Mengenal Depresi pada Lansia, dari Tanda hingga Pencegahan Menurut Pakar
Depresi pada lansia (lanjut usia) jangan dipandang sebelah mata karena bisa cukup berisiko. Apalagi bila ditambah dengan penyakit lain, salah satunya hipertensi (tekanan darah tinggi).
"Depresi itu adalah perasaan sedih yang berlangsung, biasanya lebih dari dua minggu, tapi sedihnya itu bukan sedih biasa aja, sedihnya itu beda. Sedihnya bisa sampai mengganggu aktivitas sehari-hari," kata Nurul Hikmah Maulida, MPSi., Psikolog dalam acara Rumah Rasa di Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.
Adapun Rumah Rasa (Rumah Berbagi Sesama Lansia) adalah inovasi dari Lentera (Layanan Terapi Hipertensi dan Depresi pada Lansia) Puskesmas Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Lantas, mengapa lansia bisa mengidap depresi? Simak penjelasan selengkapnya.
Mengapa lansia bisa mengidap depresi?
Penurunan mobilitas dan kondisi kesehatan bisa berpengaruh
Kegiatan Rumah Rasa untuk menurunkan hipertensi dan risiko depresi pada lansia di Hutan Kota GBK, Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2025).
Seiring berjalannya waktu, lanjut Nurul, para lansia mengalami penurunan mobilitas. Mereka yang tadinya aktif bekerja, saat ini sudah tidak aktif lagi karena harus pensiun.
Tidak hanya itu, anak-anak mereka mungkin sudah tumbuh dewasa dan tidak tinggal di rumah yang sama, misalnya karena merantau atau membina rumah tangga. Ada pula lansia yang memang tinggal sendirian di rumah.
"Ada yang di rumah sendiri, terus kita juga mengalami penyakit tertentu, khususnya yang banyak saat ini hipertensi atau darah tinggi, juga berisiko," tutur Nurul.
Penyakit tersebut juga bisa membuat lansia berisiko mengalami depresi. Sebab, ada kalanya lansia jenuh minum obat terus-menerus, lalu tidak bisa makan makanan yang diinginkan seperti dulu karena adanya pembatasan.
"Ada saatnya juga enggak makan, yang lain masih bisa makan yang gurih-gurih, sekarang udah enggak bisa. Jadi benar-benar perlu dikontrol, jadi rasanya itu enggak enak," tutur dia.
Hal tersebut, tambah dia, memang bisa menjaga kesehatan para lansia, tapi sekaligus menjadi tantangan bagi mereka.
Apa saja tanda depresi pada lansia?
Tak cuma merasa sedih
Tanda depresi pada lansia tidak hanya merasa sedih yang berkepanjangan dan mengganggu aktivitas, tapi juga disertai kehilangan minat dan perasaan tidak berdaya.
"Yang dulunya sering aktif bersosialisasi, misalkan, sekarang jadi malas, pengennya di rumah aja," ucap Nurul.
Selain itu, tanda lainnya adalah masalah tidur, antara lain tidur yang tidak nyenyak atau terlalu banyak tidur.
Depresi pada lansia juga bisa ditandai dengan kesulitan berkonsentrasi, penurunan nafsu makan, atau peningkatan nafsu makan.
"Lalu juga ada keluhan lainnya, yang biasanya sering muncul yaitu terkait rasa lelah yang berkepanjangan, atau mungkin mudah lelah. Dan, terakhir, kalau misalkan tingkat depresinya sudah lumayan di arah sedang ke tinggi, itu bahkan sampai ada pikiran untuk bunuh diri, mengakhiri hidup, rasanya capek, hidup, pengen pergi aja," jelas Nurul.
Bagaimana mencegah depresi pada lansia?
1. Menggambar

Ada beberapa cara mencegah depresi pada lansia. Salah satunya adalah berkutat dengan dunia seni, dikutip dari laman Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Minggu (30/11/2025).
Menggambar termasuk bentuk terapi seni yang kerap diterapkan sebagai cara untuk mengekspresikan diri dan merefleksikan diri.
Terapi seni dengan menggambar membantu mengurangi dampak kecemasan, depresi, serta perasaan tertekan atau stres pada lansia. Sebab, mereka bisa mengekspresikan perasaan negatif lewat aktivitas tersebut.
2. Olahraga
Cara lainnya dalam mencegah depresi pada lansia, menurut Nurul, adalah dengan berolahraga. Misalnya berjalan kaki.
"Supaya nanti kita tetap bisa sehat dan tidak mengalami depresi, olahraga, minimal 30 menit," tuturnya.
3. Istirahat yang cukup
Selain mengolah fisik, penting bagi lansia untuk mengambil jeda guna beristirahat.
"Istirahat yang cukup, tujuh sampai delapan jam per hari. Karena seiring bertambahnya usia, waktu istirahatnya lebih panjang," ucap Nurul.
4. Rutin periksa kesehatan
Lansia juga dianjurkan untuk rutin memeriksakan kesehatan mereka, misalnya ke posyandu (pos pelayanan terpadu) atau puskesmas (pusat kesehatan masyrakat), minimal sekali dalam sebulan.
5. Ikut kegiatan komunitas dan jalani hobi
Suasana kegiatan Rumah Rasa yang bertujuan menurunkan hipertensi dan risiko depresi lansia di Hutan Kota GBK, Jakarta Pusat, Rabu (24/9/2025).
Penting bagi para lansia untuk ikut kegiatan komunitas agar tidak merasa sendirian, apalagi sendirian di rumah. Misalnya mereka bisa ikut kegiatan PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga).
Selain itu, penting pula bagi lansia untuk menjalankan hobi. Salah satu contohnya adalah merawat tanaman.
6. Jaga pola makan seimbang
Pola makan turut memengaruhi kondisi kesehatan para lansia.
"Karena apa yang kita makan itu ternyata berpengaruh untuk hormon kortisol atau hormon stres," kata Nurul.
7. Bersyukur
Nurul mengatakan, kesehatan mental dipengaruhi oleh keseimbangan kesehatan fisik, kebutuhan sosial, dan kebutuhan spiritual.
"Yang namanya kesehatan mental itu adalah kondisi di mana individu perlu seimbang dalam hal kebutuhan, menjaga kebutuhan fisik, kebutuhan mental, kebutuhan sosial, dan spiritual." tuturnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang