Analis Sebut Bitcoin Akan Terus 'Berdarah' Dibandingkan Saham, Kok Bisa?

Bitcoin.
Bitcoin.

 Tekanan besar kembali menyelimuti pasar kripto global. Setelah penurunan tajam yang menyeret harga Bitcoin, sejumlah analis menilai pelemahan tersebut belum tentu berakhir dalam waktu dekat. 

Namun, beberapa prediksi yang optimistis justru muncul dari sejumlah tokoh pasar. 

Sebagaimana diketahui, dalam satu episode gejolak pasar terbaru, aksi jual serentak di berbagai kelas aset global dilaporkan memangkas sekitar US$3 triliun nilai pasar dalam waktu kurang dari satu jam. Penurunan tidak hanya terjadi di kripto, tetapi juga logam mulia seperti emas dan perak, yang masing-masing terkoreksi tajam dari posisi tertingginya.

Bitcoin sempat turun di bawah US$83.000 sebelum memantul kembali. Namun, volatilitas ekstrem tersebut memicu kekhawatiran bahwa pasar masih berada dalam fase rapuh, dengan risiko tekanan lanjutan.

Sejumlah analis menilai guncangan terbaru berkaitan dengan likuidasi paksa, margin call, serta pergeseran sikap investor ke mode risk-off. Kondisi seperti ini biasanya menandakan investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk kripto.

Analis pasar kripto Victor Olanrewaju menilai bahwa meskipun fase terburuk dari likuidasi paksa mungkin telah lewat, jejak tekanan masih terlihat di struktur pasar. Ia menulis bahwa likuidasi besar telah meninggalkan “celah” pada posisi dan open interest yang belum sepenuhnya terselesaikan, sehingga risiko ketidakstabilan masih membayangi.

Pandangan lebih bearish datang dari Benjamin Cowen, pendiri platform analitik Into The Cryptoverse. Ia menilai, Bitcoin telah memasuki fase pasar bearish setelah puncaknya pada Oktober 2025. “Saya memang berpikir Bitcoin, pada kenyataannya, sudah berada di pasar bearish,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari CCN, Jumat, 30 Januari 2026.

Ia berargumen bahwa secara historis, Bitcoin kerap mencapai puncak pada kuartal keempat tahun pasca pemilu di AS, dan siklus kali ini dinilai mengikuti pola yang mirip. “Alasan Bitcoin turun, bisa dibilang, karena memang di periode inilah biasanya ia turun,” kata Cowen. “Ia selalu mencapai puncak di kuartal keempat tahun pasca pemilu,” ungkapnya. 

Menurutnya, pola kali ini juga menyerupai penurunan tahun 2019, ketika harga melemah secara bertahap di tengah sikap apatis investor, bukan euforia spekulatif. “Kalau puncaknya terjadi saat pasar apatis, Anda akan melihat penurunan yang lebih lambat dan bertahap untuk sementara waktu,” ujarnya.

Cowen juga memperingatkan bahwa aset kripto bisa tetap tertekan bahkan ketika pasar saham menguat, jika likuiditas global masih ketat. “Perkiraan saya kripto akan terus turun,” katanya. “Bitcoin kemungkinan akan terus ‘berdarah’ dibandingkan pasar saham.”

Komentar tersebut muncul di tengah meningkatnya kritik terhadap serangkaian proyeksi harga optimistis dari salah satu pendiri Fundstrat, Tom Lee. Ia sebelumnya menyatakan Ethereum bisa mengalami koreksi jangka pendek sebelum melonjak tajam, dan mengatakan.

“Kami pikir ETH bisa berada di US$7.000 hingga US$9.000 pada akhir Januari,” ungkapnya. 

Ia juga memproyeksikan Bitcoin bisa mencapai US$180.000 pada akhir Januari, dengan target jangka panjang lebih tinggi lagi. Namun, seiring harga yang justru melemah, sejumlah trader di media sosial mulai mempertanyakan akurasi prediksi tersebut. 

Di tengah kombinasi tekanan makro, likuidasi posisi, serta perdebatan soal kredibilitas prediksi analis, pasar kripto saat ini dinilai berada dalam fase sensitif. 

Sebagian analis melihat struktur pasar lebih sehat dibanding siklus sebelumnya, dengan leverage yang lebih rendah. Namun, selama likuiditas global belum benar-benar longgar dan sentimen masih rapuh, volatilitas tinggi diperkirakan tetap menjadi ciri utama pergerakan Bitcoin dalam waktu dekat.