggi setelah konflik geopolitik dan gejolak pasar obligasi dalam beberapa pekan terakhir.

“Prospek inflasi global saat ini berada dalam posisi yang cukup rapuh. Dan kita melihat ekspektasi bank sentral mencerminkan kondisi tersebut, terutama setelah gejolak pasar obligasi dalam dua pekan terakhir.”

Pasar kini mulai memperkirakan kemungkinan kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve hingga sekitar 15 basis poin pada akhir tahun. Padahal bulan lalu, pelaku pasar masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga tanpa perubahan.

Kondisi tersebut membuat investor mulai meninggalkan emas dan kembali masuk ke instrumen investasi yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, seperti obligasi pemerintah dan deposito berbunga tinggi.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Ketika semakin banyak bank sentral besar cenderung memperketat kebijakan untuk merespons kekhawatiran inflasi, suku bunga yang lebih tinggi menjadi kabar buruk bagi emas karena investor kembali beralih ke aset tradisional dengan imbal hasil tinggi.”

Meski demikian, analis menilai faktor suku bunga bukan satu-satunya penyebab pelemahan harga emas saat ini. Ketidakpastian ekonomi global, arah kebijakan bank sentral, hingga perkembangan geopolitik masih akan menjadi penentu utama pergerakan logam mulia dalam beberapa bulan ke depan.