Awas! 7 Kebiasaan Ini Bisa Bikin Berat Badan Naik saat Ramadhan
Bulan Ramadhan sering dianggap sebagai momen yang tepat untuk menurunkan berat badan. Pola puasa dari fajar hingga magrib dinilai mampu membantu mengontrol asupan kalori dan memperbaiki metabolisme tubuh.
Namun pada kenyataannya, tidak sedikit orang justru mengalami berat badan naik saat Ramadhan. Kondisi ini kerap menimbulkan kebingungan, karena secara teori waktu makan menjadi lebih terbatas. Scroll untuk baca info lebih lanjut...
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa puasa Ramadhan tidak otomatis menyebabkan penurunan berat badan. Faktor utama yang menentukan perubahan berat badan adalah total asupan kalori, kualitas makanan, pola tidur, serta tingkat aktivitas fisik selama bulan puasa.
Jika kebiasaan yang dijalani justru mendorong konsumsi energi berlebih dan minim pembakaran kalori, maka kenaikan berat badan sangat mungkin terjadi. Melansir dari PMC, berikut ini beberapa kebiasaan yang bikin berat badan naik saat Ramadhan.
1. Makan Berlebihan Saat Berbuka Puasa
Setelah menahan lapar dan haus seharian, Anda mungkin terdorong untuk membalasnya dengan makan dalam porsi besar saat berbuka. Studi yang dipublikasikan di jurnal melalui National Institutes of Health menunjukkan bahwa sebagian individu justru mengalami peningkatan total asupan kalori selama Ramadhan karena makan berlebihan saat iftar. Jika jumlah kalori yang masuk melebihi kebutuhan harian, berat badan akan naik meskipun Anda berpuasa.
2. Konsumsi Makanan Tinggi Lemak dan Gula
Ramadhan identik dengan gorengan, makanan bersantan, serta aneka kue dan hidangan manis. Penelitian yang dimuat dalam jurnal di Frontiers menemukan adanya peningkatan konsumsi makanan tinggi gula dan lemak selama bulan puasa di beberapa negara. Kombinasi lemak dan gula yang tinggi dapat meningkatkan simpanan lemak tubuh jika dikonsumsi secara rutin.
3. Minuman Manis saat Berbuka
Takjil seperti sirup, minuman bersoda, dan jus dengan tambahan gula sering menjadi pilihan utama saat berbuka. Padahal, minuman tinggi gula memberikan kalori besar tanpa rasa kenyang yang bertahan lama. World Health Organization, mengingatkan bahwa konsumsi gula berlebih selama Ramadhan dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan dan gangguan metabolik.
4. Aktivitas Fisik Menurun
Sebagian orang mengurangi olahraga karena merasa lemas saat berpuasa. Padahal, penurunan aktivitas fisik berarti pembakaran kalori juga ikut menurun. Jika asupan makanan tetap tinggi sementara aktivitas rendah, surplus energi akan disimpan dalam bentuk lemak.
5. Perubahan Pola Tidur
Ramadhan sering membuat jam tidur berubah, misalnya tidur larut setelah tarawih atau bangun lebih awal untuk sahur. Kurang tidur dapat memengaruhi hormon pengatur rasa lapar seperti ghrelin dan leptin. Ketidakseimbangan hormon ini bisa meningkatkan nafsu makan dan mendorong Anda makan lebih banyak saat malam hari.
6. Pola Makan Tidak Seimbang Saat Sahur
Sebagian orang hanya mengonsumsi makanan praktis yang tinggi karbohidrat sederhana saat sahur. Padahal, asupan yang kurang protein dan serat membuat Anda cepat lapar dan cenderung makan berlebihan saat berbuka.
7. Menganggap Puasa Otomatis Membakar Lemak
Banyak orang merasa bebas makan apa saja karena sudah berpuasa seharian. Padahal, puasa bukan jaminan defisit kalori. Jika dalam dua waktu makan Anda justru mengonsumsi kalori lebih besar daripada hari biasa, berat badan bisa bertambah.
Secara ilmiah, kenaikan berat badan saat Ramadhan lebih dipengaruhi oleh pola hidup dibandingkan praktik puasanya itu sendiri. Dengan mengontrol porsi makan, membatasi gula dan lemak, menjaga kualitas tidur, serta tetap aktif bergerak, Anda dapat menjaga berat badan tetap stabil selama bulan suci.