Mengenal Inasua, Kuliner Mirip Sashimi dari Teon Nila Serua Maluku
Di Maluku Tengah, tepatnya di Kecamatan Teon Nila Serua (TNS), ada kuliner mirip sashimi dengan rasa asin bernama inasua.
Kuliner berbahan ikan segar ini berperan penting dalam kehidupan masyarakat setempat, bahkan sudah masuk daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak tahun 2015, dilansir dari Antara, Selasa (21/4/2026).
Mengenal inasua, sashimi khas Maluku
Secara garis besar, inasua adalah ikan yang diawetkan dengan garam, tapi tidak melewati proses pengeringan. Hasilnya, ikan tetap terasa kenyal dan segar.
Proses pembuatannya membutuhkan ketelitian. Ikan segar harus dibersihkan, lalu dipotong-potong sesuai selera. Potongan ikan ini kemudian dilumuri dengan banyak garam.
Setelah diberi garam, ikan dimasukkan ke dalam wadah tertutup rapat agar tidak ada udara yang masuk selama beberapa hari. Masyarakat lokal sering menggunakan tempayan dari tanah liat.
Jika disimpan dengan benar, ikan ini awet hingga satu tahun. Hal ini menjadi solusi bagi pelaut masa lalu.
"Inasua juga ini dipersiapkan pada waktu pergantian musim, musim angin, musim ombak. Seng (tidak) bisa melaut," kata warga asli Nila, Maria Lakotani Marantika, yang saat ini menetap di Kokroman, Kecamatan Teon Nila Serua, Kabupaten Maluku Tengah.
Makanan leluhur masyarakat Teon Nila Serua
Peneliti Universitas Pattimura, Ferymon Mahulette, menyampaikan, inasua menjadi bekal untuk para leluhur masyarakat Teon Nila Serua yang harus berlayar ke Ambon guna menjajakan hasil bumi.
Pada waktu itu, berlayar ke Ambon memerlukan waktu sekitar satu bulan karena kapal harus menghadapi arus laut. Maka dari itu, mereka memerlukan makanan yang awet sepanjang perjalanan agar bisa bertahan hidup yaitu inasua.
Selain itu, inasua juga dibuat untuk menyimpan pasokan ikan yang berlebih saat musim melaut.
Bagaimana cara menyantap inasua?
Wilayah Teon Nila Serua, Maluku Tengah, punya kuliner khas mirip sashimi bernama inasua. Apa itu dan bagaimana rasanya?
Sebelum disantap atau diolah, inasua biasanya dibersihkan dari sisa-sisa garam menggunakan air beberapa kali. Masyarakat menyantap inasua bersama bahan-bahan lain, tergantung hasil bumi waktu itu.
Salah satu contohnya, inasua bisa disantap bersama sambal colo-colo berbahan cabai, tomat, bawang merah, dan kemangi.
Inasua juga bisa dikonsumsi bersama pepaya muda atau singkong rebus. Rasanya gurih dan agak asam, tapi tidak amis.
Ikan yang digunakan untuk inasua biasanya ikan babi atau ikan gindara yang berenang bebas di Laut Banda, tapi sulit ditangkap.
Oleh karena itu, masyarakat saat ini juga mengolah inasua dari ikan bobara, ikan kakatua, dan ikan ekor kuning.
Ferymon menyampaikan, teknik fermentasi dalam proses pembuatan inasua tidak hanya berperan untuk mengawetkan.
Ikan babi, lanjut dia, punya efek laksatif bila dimakan terlalu banyak sehingga teknik tersebut membantu meminimalisasi efek tersebut agar ikan lebih aman dimakan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang