Kenapa Korban Perselingkuhan Bisa Menjadi Pelaku? Ini Jawaban Ahli
Dalam beberapa kasus tertentu, terkadang korban perselingkuhan malah menjadi pelaku perselingkuhan. Apa alasannya?
“Ketika dia memutuskan untuk berselingkuh, keputusannya bisa jadi karena impulsif, tidak mau bikin koneksi emosional yang terlalu dekat dengan pasangannya sekarang, atau tidak tahu perilakunya bisa jadi selingkuh,” kata Clement Eko Prasetio, M.Psi., Psikolog, yang berpraktik di Indopsycare, saat dihubungi Kompas.com pada Kamis (27/11/2025).
Alasan korban perselingkuhan jadi pelaku perselingkuhan
Enggan menjalin koneksi emosional yang terlalu dekat
Ada beberapa alasan mengapa korban perselingkuhan bisa menjadi pelaku perselingkuhan di hubungan selanjutnya. Simak jawaban pakar.
Koneksi emosional yang terjalin antara satu orang dengan orang lain bisa mempererat hubungan yang sedang terjalin, baik itu pertemanan, kekeluargaan, maupun hubungan romantis.
Ketika koneksi emosional terjalin, dikutip dari Everyday Health, Jumat (28/11/2025), orang-orang dalam hubungan tersebut bakal merasa nyaman untuk saling terbuka. Mereka pun bisa memproses emosi dengan lebih banyak pemahaman.
Pada korban perselingkuhan, mereka bisa menjadi pelaku perselingkuhan karena enggan menjalin koneksi emosional yang terlalu dekat.
Menurut dia, ketidakinginan ini bisa muncul karena trauma dan rasa sakit hati yang muncul saat menjadi korban perselingkuhan.
Ia belajar, menjalin koneksi emosional yang terlalu dekat dengan orang lain bisa berujung pada sakit hati, seperti hubungan lamanya ketika ia diselingkuhi.
“Dia sakit hati banget, kemudian jadi belajar, ‘Oh, aku enggak mau terlalu dekat sama orang’. Kemudian pada akhirnya, ‘Ya udah deh aku selingkuh selingkuh aja’,” tutur Clement.
Sebab, sering kali perselingkuhan tidak melibatkan perasaan sehingga ia tidak perlu menjalin koneksi emosional yang terlalu dekat dengan pasangannya.
“Jadilah dia melakukan perselingkuhan berulang karena ingin menghindari rasa sakitnya yang dalam bentuk tidak mau terlalu dekat secara emosional,” kata Clement.
“Jadi, mereka coba ke orang lain biar punya ‘pegangan’ juga ke orang lain. Untuk ‘jaga-jaga’ soalnya dulu pernah diselingkuhin, biar dirinya tidak sakit hati. Tapi, kalau dari luar, kita melihatnya itu perilaku perselingkuhan,” sambung dia.
Tidak tahu perilakunya termasuk perselingkuhan
Ada beberapa alasan mengapa korban perselingkuhan bisa menjadi pelaku perselingkuhan di hubungan selanjutnya. Simak jawaban pakar.
Selanjutnya adalah ia tidak tahu bahwa perilakunya sudah masuk dalam ranah perselingkuhan, misalnya seperti chatting dengan orang lain tanpa sepengetahuan pasangannya saat ini. Istilah dari perilaku tersebut adalah micro cheating.
Adapun micro cheating adalah tindakan kecil yang mengaburkan batas kesetiaan dalam hubungan, ttapi tidak selalu merupakan bentuk perselingkuhan secara langsung, seperti dijelaskan oleh psikolog sekaligus pendiri On Par Therapy Brianna Paruolo melalui laman Today.
Meski tidak selalu terjadi secara fisik atau langsung, tetapi micro cheating dapat merusak kepercayaan dan keintiman emosional dalam hubungan.
Beberapa contoh micro cheating adalah mengaku lajang, secara rahasia masih intens berkontak dengan mantan kekasih, masih menggunakan aplikasi kencan, intens berkontak dengan orang yang disukai dan selalu berusaha membuatnya kagum, dan secara rahasia intens bertemu dengan lawan jenis.
Trauma reenactment
Ada beberapa alasan mengapa korban perselingkuhan bisa menjadi pelaku perselingkuhan di hubungan selanjutnya. Simak jawaban pakar.
Dilansir dari Verywell Mind, trauma reenactment atau repetition compulsion adalah perilaku berulang atau pencarian pengalaman yang mencerminkan pengalaman masa lalu, termasuk trauma masa lalu.
Clement menduga, alasan lain korban perselingkuhan menjadi pelaku perselingkuhan adalah trauma reenactment, yang berkaitan dengan perasaan sakit hati.
“Sakit hati membuat kondisi psikologisnya menjadi kurang sehat. Karena kondisi psikologisnya kurang sehat, maka ada beberapa tendensi dia ingin menyembuhkan diri dari rasa sakitnya itu,” kata dia.
Ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan rasa sakit hati akibat diselingkuhi, termasuk melakukan perselingkuhan pada korban perselingkuhan yang “salah arah”.
“Dengan berselingkuh, mungkin membuat dia lebih ‘damai’ hatinya, perasaannya, pemikiran. Itu mekanisme yang juga bisa terjadi,” tutur Clement.
Balas dendam
Tidak semua laki-laki dan perempuan memutuskan hubungan ketika sudah diselingkuhi. Ada yang tetap bertahan karena berbagai alasan, seperti keluarga sudah saling mengenal, sudah tunangan, atau berpacaran atau menikah sudah cukup lama.
Clement mengamini bahwa alasan korban perselingkuhan untuk selingkuh dalam kasus tersebut adalah untuk meningkatkan ego, yang berkaitan dengan balas dendam.
“Meningkatkan ego itu salah satu motif selingkuh juga, balas dendam ke si pasangan bahwa, ‘Enggak enak lho diselingkuhi’. Kenapa balas dendam? Ya banyak faktor, tapi sering kali agar si pasangan tahu perasaan diselingkuhi itu enggak enak,” ujar dia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang