Analis Sebut Bitcoin Berpotensi Anjlok ke Rp620 Jutaan, Investor Siap-siap Serok!
Pergerakan harga Bitcoin kembali menjadi perhatian pelaku pasar kripto global. Setelah kesulitan bertahan di area psikologis US$90.000, aset kripto terbesar di dunia ini masih berada dalam tekanan tren bearish yang cukup konsisten.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa koreksi harga belum sepenuhnya berakhir. Di tengah sentimen pasar yang cenderung berhati-hati, sejumlah analis teknikal mulai menyampaikan proyeksi lanjutan terkait arah pergerakan Bitcoin.
Salah satu analis bahkan memperkirakan waktu spesifik kapan harga Bitcoin berpotensi mencapai titik terendah berikutnya, dengan estimasi penurunan yang cukup dalam dibandingkan level saat ini.
Mengutip laporan Finbold, Rabu, 24 Desember 2025, analis kripto Ali Martinez memperkirakan Bitcoin masih berpeluang mengalami koreksi lanjutan menuju kisaran US$37.000 hingga US$38.000, atau setara sekitar Rp617,9 juta sampai Rp634,6 juta, dengan asumsi kurs Rp16.700 per dolar AS.
Bitcoin dan aset kripto.
Analisis tersebut didasarkan pada struktur harga kuartalan Bitcoin yang dinilai memiliki kemiripan kuat dengan pola puncak siklus pasar sebelumnya. Dalam unggahan di platform X, Martinez menyoroti pola boom and bust yang secara konsisten membentuk setiap fase bull market dan bear market besar sejak Bitcoin pertama kali diperkenalkan.
Secara historis, setiap reli besar Bitcoin hampir selalu diikuti oleh fase koreksi berkepanjangan yang berlangsung sekitar satu tahun. Dalam periode tersebut, penurunan harga dari puncak ke titik terendah umumnya berada di kisaran 70 hingga 85 persen.
Martinez menilai bahwa struktur pergerakan Bitcoin saat ini sangat menyerupai fase puncak siklus di masa lalu. Setelah mencapai puncak harga di sekitar US$126.000 atau setara Rp2,10 miliar, potensi penurunan sebesar sekitar 70 persen dinilai masih sejalan dengan karakteristik bear market sebelumnya.
Dengan skenario tersebut, level dasar Bitcoin diperkirakan berada di rentang US$37.000 hingga US$38.000. Area ini juga bertepatan dengan zona support utama pada siklus harga sebelumnya, yang kerap menjadi titik pelemahan tekanan jual.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam catatan historis, penurunan harga Bitcoin pada fase bear market umumnya berlangsung selama sekitar empat candle kuartalan, atau kurang lebih 12 bulan. Mengacu pada pola tersebut, Martinez memperkirakan titik terendah berikutnya berpotensi terbentuk dalam waktu sekitar 288 hari, atau sekitar Oktober 2026.
Lebih lanjut, Martinez menekankan bahwa pembentukan dasar harga Bitcoin jarang terjadi melalui lonjakan tajam. Sebaliknya, fase bottom cenderung ditandai oleh volatilitas yang rendah dan volume perdagangan yang semakin menipis dalam periode yang cukup panjang.
Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun Bitcoin turun mendekati level US$37.000 atau setara Rp617,9 juta, pergerakan harga kemungkinan besar akan bergerak mendatar terlebih dahulu sebelum muncul sinyal pemulihan yang lebih jelas.
Proyeksi tersebut dinilai dapat menambah tekanan pada harga Bitcoin yang belakangan ini masih kesulitan mencatatkan pergerakan stabil di atas level US$90.000 atau setara Rp1,5 miliar. Lemahnya momentum ini sebagian dipengaruhi oleh meredanya minat institusional melalui produk exchange traded fund (ETF) serta sikap hati-hati investor menjelang libur akhir tahun.
Pada saat laporan ini disusun, Bitcoin diperdagangkan di level US$89.506 atau setara Rp1,49 miliar, menguat sekitar 1,7 persen dalam 24 jam terakhir. Dalam kerangka waktu mingguan, Bitcoin juga mencatatkan kenaikan tipis.
Meski demikian, secara teknikal posisi Bitcoin masih berada di bawah dua indikator penting. Harga saat ini tercatat di bawah simple moving average (SMA) 50 hari di US$93.693 atau setara Rp1,56 miliar, serta SMA 200 hari di US$101.460 atau setara Rp1,69 miliar. Kedua level tersebut kini berfungsi sebagai area resistance kuat yang menegaskan tekanan bearish dalam jangka pendek maupun panjang.
Sementara itu, indikator relative strength index (RSI) 14 hari berada di level 46,17. Kondisi ini mencerminkan posisi netral, tidak berada di area jenuh beli maupun jenuh jual, serta menunjukkan belum adanya sinyal kuat pembalikan arah dalam waktu dekat.