Menlu AS Sebut Kabar Baik soal Iran Bisa Muncul dalam Beberapa Jam ke Depan

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan telah ada kemajuan signifikan dalam pembicaraan untuk mengakhiri perang AS-Israel melawan Iran. Pernyataan itu disampaikan hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa nota kesepahaman untuk menghentikan konflik tersebut sebagian besar sudah dinegosiasikan.

Dalam kunjungannya ke India, Rubio mengatakan bahwa kesepakatan yang sedang dibahas juga akan menjawab kekhawatiran Trump soal Selat Hormuz yang sebagaian besar diblokade Iran sejak 28 Februari lalu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Sudah ada kemajuan, kemajuan yang signifikan, meski belum menjadi kemajuan final. Saya pikir ada kemungkinan dalam beberapa jam ke depan dunia akan mendapat kabar baik," kata dia dikutip dari laman Al Jazeera, Minggu 24 Mei 2026.

Rubio menambahkan, kesepakatan itu juga akan membuka jalan menuju kondisi yang diinginkan Trump, yakni dunia yang tidak lagi hidup dalam ketakutan terhadap senjata nuklir Iran.

Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim News Agency, yang dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), melaporkan bahwa berdasarkan potensi nota kesepahaman tersebut, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz akan kembali ke tingkat sebelum perang dalam beberapa pekan.

"Jika kesepakatan tercapai, Selat Hormuz tidak akan sepenuhnya kembali ke kondisi sebelum perang. Namun jumlah kapal yang diizinkan melintas akan dipulihkan ke tingkat sebelum perang dalam waktu 30 hari," demikian seperti diberiktakan kantor berita tersebut.

Tasnim juga menyebut blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran harus dicabut sepenuhnya dalam 30 hari sesuai isi nota kesepahaman yang sedang dibahas. Selain itu, sebagian dana Iran yang dibekukan juga harus dicairkan pada tahap awal kesepakatan.

Potensi kesepakatan itu juga mencakup penghentian perang di semua front, termasuk di Lebanon.

Tasnim menambahkan, kebijakan terkait Selat Hormuz akan diberlakukan selama 30 hari, sementara negosiasi soal program nuklir Iran akan berlanjut selama 60 hari setelah kesepakatan ditandatangani.

Setelah periode awal 30 hari tersebut, para pihak akan memiliki waktu 30 hari untuk mencapai kesepakatan terkait isu nuklir. Periode ini bisa diperpanjang atas persetujuan bersama, kata koresponden Al Jazeera, Ali Hashem.

"Selama periode awal itu, pelayaran di selat akan dipermudah. Menurut Iran, pengelolaan Selat Hormuz akan menjadi urusan Iran dan Oman, dan saat ini sedang dinegosiasikan dengan Muscat," ujarnya.

Iran menegaskan bahwa kesepakatan apa pun dengan AS bergantung pada pencairan sebagian dana Iran yang dibekukan. Dana tersebut harus dicairkan pada tahap awal negosiasi, lapor Tasnim.

"Selain banyak elemen lain dalam kesepakatan ini, Selat Hormuz akan dibuka," tulis Trump di platform Truth Social miliknya. 

Jika itu benar terjadi, tekanan terhadap harga energi global diperkirakan akan mereda setelah jalur penting pengiriman minyak tersebut praktis tertutup sejak perang dimulai dan hanya memberi akses terbatas bagi kapal tertentu.

Koresponden Al Jazeera, Resul Serdar Atas, melaporkan dari Tehran bahwa pembicaraan masih berada dalam situasi yang sensitif, terutama terkait Selat Hormuz.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Begitu persoalan itu selesai, fase kedua akan fokus pada negosiasi nuklir. Masalah ini sudah berlangsung puluhan tahun dengan banyak tarik-ulur, tetapi para pihak belum berhasil mencapai dan mempertahankan kesepakatan," katanya.

Sementara itu, koresponden Al Jazeera Kimberly Halkett melaporkan dari Washington DC bahwa Trump ingin terlihat berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya dari kesepakatan ini, mengingat perang tersebut tidak populer di mata publik Amerika dan tingkat persetujuannya terus menurun.