Ini Biang Kerok Harga Bitcoin Anjlok, Nasibnya Beda dengan Emas

Bitcoin
Bitcoin

 Pergerakan harga Bitcoin kembali menjadi perhatian investor global. Setelah sempat menunjukkan sinyal pemulihan dan mendekati level psikologis enam digit, aset kripto terbesar di dunia ini justru mengalami tekanan signifikan dalam beberapa hari terakhir. 

Akhir pekan lalu menjadi salah satu periode paling bergejolak dalam beberapa waktu terakhir, dipicu oleh derasnya arus berita makroekonomi global.

Mengutip laporan Nasdaq, Kamis, 22 Januari 2026, harga Bitcoin tercatat telah turun 4,8 persen sejak pasar saham ditutup pada Jumat lalu. Penurunan ini tergolong signifikan, terlebih karena Bitcoin sempat kembali turun ke bawah level US$90.000 atau setara sekitar Rp1,52 miliar (kurs Rp16.900 per dolar AS) pada awal perdagangan hari ini.

Padahal, sekitar sepekan sebelumnya, Bitcoin terlihat berpeluang kembali bergerak menuju level enam digit. Namun, akhir pekan ini disebut sebagai periode yang jarang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Pemberitaan di ranah makroekonomi mendorong lonjakan volatilitas pasar, dengan indeks volatilitas VIX menembus level 20 untuk pertama kalinya sejak November.

Lonjakan volatilitas tersebut memicu pergerakan tajam tidak hanya di pasar saham, tetapi juga pada Bitcoin, emas, komoditas, serta berbagai kelas aset lainnya. Pergerakan harga Bitcoin akhir pekan ini mencerminkan tekanan jual besar di pasar saham dan obligasi Amerika Serikat. 

Kekhawatiran pasar semakin meningkat akibat potensi kenaikan tarif terhadap sekutu Eropa, yang dikaitkan dengan upaya Presiden AS Donald Trump membeli Greenland. Situasi ini memicu kekhawatiran inflasi domestik di Amerika Serikat serta potensi penurunan minat investor internasional terhadap saham dan surat utang AS.

Apa arti semua ini bagi pasar kripto masih belum sepenuhnya jelas. Namun satu hal yang pasti, kripto merupakan pasar global, dengan sebagian besar aliran modal berasal dari luar Amerika Serikat. Setiap indikasi bahwa arus modal global berpotensi melambat dapat memberikan dampak material pada aset seperti Bitcoin.

Dengan kapitalisasi pasar mendekati US$2 triliun atau sekitar Rp33.800 triliun, Bitcoin membutuhkan arus dana miliaran dolar agar dapat terus melanjutkan tren kenaikan harga. Ketika sentimen global memburuk, tantangan tersebut menjadi semakin besar.