China Sebut Penusukan Warga Jepang di Shanghai Insiden Tunggal, Pelaku Gangguan Jiwa

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun

 Kementerian Luar Negeri China menyebut peristiwa penusukan oleh seorang pria Tiongkok terhadap tiga orang, dua di antaranya adalah warga Jepang, merupakan insiden tunggal dan tak ada sangkut pautnya dengan negara.

"Otoritas China yang berwenang telah mengeluarkan pernyataan. Ini adalah insiden tunggal yang dilakukan seseorang dan menyangkut keselamatan publik," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun di Beijing, Rabu, 20 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Guo Jiakun menyebut pada Selasa, di satu restoran di Shanghai, seseorang dengan gangguan jiwa melukai satu warga negara China dan dua warga negara Jepang dengan pisau.

"Korban luka segera dibawa ke rumah sakit. Tersangka juga telah ditangkap oleh polisi dan kasus ini sedang dalam penyelidikan lebih lanjut," tambah Guo Jiakun.

Pelaku Alami Gangguan Kejiwaan

Ia menyebut Otoritas Tiongkok yang berwenang akan menangani kasus ini sesuai dengan hukum.

"Penyerang telah diidentifikasi sebagai seseorang dengan gangguan jiwa. Saya harus memperingatkan terhadap kecenderungan berbahaya dari beberapa media dan individu untuk membuat asosiasi palsu dan membesar-besarkan insiden tersebut," ungkap Guo Jiakun.

Menurut seorang pejabat senior Kementerian Luar Negeri Jepang, ketiga korban adalah dua pria warga negara Jepang dan seorang perempuan China. Ketiganya dibawa ke rumah sakit tapi tidak mengalami luka yang mengancam jiwa.

Polisi telah menahan seorang pria berusia 59 tahun di lokasi kejadian. Menurut sumber kepolisian setempat, pria tersebut memiliki riwayat penyakit mental karena berbicara tidak jelas dan menunjukkan perilaku mencurigakan.

Banyak perusahaan Jepang termasuk beberapa bank besar berkantor di dalam dan sekitar gedung tersebut mengingat gedung tersebut dirancang oleh Mori Building Co. asal Jepang.

Setelah insiden itu, Kedutaan Besar Jepang di China mengirimkan pemberitahuan yang menyarankan warga negara Jepang di Tiongkok untuk meningkatkan kewaspadaan dan menyarankan mereka untuk bepergian dalam kelompok.

Pemerintah Jepang juga meminta pemerintah China melakukan investigasi terhadap insiden tersebut, menghukum dengan tegas pihak yang bertanggung jawab, dan memastikan keselamatan warga negara Jepang.

Penyerangan terhadap warga negara Jepang telah beberapa kali terjadi di China.

Pada Juni 2024, seorang ibu dan anak kewarganegaraan Jepang diserang dengan pisau saat menunggu bus sekolah di kota Suzhou, Provinsi Jiangsu. Akibatnya, seorang perempuan China yang mencoba mencegah pelaku tewas dalam insiden tersebut.

Selain itu, pada September 2024, seorang anak laki-laki Jepang berusia 10 tahun juga ditusuk hingga tewas saat berangkat ke sekolah di Kota Shenzhen, Provinsi Guangdong.

Kemudian pada Juli 2025, juga di Suzhou, seorang wanita Jepang dan anaknya terluka setelah dipukul dengan benda tumpul.

Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara China-Jepang.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hubungan antara Beijing dan Tokyo menjadi tegang sejak komentar Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi pada November 2025 soal setiap tindakan militer China terhadap Taiwan dapat menjadi alasan bagi Jepang untuk mengaktifkan militernya.

China pun membalas dengan sejumlah protes diplomatik dan ekonomi terhadap Jepang.