3 Kebiasaan yang Bikin Tetap Kesepian meski Punya Pacar

kesepian, 3 Kebiasaan yang Bikin Tetap Kesepian meski Punya Pacar

Menjalin hubungan asmara seharusnya memberikan rasa kebersamaan yang utuh. Ikatan ini sejak awal dibangun untuk saling menemani, dan menjadi sandaran dalam berbagai keadaan.

Namun pada kenyataannya, banyak orang justru merasa lebih terisolasi dan kesepian meskipun punya pacar. Hal ini sering kali bukan disebabkan oleh masalah besar, melainkan akibat kebiasaan kecil yang tidak disadari.

"Ketiadaan penyebab yang jelas adalah apa yang membuat pengalaman ini sangat membingungkan. Hubungan tersebut mungkin terlihat fungsional dan penuh kasih sayang dalam banyak hal," kata psikolog Mark Travers dalam tulisannya di Forbes, disadur ada Selasa (14/4/2026).

"Namun terlepas dari hal ini, pasangan mungkin masih mengalami perasaan terus-menerus bahwa ada sesuatu yang penting yang hilang," lanjut dia.

Kesepian ini umumnya bukan berasal dari niat buruk. Masalah ini lebih sering muncul dari perilaku berulang yang terus menggerus kedekatan.

Berikut ragam penyebab seseorang merasa kesepian saat menjalani hubungan.

Penyebab kesepian dalam hubungan

1. Mengabaikan pasangan demi bermain HP

Setelah hari yang panjang di kantor tentu yang diinginkan adalah menikmati waktu berkualitas dengan pasangan, tetapi matanya justru tertuju pada layar gawai. Walau secara fisik dekat, perhatiannya jelas telah terfokus ke tempat lain.

"Meskipun tidak ada konflik yang nyata, interaksi tersebut bisa membuat perasaan jadi 'kempis' atau patah semangat. Fenomena ini dikenal dengan istilah phubbing (phone dan snubbing), yaitu kondisi saat seseorang lebih sibuk dengan ponselnya daripada mempedulikan lawan bicaranya," terang Travers.

kesepian, 3 Kebiasaan yang Bikin Tetap Kesepian meski Punya Pacar

Ilustrasi scrolling Instagram

Sebuah penelitian pada tahun 2023 menunjukkan, pengabaian semacam ini berkaitan erat dengan rasa kesepian dan penurunan kepuasan hidup.

Bahayanya terletak pada batasan yang kabur. Meski bukan pertengkaran terbuka, hal ini memicu tumpukan kekesalan kecil yang sering tidak disadari oleh pelakunya.

"Perhatian adalah bentuk 'mata uang' dalam hubungan romantis. Diperhatikan berarti diakui. Jika seseorang merasa seolah-olah perhatian itu berulang kali dialihkan, itu dapat membuat pasangan percaya bahwa mereka tidak sepenting apa yang ada di layar," lanjut dia.

Kebanyakan orang melakukan ini tanpa niat menyakiti, melainkan karena sudah menjadi refleks rutinitas. Sayangnya, ikatan dibentuk oleh dampak yang dirasakan, bukan sekadar niat.

2. Menutup diri saat konflik

Saat menghadapi perselisihan, ketegangan bisa memuncak hingga salah satu pihak menarik diri sepenuhnya. Misalnya bersikap cuek, menghindari kontak mata, atau pergi meninggalkan ruangan.

"Bagi pihak yang melakukannya, ini mungkin bentuk pertahanan diri karena kewalahan dan tidak yakin harus berkata apa selanjutnya. Diam bisa terasa jauh lebih aman daripada mengatakan hal yang salah. Tetapi bagi orang yang menerimanya, pengalamannya sangat berbeda," terang Travers.

Menurut dia, pola penutupan emosi ini sangat merusak fondasi komunikasi dalam sebuah komitmen dan sering menjadi pemicu utama keretakan hubungan.

Menolak berkomunikasi akan merusak harapan dasar akan tanggapan. Saat seseorang berusaha menyelesaikan masalah tetapi disambut dengan keheningan, wajar jika ia merasa ditolak mentah-mentah.

"Jika diulang cukup sering, pasangan mungkin berhenti menjangkau atau memulai percakapan sama sekali demi menghindari kemungkinan ditinggalkan. Bukan karena cinta mereka telah hilang, melainkan karena rasanya tidak aman untuk mengungkapkannya," ucap Travers.

3. Kebiasaan mendengar yang buruk

Bayangkan sebuah percakapan yang mana kamu bercerita dan pasanganmu hanya menyimak sambil mengangguk.

Begitu ceritamu selesai, ia langsung berbicara tentang dirinya tanpa menanggapi apa yang baru saja kamu sampaikan.

Dalam ilmu kejiwaan, ungkap Travers, pendengar yang buruk akan dianggap tidak tulus meskipun tak punya niat jahat.

Menyimak bukanlah tindakan pasif, melainkan bentuk kepekaan dalam memahami dan memvalidasi perasaan pasangannya.

"Dalam konteks romantis, konsekuensi dari hal ini sangat terasa karena merasa didengar adalah salah satu jalan utama untuk membangun dan mempertahankan keintiman," jelas dia.

Menyimak dengan baik adalah bentuk kehadiran yang menandakan investasi emosional. Kebiasaan mendengar yang buruk akan membuat pasangan terkesan tidak tertarik dengan ucapan, atau lebih parahnya, tidak memedulikan kamu sebagai individu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang