Makna Parang Barong yang Dipakai KGPH Puruboyo Saat Pelepasan Jenazah PB XIII, Menurut Pakar

Parang Barong, KGPH Purubaya, pelepasan jenazah PB XIII, makna parang barong, parang barong, parang barong batik, kgph purubaya, kgph burupaya naik takhta, pelepasan jenazah pb xiii, motif batik parang barong memiliki makna, Makna Parang Barong yang Dipakai KGPH Puruboyo Saat Pelepasan Jenazah PB XIII, Menurut Pakar

  Dalam prosesi pelepasan jenazah Sri Susuhunan Pakubuwono (PB) XIII, Rabu (5/11/2025), perhatian publik turut tertuju pada busana adat yang dikenakan KGPH Puruboyo.

Dalam momen sakral itu, ia tampak mengenakan kain batik bermotif Parang Barong, motif yang secara tradisi hanya dikenakan oleh raja Mataram Islam di Jawa, khususnya Keraton Kasunanan Surakarta.

Guru Besar Bidang Tekstil Tradisi Program Studi Desain Mode FSRD Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. Sarwono, M.Sn, menjelaskan bahwa motif ini memiliki kedudukan khusus dalam hierarki busana keraton.

Makna batik Parang Barong

Menurut Prof. Sarwono, Parang Barong merupakan motif dalam keluarga motif Parang dan secara historis dipakai oleh raja Mataram Islam, termasuk Kasunanan Surakarta.

“Parang bukan berarti senjata, tetapi berasal dari kata pantai karang. Maknanya adalah petuah bahwa seorang raja harus seperti karang di pantai, kokoh meski dihantam ombak,” jelas Prof. Sarwono saat dihubungi Kompas.com, Kamis (6/11/2025).

Ombak digambarkan sebagai segala gangguan atau tantangan yang datang, baik dari dalam maupun luar kerajaan.

Karena itu, Parang Barong menjadi simbol keteguhan dan kestabilan seorang pemimpin.

Sementara itu, unsur Barong, atau singa, melambangkan kewibawaan dan kekuasaan.

“Singa adalah simbol raja hutan, kekuatan, keberanian, dan legitimasi kepemimpinan,” ujarnya.

Parang Barong, KGPH Purubaya, pelepasan jenazah PB XIII, makna parang barong, parang barong, parang barong batik, kgph purubaya, kgph burupaya naik takhta, pelepasan jenazah pb xiii, motif batik parang barong memiliki makna, Makna Parang Barong yang Dipakai KGPH Puruboyo Saat Pelepasan Jenazah PB XIII, Menurut Pakar

Putra mahkota Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPAA Hamengkunegoro, atau yang akrab disapa Gusti Purboyo, menyatakan diri sebagai Paku Buwono (PB) XIV. Pernyataan tersebut disampaikan Gusti Purboyo menjelang pemberangkatan jenazah PB XIII ke Makam Raja-Raja Mataram di Imogiri, Bantul, Yogyakarta, Rabu (5/11/2025).

Kenapa KGPH Purubaya menggunakan motif khusus raja?

KGPH Puruboyo dalam prosesi pelepasan jenazah PB XIII tidak bisa dilepaskan dari kedudukannya sebagai Putra Mahkota sekaligus pihak yang mengikrarkan diri naik takhta pada hari yang sama.

Ia kini juga menyandang gelar sebagai Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwono XIV.

Menurut Prof. Sarwono, motif Parang Barong memang secara tradisi hanya dikenakan oleh raja di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta.

Namun dalam prosesi kedukaan, terutama ketika putra mahkota bersiap mengambil alih amanah kepemimpinan, busana yang dipakai bisa menandai peralihan otoritas dari raja lama kepada pewarisnya.

Dalam adat Jawa, momen pengikraran di hadapan jenazah ayahanda dipandang sebagai legitimasi spiritual dan simbolik.

Karena itu, pemakaian motif tertinggi seperti Parang Barong menjadi wujud penghormatan, sekaligus tanda bahwa ia mulai memasuki posisi sebagai raja.

Motif batik di lingkungan keraton bukan hanya ragam hias, melainkan penanda status dan peran seseorang dalam struktur kekuasaan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.