Negosiasi Iran dengan AS Terancam Dihentikan jika Israel Tetap Gempur Lebanon!
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan Teheran tidak hanya akan menghentikan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS), tetapi juga akan mengambil tindakan terhadap Israel apabila negara tersebut terus melancarkan operasi militer di Lebanon.
“Selama dua hari terakhir, kami telah bekerja keras untuk menghentikan serangan Israel. Namun, jika kejahatan-kejahatan ini terus berlanjut, kami tidak hanya akan menangguhkan perundingan, tetapi juga akan bertindak terhadap rezim Zionis,” kata Ghalibaf melalui Telegram, dikutip Selasa, 2 Juni 2026.
Israel membombardir Lebanon saat gencatan senjata dengan Iran
Dalam percakapannya dengan Ketua Parlemen Lebanon, Nabih Berri, ia juga menegaskan tekad Iran untuk mewujudkan gencatan senjata di seluruh wilayah Lebanon.
Pada Senin, Kepala Otoritas Israel, Benjamin Netanyahu, memerintahkan serangan terhadap target-target Hizbullah di pinggiran Beirut.
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pelanggaran gencatan senjata di Lebanon tersebut juga merupakan pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata antara Washington dan Teheran.
Setelah pembicaraan dengan Netanyahu dan perwakilan Hizbullah, Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan bahwa Hizbullah dan Israel akan menyetujui gencatan senjata.
Hizbullah mulai melancarkan serangan roket dan drone ke Israel pada 2 Maret di tengah perang antara Amerika Serikat-Israel, dan Iran.
Sebagai balasan, Israel melakukan serangan udara besar-besaran terhadap target-target Hizbullah di pinggiran selatan Beirut, serta di Lebanon bagian selatan dan timur.
Israel juga meluncurkan operasi darat di wilayah selatan dan menyatakan dimulainya kampanye militer baru melawan kelompok Syiah tersebut.
Setelah perundingan di Washington pada 16 April, kedua pihak mencapai kesepakatan gencatan senjata. Namun, terlepas dari perjanjian tersebut, Israel masih terus menyerang puluhan permukiman di Lebanon selatan setiap hari dan mempertahankan kendali tembakan atas sejumlah kawasan perbatasan.
Sebagai respons, Hizbullah terus melakukan operasi militer terhadap pasukan Israel.
Sebagai informasi, Pada 8 April, atau 40 hari setelah perang yang menurut Iran dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Republik Islam Iran, gencatan senjata sementara antara Iran dan AS yang dimediasi Pakistan mulai berlaku.
Setelah itu, perundingan digelar di Islamabad, Pakistan. Namun pembicaraan belum menghasilkan kesepakatan karena kedua pihak masih memiliki perbedaan besar, termasuk terkait tuntutan Washington dan kebijakan blokade laut yang diterapkan terhadap kapal serta pelabuhan Iran.
Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, pada Senin menegaskan bahwa situasi di Lebanon tidak bisa dipisahkan dari upaya mencapai kesepakatan akhir untuk mengakhiri perang, terutama di tengah meningkatnya serangan Israel ke negara tersebut.
Bangunan runtuh di Lebanon menewaskan 9 orang dan puluhan luka-luka
"Kawasan kita terus menghadapi tindakan perang yang dilakukan rezim Zionis. Ini bukan hanya terjadi hari ini atau kemarin. Selama 80 tahun terakhir, rezim Zionis dengan dukungan Amerika Serikat telah menjalankan perang yang tidak pernah berhenti terhadap negara-negara di kawasan," ujar Baghaei.
Ia menambahkan bahwa berbagai peristiwa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir merupakan pelanggaran yang jelas dan terang-terangan terhadap gencatan senjata yang mulai berlaku pada 8 April. (Ant)