Kata Penumpang Kereta Khusus Petani-Pedagang: Bersyukur, Usul Tak Ada Batasan Barang

Kereta khusus petani dan pedagang, kereta khusus petani-pedagang, kereta petani dan pedagang, kereta khusus petani dan pedagang, Kereta Khusus Petani-Pedagang, Kata Penumpang Kereta Khusus Petani-Pedagang: Bersyukur, Usul Tak Ada Batasan Barang

Kereta Khusus Petani-Pedagang resmi beroperasi pada hari ini, Senin (1/12/2025).

Kereta ini melayani rute Stasiun Rangkasbitung–Stasiun Merak dan sebaliknya dengan total 14 perjalanan per hari.

Kereta khusus petani dan pedagang ini ditempel pada rangkaian Commuterline Merak atau KA Lokal Merak, dengan satu gerbong khusus petani dan pedagang pada setiap keberangkatan.

Dilansir dari , Senin (1/12/2025), beroperasinya kereta ini disambut antusias oleh para pedagang di rute Rangkasbitung–Merak.

Lantas, apa saja komentar para pedagang yang menjadi konsumen kereta khusus petani-pedagang tersebut? 

Merasa diperhatikan

Beberapa penumpang mengaku antusias dan bersyukur dengan adanya layanan kereta khusus ini. Karena kini mereka tak perlu berdesakan dengan pekerja lain dalam satu gerbong.

Sarminah (52), mengaku gembira karena kini tidak perlu lagi berebut tempat dengan penumpang umum di gerbong reguler.

"Sangat senang, ini naik pertama kali, dari kemarin sudah nungguin, serasa gerbong milik sendiri, spesial untuk kami," kata Sarminah kepada Kompas.com di gerbong Kereta Khusus Petani-Pedagang, Senin.

Menurut pengakuannya, Sarminah naik dari Stasiun Catang, Serang, menuju Merak untuk menjajakan dagangannya.

Ia mengaku sudah membuat kartu khusus di loket Stasiun Catang pada hari Sabtu kemarin sebagai syarat masuk gerbong khusus demi bisa membawa banyak barang dagangannya.

"Enggak ribet buatnya, cuma kasih KTP dan isi formulir, nanti dikasih kartu yang harus dipake kalau mau naik kereta," kata Sarminah sambil menunjukkan kartu tersebut.

Kartu khusus gerbong petani-pedagang tersebut berwarna hijau dengan tulisan "Kereta Petani & Pedagang", yang juga dilengkapi lanyard.

Penumpang lain, Asnamah (41), menaiki gerbong khusus ini dari Stasiun Cikeusal.

Dilansir dari , Asnamah (41) mengaku baru kali ini merasa benar-benar diperhatikan saat menggunakan transportasi umum kereta.

“Biasanya selalu rebutan tempat duduk sama penumpang lain, sekarang punya gerbong sendiri. Pintunya juga beda dan ada kartu khusus buat masuk. Baru kali ini rasanya diistimewakan naik kereta,” kata Asnamah kepada Kompas.com.

Usulan soal pembatasan barang bawaan

Sedangkan, Sumarni, meski mengaku bersyukur, tapi sedikit menyayangkan adanya batasan barang bawaan untuk pedagang.

"Hanya boleh bawa dua tentengan saja, menurut saya kurang banyak, semoga dikasih keleluasaan lagi," kata Sumarni.

Menurut pengakuannya, ia terbiasa membawa lima tentengan berisi aneka penganan untuk dijajakan di Pasar Kranggot, Cilegon. Namun karena batasan itu, pada hari ini ia hanya membawa dua tentengan.

"Tadi bawa lima, akhirnya tiga lagi dibawa pulang lagi sama suami saya, karena takut ditegor petugas," ujar dia.

Sumarni berharap aturan batasan barang dapat direvisi karena mengurangi barang dagangan yang dapat dijual. Menurut dia, hal ini berdampak pada pendapatan harian.

"Kami jualan ambil untuk Rp 1.000–1.500 per jenis, kalau dikurangi buat ongkos aja pendapatannya bisa habis," kata dia.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang