Cuaca Ekstrem, Seluruh Jalur Pendakian Gunung Slamet via Guci Ditutup Sementara

cuaca ekstrem, Gunung Slamet, Guci, Cuaca Ekstrem, Seluruh Jalur Pendakian Gunung Slamet via Guci Ditutup Sementara

Seluruh jalur pendakian Gunung Slamet yang berada di kawasan DTW Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, ditutup sementara untuk umum.

Penutupan dilakukan menyusul kondisi cuaca ekstrem dengan curah hujan tinggi yang masih terjadi.

Keputusan tersebut disampaikan pihak pengelola pada akhir Januari 2026. Penutupan diberlakukan hingga batas waktu yang belum ditentukan demi keselamatan pendaki.

Administratur/Kepala KPH Pekalongan Barat melalui Wakil Administratur Triyono mengatakan, penutupan jalur pendakian Gunung Slamet via Guci dilakukan sebagai langkah antisipasi risiko bencana.

Selain cuaca ekstrem, penutupan juga dipicu oleh terjadinya banjir bandang kedua di kawasan Guci pada Sabtu (24/1/2026).

Tiga Jalur Pendakian Gunung Slamet Via Guci Ditutup

Menurut Triyono, terdapat tiga jalur pendakian Gunung Slamet yang berada di kawasan Guci, yakni Permadi, Kompak, dan Gupala.

"Semuanya merupakan jalur pendakian Gunung Slamet via Guci yang dikelola oleh kelompok pecinta alam setempat," jelasnya kepada Tribunjateng.com.

Selain itu, terdapat satu jalur pendakian Gunung Slamet lainnya melalui Dukuh Sawangan, Desa Sigedong, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, bernama Bosapala.

"Semua jalur pendakian Gunung Slamet khususnya di kawasan Guci ada tiga yakni Permadi, Kompak dan Gupala sementara waktu tutup. Memang belum ada konfirmasi secara langsung, tapi kami dapat informasi yang ada di lapangan jalur pendakian sementara tutup," jelas Triyono.

Pendaki Sempat Dievakuasi Akibat Banjir Bandang

Triyono menjelaskan, beberapa waktu sebelumnya sempat viral video yang memperlihatkan sejumlah pendaki nekat melakukan pendakian di tengah cuaca ekstrem.

Akibatnya, para pendaki tersebut harus dievakuasi dari pos tiga dan empat karena terjebak banjir bandang.

Pada saat itu, banjir bandang kedua kembali terjadi sehingga evakuasi harus segera dilakukan.

"Jadi pendaki nekat naik (muncak Gunung Slamet) kemudian terjadi banjir bandang kedua dan langsung dilakukan evakuasi. Berapa orang pendaki saya tidak mengetahui secara pasti karena tidak dapat laporan. Mengingat laporan langsung disampaikan ke pusat yakni PT Perhutani Alam Wisata atau dikenal sebagai PT Palawi Risorsis," terang Triyono.

Selain banjir bandang, longsor juga dilaporkan terjadi di Jalur Pendakian Permadi Guci. Laporan kejadian tersebut disampaikan langsung ke pusat PT Palawi Risorsis dan diteruskan kepada pihak KPH Pekalongan Barat.

Triyono menyebutkan, longsor terjadi di pos tiga dan empat jalur pendakian tersebut.

"Kondisi saat ini jalur pendakian Gunung Slamet khususnya Permadi Guci tertutup longsor, maka dari itu sementara ditutup demi keamanan bersama," ujar Triyono.

cuaca ekstrem, Gunung Slamet, Guci, Cuaca Ekstrem, Seluruh Jalur Pendakian Gunung Slamet via Guci Ditutup Sementara

Garis polisi terpasang di TWA Pancuran 13 usai rusak dilanda banjir bandang Sungai Gung di kawasan wisata Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Sabtu (24/1/2026)

Kesaksian Warga Saat Banjir Bandang Terjang Kawasan Guci

Salah satu saksi mata banjir bandang di kawasan Guci, Suripno, menceritakan kondisi sebelum bencana terjadi. Ia mengaku meninjau aliran Sungai Gung di dekat jalur pendakian Gunung Slamet via Permadi Guci pada Jumat (23/1/2026) sekitar pukul 23.30 WIB.

Saat itu, ia melihat bekas rumah warga yang sebelumnya terdampak banjir telah bergeser terbawa arus, termasuk bangunan glamping di sekitar lokasi.

Suripno kemudian menuju jembatan Curug Jedor dan Pancuran 13, yang saat itu masih berdiri.

Melihat masih ada warga di sekitar jembatan Pancuran 13, ia meminta mereka menjauh karena kondisi dinilai berbahaya.

Ia kembali ke arah jembatan Curug Jedor dan melihat tiga batang kayu besar tertahan di jembatan.

Tak lama kemudian, kayu-kayu tersebut terseret arus bersamaan dengan jembatan yang ikut terbawa banjir.

"Saya dan teman menjadi saksi melihat jembatan di Curug Jedor hilang terbawa arus banjir bandang. Saya kemudian kembali ke Pancuran 13 dan 5 ternyata jembatan sudah tidak ada. Saya pulang ke rumah mengabari warga untuk bangun dan siaga dari RT 01, 02 dan 03 Desa Guci,” ujarnya.

Ia juga menceritakan datangnya banjir susulan yang menerjang kawasan tersebut.

“Selain itu juga terjadi longsor tepatnya saat banjir susulan kedua pada Sabtu (24/1/2026) dini hari sekitar pukul 01.30 WIB. Suara gemuruh air dan longsor terdengar sampai ke permukiman warga padahal jaraknya sekitar 250 meter," ungkap Suripno.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang