4 Tips untuk Anak Kos agar Token Listrik Rp 50.000 Awet 24 Hari menurut Pakar UNY
— Bagi anak kos, listrik sering kali menjadi pengeluaran bulanan yang diam-diam menguras dompet.
Tak sedikit yang memilih membeli token listrik Rp 50.000 agar pengeluaran tetap terkendali, tetapi baru beberapa minggu, saldo kWh sudah menipis.
Padahal, dengan perilaku hemat yang tepat, token listrik Rp 50.000 bisa bertahan hingga 24 hari, menurut Toto Sukisno, dosen Pendidikan Teknik Elektro Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
“Anak kos dengan beban standar setiap harinya membutuhkan sekitar 1,45 kWh. Jadi sebenarnya bisa hemat asal penggunaannya efisien,” ujar Toto kepada Kompas.com, Senin (10/11/2025).
Hitungan Token Rp 50.000
Untuk pelanggan dengan daya 1.300–2.200 VA di Jakarta, tarif dasar listrik per November 2025 adalah Rp 1.444,70 per kWh.
Dengan memperhitungkan Pajak Penerangan Jalan (PPJ) sebesar 2,4 persen, maka pembelian token Rp 50.000 setara dengan 33,77 kWh.
“Jumlah itu cukup untuk kebutuhan sekitar 24 hari bila digunakan secara bijak dan tidak boros,” ujar Toto.
Cara Hemat Token Listrik Rp 50.000
Berikut ini cara agar token listrik Rp 50.000 hemat hingga 24 hari
1. Matikan Alat Elektronik Saat Tidak Digunakan
Kebiasaan paling sederhana tapi sering diabaikan adalah tidak mematikan alat elektronik saat tidak dipakai.
“Prinsip dasar penghematan energi adalah mematikan utilitas atau peralatan yang tidak digunakan,” jelas Toto.
Kipas angin, setrika, atau lampu sering kali dibiarkan menyala meski kamar kosong.
Jika dibiasakan disiplin mematikan alat-alat tersebut, pemakaian kWh bisa ditekan signifikan.
ilustrasi token listrik Rp 500.000 akan habis dalam berapa lama?
2. Pilih Peralatan Hemat Energi
Toto juga menyarankan agar anak kos menggunakan alat elektronik hemat energi, yang mudah dikenali lewat label bintang hijau di kemasannya.
“Semakin banyak bintangnya, semakin efisien. Paling tinggi itu lima bintang,” ujarnya.
Lampu LED, rice cooker hemat daya, hingga kipas angin low watt bisa menjadi investasi kecil yang berdampak besar terhadap penghematan listrik bulanan.
3. Hindari Memakai Alat Elektronik Rusak
Peralatan yang sudah rusak, apalagi diperbaiki seadanya, justru menyedot listrik lebih banyak.
“Kalau motor listrik dililit ulang, efisiensinya menurun, konsumsi energinya malah lebih besar,” kata Toto.
Sebaliknya, jika kerusakan hanya pada komponen elektronik seperti kapasitor atau resistor, penggantian tidak berpengaruh pada konsumsi energi.
Karenanya, jangan menunda memperbaiki alat elektronik yang sudah menurun performanya.
4. Saling Kompak Hemat Energi
Bagi yang tinggal di kos bersama, kesadaran kolektif sangat penting.
“Harus ada komitmen antar penghuni kos untuk saling mendukung penggunaan energi yang efisien,” tutur Toto.
Kebiasaan kecil seperti mencabut charger setelah digunakan atau mematikan lampu ruang bersama bisa membantu token listrik bertahan lebih lama.
Gaya Hidup Hemat Energi
Menghemat listrik bukan berarti hidup dalam gelap.
Kuncinya adalah mengubah kebiasaan kecil dan memilih alat yang efisien, sehingga token Rp 50.000 tidak cepat habis meski aktivitas padat.
Dengan pola hidup hemat energi, anak kos bisa tetap nyaman, produktif, dan dompet pun aman hingga akhir bulan.
Sebagian artikel ini telah tayang di KOMPAS.com dengan judul .
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.