Menteri Pertahanan AS: Iran Akan Diguyur 'Kematian dan Kehancuran'

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth

Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth mengklaim bahwa dalam kurun waktu satu pekan Amerika Serikat dan Israel akan menguasai sepenuhnya langit Iran. Dia juga mengatakan bahwa saat ini Iran sudah tidak berdaya.

Dalam konferensi pers di Pentagon, Hegseth juga berjanji akan ‘mengguyur’ Iran dengan kematian dan kehancuran dari udara. Menurutnya, Amerika Serikat siap untuk terus bertempur selama yang diperlukan.”Meski begitu, ia mengakui bahwa AS tidak bisa menghentikan semua serangan yang diluncurkan Teheran, yang berarti kemungkinan masih akan ada korban dari pihak AS dan kerusakan pada aset militer Amerika.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Iran sudah tamat dan mereka tau itu. Atau setidaknya sebentar lagi mereka akan menyadarinya,” kata Hegesth kepada wartawan Rabu waktu AS dikutip dari laman AFP, Kamis 5 Maret 2026.  

Pada kesempatan itu juga, dia menegaskan bahwa AS dan Israel baru saja memulai operasi untuk memburu dan melumpuhkan kemampuan militer Iran. Namun dalam waktu dekat, menurutnya, mereka akan memiliki kendali penuh atas wilayah udara.

Artinya, kata Hegseth, pesawat tempur AS dan Israel akan terbang tanpa henti di siang dan malam untuk mencari, melacak, dan menghancurkan rudal serta industri pertahanan militer Iran. Mereka juga akan memburu para pemimpin dan komandan militer Iran.

“Para pemimpin Iran akan menengadah ke langit dan hanya melihat kekuatan udara Amerika dan Israel, setiap menit, setiap hari, sampai kami memutuskan perang ini selesai. Iran tidak akan bisa melakukan apa pun untuk menghentikannya. Kematian dan kehancuran akan datang dari langit sepanjang waktu,” sambungnya.

Ia juga menambahkan bahwa para pilot AS telah diberi kewenangan penuh langsung oleh presiden untuk melakukan serangan. Aturan keterlibatan militer, menurutnya, dibuat untuk melepaskan kekuatan Amerika, bukan membatasinya.

“Ini memang tidak pernah dimaksudkan sebagai pertarungan yang seimbang, dan memang tidak akan pernah seimbang. Kami menyerang mereka saat mereka sudah terpuruk dan memang seharusnya begitu,” kata Hegseth.

Ia menambahkan bahwa kampanye militer kali ini memiliki intensitas tujuh kali lebih besar dibandingkan operasi Israel terhadap Iran pada bulan Juni.

“Gelombang serangan yang lebih besar dan lebih banyak akan datang. Kami baru saja memulai, dan operasi ini terus dipercepat.”

Setelah keunggulan udara sepenuhnya tercapai, AS akan mulai menjatuhkan bom presisi seberat 227 kg, 454 kg, hingga 907 kg persenjataan yang menurut Hegseth dimiliki AS dalam jumlah sangat besar.

Ia juga mengatakan persediaan rudal berpemandu jarak jauh dan rudal Patriot milik AS masih sangat kuat di tengah kekhawatiran bahwa operasi militer melawan Iran dapat menguras sistem pertahanan Amerika menjelang kemungkinan konflik dengan China.

“Kami bisa mempertahankan pertempuran ini dengan mudah selama yang dibutuhkan. Pertahanan udara kami dan sekutu kami masih sangat memadai. Kami akan mengambil waktu sebanyak yang diperlukan untuk memastikan kami berhasil,” kata Hegseth, menepis kekhawatiran bahwa sistem pertahanan udara Amerika dan sekutunya di negara-negara Arab akan kehabisan kemampuan menghadapi serangan rudal dan drone Iran.

Hegseth juga mengatakan bahwa durasi perang bisa lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Presiden AS Donald Trump sendiri dalam beberapa hari terakhir memberikan berbagai perkiraan berbeda tentang lamanya konflik tersebut.

“Bisa saja empat minggu, bisa enam minggu, delapan minggu, bahkan mungkin tiga minggu. Pada akhirnya, kami yang menentukan ritme dan tempo perang,” kata menteri perang AS itu.

Menurutnya, Iran tidak mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang dihadapinya saat ini. Ia mengklaim banyak pemimpin senior Iran telah tewas.

“Para pemimpin senior Iran sudah mati. Dewan pemerintahan yang seharusnya memilih pengganti mereka juga sudah mati, hilang, atau bersembunyi di bunker karena terlalu takut bahkan untuk berada di ruangan yang sama,” ujarnya.

Ia juga mengklaim bahwa kekuatan militer Iran telah hancur.

“Angkatan udara Iran sudah tidak ada lagi. Angkatan laut Iran kini berada di dasar Teluk Persia. Kami telah menguasai wilayah udara dan perairan Iran tanpa perlu menurunkan pasukan darat. Kami yang menentukan nasib mereka,” katanya.

Meski demikian, Hegseth mengakui bahwa sebagian serangan udara Iran masih mungkin mengenai target. Ia mengatakan AS telah mengerahkan seluruh kemampuan untuk memperkuat sistem pertahanan udara guna melindungi pasukan Amerika dan sekutunya di Timur Tengah.

“Ini tidak berarti kami bisa menghentikan semuanya. Namun kami sudah menyiapkan pertahanan semaksimal mungkin sebelum melancarkan serangan,” kata dia.

Menurut Hegseth, perlindungan terhadap pasukan menjadi prioritas utama. Sekitar 90 persen tentara AS di kawasan tersebut telah dipindahkan ke lokasi di luar jangkauan serangan Iran.

Pada Minggu lalu, enam tentara Amerika tewas ketika sebuah pusat operasi menjadi sasaran serangan drone Iran di sebuah pelabuhan sipil di Kuwait. Suami salah satu korban, yang bertugas di unit logistik dari Iowa, mengatakan pusat operasi itu hanya berupa bangunan mirip kontainer pengiriman dan tidak memiliki sistem pertahanan.

Laporan The New York Times pada Selasa juga menyebutkan bahwa serangan Iran telah berhasil merusak sistem komunikasi AS di setidaknya tujuh lokasi militer Amerika.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Hegseth menuduh media mencoba membuat presiden AS terlihat buruk dengan menyoroti serangan drone Iran yang berhasil menembus pertahanan udara.

Namun demikian, ia tetap menegaskan bahwa Amerika Serikat sedang menang dalam perang melawan Iran dengan sangat menghancurkan, tegas, dan tanpa belas kasihan.