Bensin dan Harga Tiket Pesawat Jadi Biang Kerok Inflasi Pada Mei 2026

PT Pertamina Patra Niaga masih terus menyalurkan BBM jenis Pertalite (RON 90)
PT Pertamina Patra Niaga masih terus menyalurkan BBM jenis Pertalite (RON 90)

Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik, Pudji Ismartini melaporkan, telah terjadi inflasi sebesar 3,08 persen secara tahunan alias year-on-year (yoy) pada bulan Mei 2026.

Sementara secara bulanan alias month-to-month (mtm), pada bulan Mei 2026 telah terjadi inflasi sebesar 0,28 persen, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pudji merinci, jika dilihat dari sektor transportasi, terdapat sejumlah komoditas yang secara dominan telah mendorong inflasi hingga ke angka tersebut.

"Jika dilihat dari kelompok transportasi, maka tercatat bahwa komoditas yang dominan mendorong inflasi adalah bensin dan tarif angkutan udara, dimana masing-masing memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen," kata Pudji dalam telekonferensi pers, Selasa, 2 Juni 2026.

Ilustrasi pesawat terbang.

Dia menambahkan, BPS juga turut mencatat adanya sejumlah komoditas yang menjadi peredam inflasi, misalnya seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang putih. 

Sementara apabila dilihat berdasarkan komponen, Pudji menyampaikan bahwa seluruh komponen tercatat mengalami inflasi bulanan pada bulan Mei 2026. Dimana, andil inflasi tertinggi tercatat disumbangkan oleh komponen inti, dengan andil inflasi sebesar 0,14 persen dan tingkat inflasi 0,22 persen.

"Dengan komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok ini adalah minyak goreng, telepon seluler, laptop/notebook, pelumas/oli mesin, nasi dengan lauk, dan pemeliharaan/service," ujar Pudji.

Sementara jika dilihat dari komponen harga diatur pemerintah, BPS mencatat bahwa kelompok tersebut telah memberikan andil inflasi sebesar 0,10 persen, dengan tingkat inflasi 0,52 persen.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Pudji menjabarkan, inflasi kelompok ini utamanya didorong oleh kenaikan harga bahan bakar rumah tangga, bensin, tarif angkutan udara, Sigaret Kretek Mesin (SKM), dan solar.

"Tercatat bahwa komponen bergejolak turut memberikan andil inflasi sebesar 0,04 persen, dengan tingkat inflasi 0,22 persen. Dengan komoditas yang dominan memberikan andil inflasi pada kelompok ini adalah cabai merah, bawang merah, tomat, beras, dan sawi hijau," ujarnya.