Kebiasaan Gen Z Ini Bikin Milenial Stres, dari Komunikasi hingga Medsos

generasi milenial, Gen Z, kesehatan mental, Kebiasaan Gen Z Ini Bikin Milenial Stres, dari Komunikasi hingga Medsos, Perbedaan gaya komunikasi jadi tantangan, Bahasa psikologi sering digunakan secara luas, Media sosial jadi sumber utama informasi, Ekspresi di media sosial lebih terbuka, Perbedaan sikap terhadap pekerjaan dan kehidupan, Gaya hidup digital yang semakin intens, Perbedaan generasi memunculkan perspektif baru

Perbedaan gaya hidup antara Gen Z dan milenial kini semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Mulai dari cara berkomunikasi hingga kebiasaan di media sosial, keduanya kerap memiliki pendekatan yang berbeda.

Hal ini bahkan bisa memicu rasa bingung hingga stres, terutama bagi generasi milenial.

Perbedaan gaya komunikasi jadi tantangan

Salah satu perbedaan yang paling terasa adalah cara berkomunikasi. Sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi digital, Gen Z dinilai lebih terbiasa berinteraksi secara online dibandingkan langsung.

Hal ini membuat komunikasi tatap muka terkadang terasa kurang lancar.

“Gen Z adalah digital natives dan bisa kesulitan menerjemahkan kemampuan itu ke interaksi langsung,” ujar pengamat Millennial Mia, dikutip dari HuffPost, (15/4/2026).

Bahasa psikologi sering digunakan secara luas

generasi milenial, Gen Z, kesehatan mental, Kebiasaan Gen Z Ini Bikin Milenial Stres, dari Komunikasi hingga Medsos, Perbedaan gaya komunikasi jadi tantangan, Bahasa psikologi sering digunakan secara luas, Media sosial jadi sumber utama informasi, Ekspresi di media sosial lebih terbuka, Perbedaan sikap terhadap pekerjaan dan kehidupan, Gaya hidup digital yang semakin intens, Perbedaan generasi memunculkan perspektif baru

Ilustrasi Gen Z. Perbedaan cara berkomunikasi hingga penggunaan media sosial membuat sejumlah kebiasaan Gen Z dinilai membingungkan hingga memicu stres bagi generasi milenial.

Penggunaan istilah psikologi juga menjadi perhatian. Psikiater dr. Jessi Gold menyebut bahwa Gen Z semakin terbuka dalam membicarakan kesehatan mental.

Namun, di sisi lain, istilah seperti “triggered” atau “narcissism” kerap digunakan tanpa pemahaman yang tepat.

“Saya sering menemui pasien yang merasa memiliki kondisi tertentu karena informasi dari media sosial,” ujarnya.

Media sosial jadi sumber utama informasi

Laporan tersebut juga menyoroti kebiasaan Gen Z yang banyak mengonsumsi informasi dari media sosial.

Beberapa milenial menilai hal ini berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, terutama jika informasi yang diterima tidak berbasis data yang kuat.

Kebiasaan ini dinilai memengaruhi cara Gen Z memahami berbagai isu.

Ekspresi di media sosial lebih terbuka

Gen Z juga dikenal lebih terbuka dalam membagikan pengalaman pribadi di media sosial. Beberapa bahkan membagikan pengalaman sulit atau traumatis secara publik.

Menurut dr. Jessi Gold, hal ini bisa berdampak jika dilakukan sebelum seseorang siap secara emosional.

“Terkadang orang merasa harus membagikan segalanya untuk dianggap autentik,” jelasnya.

Perbedaan sikap terhadap pekerjaan dan kehidupan

Dalam dunia kerja, Gen Z dinilai lebih tegas dalam menetapkan batasan. Mereka cenderung menekankan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Namun, sebagian milenial melihat sikap ini sebagai sesuatu yang berbeda dari pola kerja sebelumnya.

Perbedaan ini menunjukkan adanya perubahan nilai dalam dunia profesional.

Gaya hidup digital yang semakin intens

Kedekatan Gen Z dengan media sosial juga menjadi sorotan. Beberapa pihak menilai intensitas penggunaan media sosial yang tinggi dapat terasa berlebihan.

Kebiasaan membagikan aktivitas sehari-hari secara langsung menjadi hal yang umum di kalangan Gen Z.

Hal ini mencerminkan perubahan cara berinteraksi di era digital.

Perbedaan generasi memunculkan perspektif baru

Meski memicu perbedaan, kebiasaan Gen Z juga membawa perubahan dalam banyak aspek kehidupan.

Mulai dari keterbukaan dalam membahas kesehatan mental hingga cara berkomunikasi yang lebih fleksibel. Perbedaan ini menciptakan dinamika baru antara generasi.

Dengan memahami perbedaan tersebut, interaksi antar generasi dapat berjalan lebih baik.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang