Bukan Cuma Safe Haven, Ini 5 Tren yang Bikin Emas Tetap Cuan di 2026
Kinerja emas sepanjang 2025 tergolong luar biasa. Di tengah ketidakpastian global, ketegangan geopolitik, aksi beli bank sentral, pemangkasan suku bunga, hingga pelemahan mata uang, membuat logam mulia ini kembali menegaskan posisinya sebagai aset lindung nilai utama dunia.
Lonjakan harga emas membuat banyak investor kembali menempatkannya sebagai pilar penting dalam strategi investasi jangka panjang.
Namun, setelah reli tajam tersebut, muncul pertanyaan besar, apakah emas masih akan bersinar di 2026? Sejumlah analis menilai jawabannya cenderung positif. Meski potensi kenaikan mungkin tidak seagresif 2025, emas diperkirakan tetap menjadi pembangun kekayaan yang andal, terutama di tengah risiko ekonomi dan geopolitik yang belum sepenuhnya mereda.
Sepanjang 2025, harga spot emas internasional mencapai puncak di US$4.550,10 per ons atau setara Rp75,99 juta pada 29 Desember. Angka tersebut mencerminkan kenaikan sekitar 42 persen secara year-to-date dari level US$2.638,74 atau setara Rp44,07 juta.
Dari sisi kapitalisasi pasar, emas kini menjadi aset paling bernilai di dunia dengan nilai sekitar US$30,48 triliun atau setara Rp509.016 triliun. Lantas, faktor apa saja yang akan memengaruhi pergerakan harga emas di 2026? Berikut informasi selengkapnya sebagaimana dirangkum dari Money Control, Jumat, 2 Januari 2026.
Harga Emas, Logam Mulia
1. Siklus Suku Bunga Global
Ross Maxwell, Global Strategy Operations Lead di VT Markets, menilai harga emas pada 2026 akan lebih dipengaruhi faktor stabilitas jangka panjang ketimbang spekulasi jangka pendek. Ia mengatakan bahwa emas akan digerakkan oleh kombinasi kebijakan moneter, geopolitik, dan struktur ekonomi global.
Menurut Maxwell, suku bunga global akan tetap menjadi faktor utama. Penurunan suku bunga riil dapat mengurangi opportunity cost memegang emas dan mendorong permintaan. Sebaliknya, suku bunga riil yang tinggi berpotensi membatasi kenaikan harga. Ia menilai pergerakan emas tahun depan cenderung lebih bertahap, tidak seledak reli pada 2025.
2. Risiko Inflasi dan Pelemahan Mata Uang
Meski inflasi global menunjukkan tanda-tanda melandai, risiko inflasi belum sepenuhnya hilang. Maxwell menyebut bahwa kekhawatiran terhadap erosi nilai mata uang tetap membuat investor mencari perlindungan.
Ia menilai emas masih relevan sebagai pelindung nilai ketika kepercayaan terhadap mata uang fiat melemah, terutama jika bank sentral kembali melonggarkan kebijakan atau likuiditas global meningkat.
3. Lonjakan Utang Pemerintah
Tingkat utang pemerintah global menjadi perhatian serius. Defisit fiskal yang membengkak dapat menggerus kepercayaan terhadap mata uang dan memperkuat peran emas sebagai penyimpan nilai jangka panjang.
Maxwell menekankan bahwa meningkatnya beban utang negara-negara besar akan terus menjadi penopang struktural bagi harga emas, terlepas dari fluktuasi jangka pendek pasar.
4. Ketegangan Geopolitik dan Risiko Finansial
Emas kembali menegaskan perannya sebagai aset safe haven ketika ketegangan global meningkat. Konflik geopolitik, perang dagang, dan instabilitas politik cenderung mendorong investor beralih ke aset yang dianggap aman.
Selain itu, risiko finansial seperti tekanan di sektor perbankan, volatilitas pasar mendadak, atau lonjakan utang juga dapat memicu arus dana ke emas. Bank sentral pun diperkirakan melanjutkan strategi menambah cadangan emas guna mengurangi ketergantungan pada mata uang asing.
5. Permintaan Fisik dan Keterbatasan Pasokan
Perubahan permintaan dari negara berkembang, dikombinasikan dengan lambatnya pengembangan tambang baru, turut memengaruhi pasar emas fisik. Keterbatasan pasokan ini dapat menjadi faktor pendukung harga, terutama jika permintaan tetap kuat.
Emas vs Perak di 2026
Maxwell berpendapat emas akan memberikan kinerja yang lebih konsisten dibandingkan perak pada 2026. Ia menyebut emas diuntungkan oleh ketidakpastian makroekonomi, tingginya utang pemerintah, dan perubahan kebijakan bank sentral.
Sementara itu, perak memang memiliki potensi kenaikan lebih besar saat ekonomi global tumbuh kuat karena faktor permintaan industri. Namun, perak juga lebih rentan saat perlambatan ekonomi terjadi. Karena itu, emas dinilai lebih rasional sebagai pilihan defensif di tengah kondisi global yang belum stabil.
Proyeksi Harga Emas 2026
Menurut Maxwell, harga emas pada 2026 cenderung bergerak dalam rentang lebar, bukan tren satu arah. Ia memperkirakan harga emas berada di kisaran US$3.900–US$5.000 per ons, atau setara Rp65,13 juta hingga Rp83,50 juta per ons. Tekanan geopolitik atau risiko finansial yang meningkat bahkan berpotensi mendorong harga ke level lebih tinggi. Ia menegaskan bahwa emas sebaiknya diposisikan sebagai lindung nilai strategis, bukan instrumen spekulasi jangka pendek.
“Emas akan bekerja paling baik dalam portofolio yang terdiversifikasi, membantu mengelola risiko saat volatilitas meningkat. Fokuslah pada tujuan jangka panjang dan lihat peran emas sebagai perlindungan, bukan peluang keuntungan cepat,” ujarnya.