Rumah Roboh akibat Angin Kencang di Lampung, BMKG Ungkap Potensi Cuaca Ekstrem

Hujan deras dan angin kencang memporak-porandakan sejumlah rumah dan warung warga di Kecamatan Selagai Lingga, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung, pada Minggu (22/2/2026) malam.
Camat Selagai Lingga, Samsul Arif mengungkap, hujan deras dan angin kencang mengguyur wilayahnya selama kurang lebih 3 jam.
"Selesai shalat isya saya mendapatkan informasi ada korban dari angin puting beliung. Salah satunya ini yang cukup parah, rumah rata dengan tanah," paparnya dalam tayangan KompasTV, Minggu.
Menurut Samsul Arif, angin kencang di Lampung Tengah merobohkan rumah dan warung warga.
"Tak ada korban jiwa, hanya korban materi saja," sambungnya.
Sementara itu, warga yang terdampak bencana angin kencang berharap pemerintah dapat memberikan bantuan untuk memperbaiki rumah mereka yang rusak.
Penyebab angin kencang
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Lampung mengungkap ada tiga faktor utama yang saling berkombinasi hingga memicu angin kencang di sejumlah wilayah Lampung dalam beberapa hari terakhir.
"Pertama, angin Monsun Asia atau Monsun Barat sedang menguat. Angin dingin dari daratan Asia menuju Australia ini melewati perairan Indonesia yang hangat sehingga membawa massa udara basah dalam jumlah besar," ujar Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Lampung Rudi Harianto, dilansir dari Tribun, Senin (23/2/2026).
Kedua, adalah pola pertemuan angin (konvergensi) dan belokan angin di sekitar Sumatera bagian selatan, yang meningkatkan gradien tekanan udara yang berdampak pada kecepatan angin di wilayah Lampung dan sekitarnya menjadi lebih kencang dari biasanya.
Kemudian, terakhir, adalah adanya fenomena downdraft akibat pertumbuhan awan Cumulonimbus. Tingginya kandungan uap air memicu terbentuknya awan hujan berukuran besar.
Saat hujan lebat turun, embusan angin kencang dari awan tersebut langsung menghantam permukaan daratan.
Prakiraan cuaca hingga 25 Februari 2026
BMKG Lampung juga merilis prakiraan cuaca tiga harian yang berlaku mulai 23 hingga 25 Februari 2026, agar masyarakat bisa waspada terhadap potensi cuaca ekstrem.
Berdasarkan analisis dinamika atmosfer, Indeks ENSO di Nino 3.4 saat ini bernilai 0,77 atau dalam kategori normal, namun tetap berpengaruh terhadap pertumbuhan awan konvektif di sebagian wilayah Indonesia.
Sementara itu, fenomena Madden Julian Oscillation (MJO) berada pada fase 2 (Indian Ocean) yang turut berkontribusi terhadap proses pembentukan awan hujan.
Kelembapan udara yang tinggi di seluruh lapisan atmosfer wilayah Lampung semakin menambah suplai uap air dan mendukung peningkatan pertumbuhan awan hujan.
Secara umum, dalam tiga hari ke depan, wilayah Lampung diprakirakan mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.
Meski begitu, terdapat potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan/atau angin kencang terutama pada siang, sore hingga malam hari.
Berikut wilayah yang berpotensi terdampak hujan sedang hingga lebat:
23 Februari 2026
Lampung Selatan, Kota Bandar Lampung, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Lampung Barat, Way Kanan, Lampung Tengah, dan Lampung Timur.
24 Februari 2026
Lampung Selatan, Way Kanan, Lampung Utara, Lampung Tengah, Lampung Timur, Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, dan Mesuji.
25 Februari 2026
Tanggamus dan Pesisir Barat.
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem, khususnya angin kencang, hujan lebat, serta kemungkinan pohon tumbang dan genangan air di sejumlah wilayah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang