Awas Ikan Asin Diberi Formalin yang Berbahaya, Ini 6 Cirinya

ikan asin, ikan asin berformalin, Awas Ikan Asin Diberi Formalin yang Berbahaya, Ini 6 Cirinya, 1. Tidak ada aroma ikan, 2. Teksturnya keras, 3. Warnanya putih pucat, 4. Dagingnya tipis, 5. Tahan terlalu lama, 6. Tidak dihinggapi lalat

Ikan asin menjadi salah satu bahan makanan favorit masyarakat Indonesia, terutama saat anggaran belanja menipis.

Meski sering dianggap sebagai makanan sederhana, ikan asin justru bisa diolah menjadi hidangan yang lezat dan menggugah selera. Pilihannya pun beragam, sehingga Anda bisa menyesuaikan jenis ikan asin dengan masakan yang ingin dibuat.

Namun, di balik kesederhanaannya, ada ancaman yang perlu diwaspadai. Beberapa pedagang nakal menggunakan formalin atau bahan kimia berbahaya lainnya agar ikan asin bisa bertahan lebih lama.

Padahal, konsumsi bahan-bahan tersebut dalam jangka panjang dapat membahayakan kesehatan.

Ciri-ciri ikan asin berformalin

Supaya tidak salah pilih, berikut ciri-ciri ikan asin berkualitas dan bebas formalin yang perlu Anda perhatikan saat membeli.

1. Tidak ada aroma ikan

Ikan asin yang baik memiliki aroma tajam dan sedikit menyengat. Ini adalah tanda alami dari proses pengasinan dan penjemuran.

Sebaliknya, ikan asin berformalin biasanya tidak memiliki aroma, karena formalin menekan bau khas ikan. Jika aromanya terlalu “tenang”, Anda patut curiga.

2. Teksturnya keras

Ikan asin yang diproses secara alami cenderung lebih rapuh dan mudah hancur saat disentuh. Ini karena garam dan proses pengeringan membuat tekstur ikan menjadi kering dan ringkih.

Ikan asin yang keras, alot, atau sulit dipatahkan justru berpotensi mengandung formalin karena bahan kimia tersebut membuat struktur daging mengeras.

3. Warnanya putih pucat

Ikan asin berkualitas baik tidak memiliki warna mencolok. Warnanya biasanya agak kusam, kecokelatan, atau menyesuaikan warna ikan aslinya.

Jika Anda menemukan ikan asin berwarna putih pucat, terlalu bersih, atau tampak memutih, bisa jadi produk tersebut telah dicampur formalin atau bahan pemutih lain.

4. Dagingnya tipis

Semakin tebal daging ikan asin, umumnya semakin baik pula kualitas ikannya. Ikan asin dengan daging tebal biasanya dibuat dari bahan ikan yang segar dan berkualitas.

Untuk jenis tertentu seperti teri nasi, pilih yang ukurannya lebih besar. Teri yang terlalu kecil cenderung lebih mudah hancur saat diolah.

5. Tahan terlalu lama

Ikan asin yang diproses tanpa bahan kimia tetap akan mengalami perubahan kualitas jika disimpan lama.

Jika ikan asin Anda berminggu-minggu tidak juga membusuk atau berubah warna, bisa jadi ada campuran bahan pengawet. Produk alami pasti memiliki batas ketahanan.

6. Tidak dihinggapi lalat

Keberadaan lalat justru menjadi tanda ikan asin tersebut alami dan tidak mengandung formalin. Lalat tertarik pada aroma ikan asin yang diproses tanpa bahan kimia.

Sebaliknya, jika ikan asin tampak bersih dari lalat, terutama di pasar tradisional, Anda perlu berhati-hati karena formalin bersifat mengusir serangga.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang