Shutdown AS Terpanjang Berakhir Usai 43 Hari, Jutaan Pegawai Akhirnya Bisa Gajian Lagi

Presiden AS Donald Trump.
Presiden AS Donald Trump.

Amerika Serikat akhirnya mengakhiri kebuntuan politik yang menyebabkan goverment shutdown terpanjang sepanjang sejarah negara itu. Setelah 43 hari tanpa pendanaan pemerintah, Presiden Donald Trump akhirnya menandatangani undang-undang yang secara resmi membuka kembali seluruh kegiatan pemerintahan federal.

Penutupan ini dimulai pada 1 Oktober dan membuat ribuan lembaga, departemen, dan program publik berhenti beroperasi. Selama lebih dari enam minggu, ratusan ribu pegawai pemerintah terpaksa bekerja tanpa gaji atau bahkan dirumahkan. 

Kini, setelah undang-undang disahkan, mereka akhirnya bisa kembali bekerja dan menerima bayaran yang tertunda. Shutdown AS ini berakhir setelah DPR Amerika Serikat menyetujui rancangan undang-undang pendanaan yang sebelumnya telah lolos di Senat. 

Ilustrasi Ekonomi Amerika Serikat

UU tersebut disahkan dengan hasil 222 suara setuju dan 209 suara menolak, dengan enam anggota Partai Demokrat memilih mendukung langkah tersebut bersama Partai Republik.

Setelah disetujui di DPR, Presiden Donald Trump langsung memberikan persetujuan akhir dan menandatangani dokumen tersebut di Oval Office, Gedung Putih. Sebelum menandatangani, ia sempat menyampaikan beberapa pernyataan singkat kepada wartawan.

“Negara ini tidak pernah berada dalam kondisi sebaik ini,” kata Trump sesaat sebelum menandatangani undang-undang itu, sebagaimana dikutip dari BBC, Kamis, 13 November 2025.

“Ini adalah hari yang hebat,” lanjutnya. 

Dengan penandatanganan ini, pemerintahan federal kembali menerima pendanaan penuh. Undang-undang tersebut akan mengembalikan seluruh pegawai pemerintah ke tempat kerja, mendanai kembali lembaga dan program federal, serta memberikan gaji kepada ratusan ribu pekerja yang belum dibayar selama 43 hari.

Sebagaimana diketahui, shutdown AS kali ini memecahkan rekor sebelumnya, yakni 35 hari, yang juga terjadi pada masa pemerintahan Trump di periode pertamanya.

Dampak Shutdown AS

Menurut lembaga Bipartisan Policy Center, sekitar 670 ribu pegawai federal dirumahkan (furloughed), sedangkan 730 ribu lainnya tetap bekerja tanpa menerima gaji. Setelah pemerintahan kembali dibuka, mereka diharapkan bisa segera menerima gaji dalam beberapa hari dan kembali ke kantor masing-masing.

Selain pegawai, sejumlah fasilitas publik juga kembali dibuka, termasuk taman nasional, hutan lindung, dan situs bersejarah yang dikelola pemerintah federal. Meski begitu, belum diketahui kapan seluruh tempat tersebut beroperasi penuh. 

Sebagai perbandingan, museum Smithsonian membutuhkan waktu sekitar empat hari untuk kembali buka setelah penutupan sebelumnya. 

Program bantuan sosial juga mulai dipulihkan. Bantuan pangan SNAP (food stamps) yang membantu sekitar 42 juta warga Amerika kini kembali disalurkan secara penuh. 

Namun beberapa program lain seperti LIHEAP, yaitu subsidi pemanas bagi enam juta rumah tangga berpenghasilan rendah, serta Head Start, program pendidikan anak usia dini, diperkirakan baru bisa berjalan normal dalam beberapa minggu mendatang.

Meski pemerintahan telah resmi dibuka kembali, dampak penutupan selama 43 hari diperkirakan masih terasa dalam waktu lama. Banyak pekerja kehilangan tabungan dan harus memulihkan kondisi keuangan mereka, sementara lembaga pemerintah menghadapi tumpukan pekerjaan dan keterlambatan pelayanan publik.

Sektor penerbangan juga terdampak berat. Selama shutdown, Federal Aviation Administration (FAA) sempat mengurangi jumlah penerbangan di 40 bandara terbesar di Amerika karena banyak pengatur lalu lintas udara menolak bekerja tanpa gaji. Kini, setelah pendanaan kembali normal, operasional penerbangan diharapkan bisa pulih secara bertahap.