Bitcoin Terbang Tembus Level Rp1,6 Miliar, Inflasi AS dan Gejolak Global Picu Aksi Borong Investor

Bitcoin dan aset kripto.
Bitcoin dan aset kripto.

Bitcoin menguat tajam hingga menembus level US$93.500 atau naik lebih dari 2 persen dalam 24 jam terakhir pada sesi perdagangan Selasa, 13 Januari 2026. Tren kenaikan masih terjadi hingga menembus posisi US$95.551 sekitar Rp 1,6 miliar (estimasi kurs Rp 16.860 per dolar AS)  menguat 4,78 persen pada perdagangan Rabu, 14 Januari 2026 pukul 10.54 WIB.

Lonjakan dipicu kombinasi data inflasi Amerika Serikat (AS) yang stabil, meningkatnya ketidakpastian politik, serta kembalinya minat investor terhadap aset nilai lindung (safe haven). Kenaikan harga Bitcoin menyusul koreksi pada akhir pekan dan menemukan level penopang di kisaran US$91.000. 

Sentimen pasar membaik usai rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) secara tahunan bertahan di level 2,7 persen sesuai ekspektasi pasar. Sementara itu, inflasi inti dilaporkan lebih rendah dari proyeksi analis.

Sejalan dengan Bitcoin, beberapa alternatif koin (altcoin) ikut menguat. Secara keseluruhan, pasar kripto yang diukur melalui indeks CoinDesk 20 (CD20) mencatat kenaikan 1,4 persen.

Bitcoin.

Ether naik 1,7 persen ke level sekitar US$3.185. Koin BNB menyusul lonjakan sebesar 1,5 persen. 

Penguatan juga terlihat pada aset lindung nilai tradisional. Emas melesat reli dengan menembus level US$4.600. 

Kondisi ini kontras dengan pasar saham AS. Indeks acuan Wall Street, indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite anjlok sekitar 0,2 persen pada sesi yang sama.

“Laporan CPI pagi ini memberikan jangkar yang sangat dibutuhkan pasar untuk menghapus kabut data sejak akhir 2025,” ujar analis strategi kripto di perusahaan investasi aset digital, 21Shares, Matt Mena, dikutip dari Coindesk pada Rabu, 14 Januari 2026.

Mena menambahkan, inflasi inti yang lebih rendah dari perkiraan memperkuat narasi soft landing Federal Reserve (The Fed). Kondisi ini juga membuka peluang pemangkasan suku bunga lanjutan tahun ini, meski diwarnai gejolak politik.

Ia menjelaskan, suku bunga yang lebih rendah cenderung menurunkan daya tarik instrumen kas dan mendorong permintaan terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin dan kripto lainnya. Meski begitu, pasar belum sepenuhnya yakin akan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat. 

Di platform Polymarket, probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin (bps) pada bulan ini hanya sekitar 3,6 persen. Di Kalshi berada di kisaran 5 persen.

Mena menambahkan, secara teknikal Bitcoin masih perlu menembus area resistensi kuat di rentang US$93.500 hingga US$95.000. Pergerakan Bitcoin tertahan di kisaran tersebut selama hampir dua bulan terakhir.

“Jika data penjualan ritel dan perumahan yang akan dirilis selanjutnya menunjukkan konsumen tetap solid, kami memperkirakan akan terjadi penembusan tegas di area resistensi US$93.500–US$95.000,” lanjut Mena.

Kata Mena, keberhasilan menembus level tersebut berpotensi membuka jalan bagi reli menuju US$100.000 sebelum akhir bulan dan mencetak rekor tertinggi baru pada kuartal I-2026.

Selain faktor data ekonomi, pasar juga mencermati perkembangan regulasi. Rancangan undang-undang struktur pasar aset digital di Senat AS dilaporkan terus melaju. 

Draf terbaru yang dirilis menunjukkan adanya kompromi terkait imbal hasil stablecoin serta perlindungan tertentu bagi sektor keuangan terdesentralisasi (DeFi). Jika disahkan, regulasi ini dinilai dapat menjadi katalis positif bagi aset kripto karena memberi sinyal penerimaan bagi investor institusional.

Dari sisi geopolitik dan kebijakan, pelaku pasar turut menanti putusan Mahkamah Agung AS terkait kewenangan tarif federal yang dijadwalkan keluar pada Rabu. Putusan tersebut berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS dan aset berisiko global.

Ketegangan politik juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Hubungan antara Presiden AS Donald Trump dan Ketua The Fed Jerome Powell kian memanas, menyusul isu penyelidikan Departemen Kehakiman AS yang memunculkan kekhawatiran atas independensi bank sentral. Kondisi ini turut memperkuat daya tarik Bitcoin sebagai aset alternatif di tengah meningkatnya ketidakpastian global.