Memanas! Militer AS Bombardir Situs Militer Iran

Ilustrasi perang AS-Iran.
Ilustrasi perang AS-Iran.

Di tengah gencatan senjata, aksi saling serang antara Amerika Serikat dan Iran masih berlanjut. Senin 1 Juni waktu setempat, Amerika Serikat menyebut telah membombardir sejumlah lokasi radar dan fasilitas drone di Iran.

Aksi ini dilakukan sebagai balasan atas Tindakan Iran yang menembak jatuh drone milik AS pada akhir pekan lalu. Sementara itu, sebagai balasan Iran mengkalim menargetkan militer AS di Kuwait dengan rudal. Namun aksi tersebut disebut Washington berhasil dicegat.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Melansir laman AP News, Selasa 2 Juni 2026, di tengah aksi saling serang di masa gencatan senjata ini, pejabat dari kedua negara disebut masih berupaya merundingkan kesepakatan untuk mengakhiri perang.

Namun hingga kini belum jelas seberapa dekat kedua pihak dengan sebuah kesepakatan. Situasi juga tetap rapuh karena setiap serangan baru berpotensi menggagalkan proses negosiasi yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, pertempuran antara Israel dan kelompok militan Hezbollah di Lebanon juga semakin meningkat meskipun keduanya secara resmi masih berada dalam masa gencatan senjata. Kondisi ini dinilai dapat mengancam upaya memperpanjang kesepakatan gencatan senjata dalam konflik Iran.

Pada Senin sore waktu setempat, Presiden AS Donald Trump mengatakan Israel dan Hezbollah telah sepakat mengurangi intensitas pertempuran setelah dirinya berbicara dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu serta berkomunikasi dengan Hizbullah melalui perantara.

Namun tak lama kemudian, Israel menyatakan telah mendeteksi peluncuran rudal dari wilayah Lebanon dan memperingatkan warga di sebagian wilayah utara Israel untuk segera berlindung di tempat yang aman.

Sementara itu, Iran masih mempertahankan kontrol ketat atas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sangat penting bagi pasokan energi dunia. Kondisi ini mengganggu distribusi energi global dan mendorong kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara. Militer Inggris juga melaporkan sebuah kapal kargo diserang di lepas pantai Irak pada Senin sore.

Konflik di Lebanon Berisiko Ganggu Gencatan Senjata Iran

Israel memperluas pendudukannya hingga jauh ke wilayah Lebanon. Di saat yang sama, Hizbullah yang ikut terlibat dalam perang sebagai bentuk dukungan kepada sekutunya, Iran terus meluncurkan drone ke wilayah Israel.

Iran menginginkan agar setiap kesepakatan damai juga mencakup situasi di Lebanon. Pada Senin, Kementerian Luar Negeri Iran menyoroti meningkatnya ketegangan di negara tersebut dan melalui media pemerintah menyatakan bahwa tanggung jawab atas hasil dan konsekuensi dari situasi ini berada di tangan Amerika Serikat.

Dalam unggahan di media sosial terkait meredanya pertempuran antara Israel dan Hizbullah, Trump juga mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlanjut dengan sangat cepat.

Sementara itu, di Pakistan yang selama ini berperan sebagai mediator antara Washington dan Teheran, mantan Duta Besar Pakistan untuk AS, Masood Khan, mengatakan tindakan Israel di Lebanon telah memperumit situasi diplomatik.

"Israel sedang menciptakan realitas strategis baru di lingkungannya," kata Khan kepada Associated Press.

Militer AS Serang Iran

Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan serangan ke Iran pada Sabtu dan Minggu di sekitar Kota Geruk serta Pulau Qeshm. Target serangan meliputi sistem pertahanan udara, stasiun kendali darat, dan dua drone tempur yang dinilai mengancam kapal-kapal di kawasan tersebut.

CENTCOM menyebut serangan itu dilakukan secara terukur dan disengaja sebagai respons atas tindakan agresif Iran, termasuk penembakan jatuh drone MQ-1 milik AS yang sedang beroperasi di perairan internasional.

Lalu lintas kapal di Selat Hormuz kini menurun drastis dibandingkan sebelum perang. Banyak pemilik kapal memilih menghindari jalur tersebut karena khawatir menjadi sasaran serangan Iran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Menurut data Lloyd's List Intelligence, hanya 36 kapal yang melintasi selat itu dalam tujuh hari menjelang Jumat lalu. Sepertiga di antaranya mengangkut minyak mentah atau produk minyak bumi. Sebelum perang, rata-rata lebih dari 130 kapal melintas setiap hari.

Sebelumnya, sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia melewati Selat Hormuz. Penutupan jalur ini tidak hanya menekan pasokan energi, tetapi juga mengganggu distribusi pupuk kimia yang berpotensi memicu kekhawatiran akan krisis pangan. Kawasan Teluk memproduksi sekitar 30 persen pupuk kimia yang diperdagangkan secara global.