Ciri-ciri Ikan Asin Bebas Formalin, Biar Enggak Ketipu
Ikan asin adalah salah satu bahan makanan favorit banyak orang. Selain murah, rasanya yang khas membuatnya sering jadi andalan ketika tanggal tua tiba.
Meski dianggap sebagai makanan sederhana, ikan asin justru bisa diolah menjadi berbagai hidangan lezat yang menggugah selera.
Namun, di balik kelezatannya, ada risiko yang perlu diwaspadai. Beberapa pedagang nakal sering menambahkan bahan kimia berbahaya seperti formalin atau pengawet sintetis agar ikan tetap awet dalam waktu lama.
Konsumsi bahan kimia ini sangat berbahaya bagi kesehatan, terutama jika dikonsumsi terus-menerus.
Ciri ikan asin tanpa formalin
Agar tidak salah pilih, berikut ciri-ciri ikan asin bebas formalin yang wajib Anda perhatikan saat membeli.
1. Aromanya menyengat dan kurang sedap
Ikan asin berkualitas baik memiliki aroma khas yang cukup menyengat. Bau ini muncul karena proses pengawetan alami menggunakan garam serta penjemuran.
Sebaliknya, ikan asin berformalin cenderung tidak berbau, bahkan hampir tidak memiliki aroma sama sekali. Ketiadaan bau ini biasanya menjadi tanda bahwa ikan telah diberi bahan pengawet kimia.
2. Mudah hancur saat disentuh
Ikan asin yang diproses secara alami cenderung rapuh dan mudah hancur ketika ditekan. Ini tanda bahwa ikan telah mengalami proses pengeringan alami yang benar.
Ilustrasi ikan asin. Efek samping ikan asin.
Sementara itu, ikan asin yang keras, alot, dan tidak mudah hancur dapat menjadi indikasi adanya formalin. Bahan kimia ini membuat tekstur ikan menjadi kaku dan tahan lama.
3. Warnanya kurang menarik
Secara alami, ikan asin memiliki warna yang kusam atau cenderung gelap karena proses pengawetan tradisional.
Jika Anda menemukan ikan asin berwarna putih pucat, cerah, atau terlihat terlalu bersih, maka patut dicurigai. Warna semacam ini sering menjadi tanda adanya formalin atau bahan pemutih.
4. Daging ikan terlihat alami
Daging ikan asin yang baik biasanya tebal dan berasal dari ikan berkualitas. Semakin tebal dagingnya, biasanya harga ikan asin akan semakin tinggi—dan ini wajar.
Ikan asin jenis tertentu menjadi salah satu komoditas yang ikut naik usai banjir Sumatera. Ikan asin paling murah dijual seharga Rp 10.000 per ons dan dijajakan di pinggir Jalan Takengon?Isaq, Jumat (19/12/2025).
Untuk ikan kecil seperti teri nasi, pilih yang ukurannya sedikit lebih besar. Teri yang terlalu kecil biasanya lebih ringkih dan mudah hancur saat diolah, menandakan kualitasnya kurang baik.
5. Daya tahannya tidak terlalu lama
Ikan asin alami tetap bisa bertahan cukup lama, tetapi tetap akan berubah aroma atau tekstur setelah disimpan terlalu panjang.
Jika ikan asin tidak mengalami perubahan sama sekali meski sudah lama disimpan, itu bisa menjadi pertanda bahwa ikan tersebut mengandung bahan pengawet kimia tambahan.
6. Ada lalat yang hinggap
Di pasar tradisional, keberadaan lalat sering dianggap sebagai tanda makanan tidak higienis. Namun untuk ikan asin, lalat justru menjadi indikator baik.
Lalat tertarik pada aroma khas ikan asin. Sementara ikan asin yang tidak dihinggapi lalat sama sekali justru patut dicurigai karena lalat biasanya menghindari bahan yang mengandung formalin atau zat kimia lainnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang