Top 6+ Ciri Ikan Asin yang Bebas Formalin, Jangan Sampai Tertipu
Ikan asin adalah salah satu bahan makanan favorit banyak orang. Selain rasanya gurih dan cocok dipadukan dengan berbagai hidangan, ikan asin juga sering menjadi pilihan saat anggaran menipis.
Meski sering dianggap sebagai makanan sederhana, ikan asin yang berkualitas sebenarnya bisa menghadirkan masakan yang sangat menggugah selera.
Proses pembuatan ikan asin secara alami dilakukan dengan cara menjemur dan mengawetkan ikan menggunakan garam. Namun, tak sedikit oknum nakal yang menambahkan bahan kimia seperti formalin agar produk mereka tampak lebih awet dan menarik.
Padahal, penggunaan formalin sangat berbahaya bagi kesehatan, terutama jika dikonsumsi dalam jangka panjang.
Cara pilih ikan asin yang bebas formalin
Agar tidak tertipu saat membeli, perhatikan beberapa ciri berikut untuk memastikan ikan asin yang kamu pilih benar-benar bebas formalin dan bahan kimia berbahaya.
1. Aroma khas ikan asin jelas
Ikan asin berkualitas baik akan mengeluarkan aroma menyengat yang khas—kadang memang terkesan kurang sedap.
Justru inilah tanda bahwa ikan asin tersebut diproses secara alami. Sebaliknya, ikan asin berformalin cenderung tidak berbau sama sekali karena bau alami ikan telah “dikunci” oleh bahan kimia.
2. Tekstur mudah hancur
Saat disentuh atau ditekan, ikan asin yang dibuat dengan cara alami biasanya mudah hancur atau rapuh. Ini menunjukkan bahwa ikannya dikeringkan secara tradisional tanpa bahan pengeras.
Ilustrasi ikan asin jambal yang biasa dijual dalam potongan persegi.
Ikan asin berformalin justru bertekstur keras, alot, dan tidak mudah patah karena efek pengawetnya.
3. Warna tidak terlalu menarik
Ikan asin yang sehat biasanya memiliki warna yang cenderung kusam atau tidak terlalu cerah. Jika kamu menemukan ikan asin berwarna putih pucat, sangat bersih, atau tampak terlalu menarik, bisa jadi produk tersebut mengandung formalin atau bahan pemutih.
4. Perhatikan ketebalan dagingnya
Semakin tebal daging ikan asin, biasanya semakin baik kualitas ikannya—dan tentu saja lebih mahal.
Daging tebal menandakan bahwa ikan segar digunakan dalam proses pengasinan. Khusus untuk jenis teri, pilih yang ukurannya sedikit lebih besar. Teri yang terlalu kecil lebih rapuh dan mudah hancur ketika dimasak.
5. Ketahanan yang terlalu lama bisa jadi tanda bahaya
Ikan asin yang disimpan lama namun tidak kunjung busuk patut dicurigai. Ikan asin alami tetap memiliki batas ketahanan tertentu.
Ilustrasi ikan asin. Efek samping ikan asin.
Jika tahan sangat lama tanpa perubahan bau atau tekstur, kemungkinan besar ikan tersebut diberi pengawet kimia.
6. Lalat justru jadi petunjuk alami
Melihat lalat hinggap di ikan asin sering membuat calon pembeli ragu. Padahal, lalat tertarik pada aroma ikan asin alami.
Ikan asin yang tidak dihinggapi lalat meski dipajang di ruang terbuka bisa menandakan adanya formalin atau bahan kimia lain yang membuat lalat menghindar.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.