Setahun Lapor Polisi, Nenek Siin Korban Penipuan Rumah di Batam Belum Dapat Kepastian

Nenek Siin, Batam, penipuan rumah Batam, penipuan jual beli rumah Batam, korban penipuan Batam, kisah warga Batam, rumah murah Batam, penipuan batam, Setahun Lapor Polisi, Nenek Siin Korban Penipuan Rumah di Batam Belum Dapat Kepastian, Hidup di Gubuk Tanpa Listrik dan Air Bersih, Awal Mula Penipuan Rumah Rp 75 Juta, Janji Manis yang Berujung Pahit, Dihina Saat Menagih Uang, Laporan Polisi dan Harapan Keadilan, Mimpi yang Pupus di Senja Galang

Mimpi sederhana seorang nenek di Batam untuk memiliki rumah layak dengan listrik dan air bersih berubah menjadi mimpi buruk.

Uang tabungan hasil kerja keras bertahun-tahun senilai Rp 52 juta milik Nenek Siin (63) raib setelah diduga menjadi korban penipuan jual beli rumah oleh dua perempuan yang kini tengah dilaporkan ke polisi.

Perjalanan menuju rumah Nenek Siin di Kampung Blongkeng, Kelurahan Cate, Galang, memakan waktu sekitar satu jam dari pusat Kota Batam. Jalan berkelok dan menanjak membawa tim media ke sebuah pemukiman sepi di tengah hutan.

Di depan Masjid Al-Azhar, sosok Nenek Siin menyambut dengan senyum tipis — senyum yang menyimpan luka mendalam.

“Ini jalan ke rumah saya. Sudah 14 tahun saya tinggal di sini,” ujarnya pelan, sembari memandu melewati jalan tanah berbatu sejauh sekitar 500 meter.

Hidup di Gubuk Tanpa Listrik dan Air Bersih

Rumah yang ditempati Nenek Siin hanyalah gubuk berukuran 4x5 meter berdinding papan usang dan atap seng berlubang. Tidak ada aliran listrik, tidak ada air bersih.

“Kalau mau ngecas HP, saya harus ke masjid di atas sana,” katanya sambil menunjukkan ponsel tuanya yang layarnya sudah retak.

Di dalam gubuk, hanya ada kasur tipis di atas papan, beberapa kardus berisi pakaian, serta plastik-plastik berisi barang seadanya. Nyamuk beterbangan, lalat hinggap di mana-mana.

Namun di tempat inilah, Nenek Siin bertahan hidup sendirian selama belasan tahun.

“Saya pingin punya rumah di kota. Di sini kan tidak ada air, tidak ada lampu. Kalau di Batam, ada air, ada lampu. Saya bisa hidup lebih layak,” ujarnya dengan suara bergetar.

Awal Mula Penipuan Rumah Rp 75 Juta

Keinginan sederhana itu membuatnya tergoda ketika sang anak melihat iklan rumah dijual murah di Facebook pada 2021.

Rumah di Perumahan Citralaguna Tahap 2, Tembesi, Sagulung, ditawarkan dengan sistem over kredit senilai Rp 75 juta oleh dua perempuan berinisial M (Meta) dan N (Nengsih).

“Pertamanya kan katanya dia menawarkan rumah di Laguna. Pikir kita ya orangnya jujur. Tidak tahunya ya kayak gini lah,” kenang Siin.

Uang Rp 52 juta diserahkan bertahap. Awalnya DP Rp 22 juta pada September 2021, lalu Rp 30 juta lagi pada November 2021.

Uang itu hasil kerja kerasnya menanam timun, cabai, jeruk, dan singkong di kebun kecil di belakang rumah.

“Dulu saya kerja di pembensin juga. Terus nanam jeruk, cabai, timun, ubi, semua dikumpul sedikit-sedikit sampai jadi segitu,” ujarnya.

Janji Manis yang Berujung Pahit

Setelah uang diserahkan, Meta dan Nengsih berjanji Nenek Siin bisa segera menempati rumah tersebut setelah penghuni sebelumnya keluar.

“Dia bilang nanti kalau orang ngekos itu keluar, saya bisa masuk,” ujarnya.

Namun janji itu tak pernah ditepati. “Kami hubungi tapi tidak respon. Ditelpon tidak bisa, di-WhatsApp tidak dibalas,” kata Nenek Siin.

Pada Mei 2022, ia akhirnya datang langsung ke rumah impiannya di Citralaguna. Namun yang ia temukan justru kenyataan pahit: rumah tersebut sudah dijual kepada pihak lain.

“Rumah itu sudah dijual sama Brimob. Jadi dia (Meta) nipu saya,” ucapnya lirih.

Ia berusaha mencari Meta dan Nengsih ke kawasan Cipta Asri, namun keduanya sudah menghilang.

“Saya pernah ke sana, tapi mereka sudah tidak ada. Dihubungi juga tidak bisa,” katanya.

Dihina Saat Menagih Uang

Yang paling menyakitkan, ketika Nenek Siin mencoba menagih uangnya, ia justru dimaki.

“Dimaki-maki lah kita. Katanya pembohong lah, ini lah itu lah. Padahal saya yang kehilangan uang,” ujarnya sambil menahan air mata.

Baginya, Rp 52 juta bukan angka kecil. Itu seluruh tabungan hidupnya.

“Kalau saya orang kaya, ditipu tidak apa-apa. Tapi saya orang susah. Sekarang uang habis, tidak ada lagi,” katanya.

Laporan Polisi dan Harapan Keadilan

Sejak 2021, kesehatan Nenek Siin menurun akibat stres. Ia baru melapor ke polisi hampir setahun kemudian, tepatnya sebelum Ramadan 2024.

“Saya lapornya hampir satu tahun lah, sebelum bulan puasa kemarin,” ujarnya.

Kasus ini kini ditangani Polsek Galang dengan pendampingan Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Kedua terlapor sudah dipanggil dua kali namun belum memenuhi panggilan.

“Saya minta keadilan. Balikkan aja lah uang itu. Kalau dibalikin, saya mau nanam lagi. Tapi kalau tidak dibalikin, ya bagaimana,” ujarnya pasrah.

Mimpi yang Pupus di Senja Galang

Senja mulai turun di Kampung Blongkeng. Cahaya matahari yang menembus celah dinding papan menjadi satu-satunya penerang gubuk itu.

Nenek Siin duduk termenung, ditemani anak perempuannya yang sesekali mengelus punggungnya.

“Dulu saya bisa kerja. Sekarang saya sudah tua. Tidak kuat lagi. Uang tabungan habis untuk beli rumah yang tidak pernah saya dapat,” katanya pelan.

Kini, rumah impian dengan listrik dan air bersih tinggal kenangan. Yang tersisa hanyalah gubuk tanpa cahaya di tengah hutan, dan harapan agar uangnya kembali agar ia bisa kembali menanam timun dan singkong, bertahan hidup seperti sedia kala.

Artikel ini telah tayang di TribunBatam.id dengan judul Nenek Siin Ditipu Rp52 Juta Demi Rumah Impian di Batam, Kini Hanya Tinggal di Gubuk Tanpa Listrik

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.