Cuaca Ekstrem Setelah Lebaran 2026 Picu Rentetan Bencana di Majalengka

BPBD Majalengka, Cuaca Ekstrem Setelah Lebaran 2026 Picu Rentetan Bencana di Majalengka

 Hujan deras yang mengguyur wilayah selatan Kabupaten Majalengka pada Senin malam (23/3/2026) memicu serangkaian bencana alam.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 25 titik longsor yang tersebar di 11 desa, dengan konsentrasi terbanyak berada di Kecamatan Lemahsugih.

Tidak hanya longsor, bencana lain juga turut terjadi. Mulai dari pergerakan tanah di sejumlah titik, banjir bandang di Desa Margajaya, hingga satu rumah warga yang tersambar petir di Blok Pasir Cabe, Desa Sinargalih.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka, Agus Tamim, mengatakan tim langsung diterjunkan ke lapangan setelah menerima laporan dari pemerintah desa dan relawan.

“Setelah menerima laporan dari pemerintah desa dan relawan, kami langsung menerjunkan tim ke lapangan untuk melakukan kaji cepat. Saat ini pendataan masih terus dilakukan untuk memastikan jumlah titik terdampak serta kebutuhan mendesak warga,” katanya dikutip dari Antara.

Apa yang menyebabkan wilayah selatan Majalengka rawan longsor?

Menurut Agus, kawasan selatan Majalengka memang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana longsor. Kondisi geografis berupa lereng perbukitan yang labil, ditambah intensitas hujan tinggi dalam waktu lama, menjadi faktor utama pemicu longsor.

“Wilayah selatan Majalengka memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi terhadap bencana longsor, terutama ketika curah hujan meningkat dalam waktu lama,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat yang tinggal di daerah rawan, khususnya di lereng dan bantaran sungai, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan.

“Kami mengimbau masyarakat yang berada di daerah rawan, khususnya di lereng dan bantaran sungai, agar meningkatkan kewaspadaan. Jika terjadi tanda-tanda pergerakan tanah seperti retakan atau suara gemuruh, segera mengungsi ke tempat yang lebih aman,” katanya.

Rangkaian bencana ini tidak hanya berdampak pada permukiman warga, tetapi juga mengganggu infrastruktur dan aktivitas sehari-hari. Sejumlah jalan desa dilaporkan tertutup material longsor sehingga akses transportasi warga sempat terhambat.

Beberapa ruas jalan yang terdampak di antaranya Jalan Ciranca serta jalur Padarek–Kalapadua. Penutupan akses ini membuat mobilitas warga dan distribusi logistik terganggu untuk sementara waktu.

Bagaimana upaya penanganan yang dilakukan?

BPBD Majalengka bersama Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR), TNI, dan Polri terus melakukan penanganan darurat di lapangan. Pembersihan material longsor dilakukan dengan menggunakan alat berat di sejumlah titik.

“Tim BPBD, Dinas PUTR dibantu TNI-Polri melakukan perbaikan di beberapa titik yang terkena longsoran dengan menggunakan alat berat, seperti di Jalan Ciranca dan ruas Padarek-Kalapadua,” jelas Agus.

Selain pembersihan material, tim gabungan juga melakukan pendataan kerusakan serta menyalurkan bantuan bagi warga terdampak.

Apakah ada korban jiwa akibat bencana ini?

Meski kerusakan terjadi di sejumlah titik, BPBD memastikan hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa akibat rangkaian bencana tersebut.

Namun demikian, pemantauan terus dilakukan mengingat potensi bencana susulan masih mungkin terjadi.

Agus menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengoptimalkan penanganan di lapangan, sekaligus memperbarui data kerusakan dan kebutuhan warga secara berkala.

“Pendataan terus dilakukan untuk memastikan jumlah titik terdampak serta kebutuhan mendesak warga di lokasi bencana,” katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang