Spesifikasi Rudal Tomahawk AS yang Disita Iran, CIA Disebut Khawatir Kekuatan Teheran Belum Lumpuh

Rudal Tomahawk
Rudal Tomahawk

 Konflik terbaru di Timur Tengah memunculkan perkembangan baru yang menyita perhatian dunia. Iran dilaporkan mulai mempelajari teknologi Rudal Tomahawk milik Amerika Serikat yang ditemukan dalam kondisi tidak meledak selama perang antara Teheran, Washington, dan Israel.

Laporan tersebut pertama kali diungkap kantor berita Iran, Mehr, yang menyebut sejumlah rudal Tomahawk ditemukan dalam kondisi relatif utuh setelah ditembak jatuh atau mengalami kegagalan sistem peledak saat menghantam target di wilayah Iran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bagi Teheran, rudal-rudal itu bukan sekadar puing perang. Iran justru melihatnya sebagai sumber teknologi militer bernilai tinggi yang bisa dipelajari untuk memperkuat kemampuan persenjataan dalam negeri.

“Dalam perang 40 hari, strategi Iran beralih ke memperoleh pengetahuan dari medan perang. Setiap rudal Tomahawk yang mendarat dan tidak meledak adalah buku teks tingkat lanjut bagi para insinyur Iran,” tulis Mehr seperti dikutip Middle East Eye.

Laporan tersebut memang belum dapat diverifikasi secara independen. Namun narasi mengenai kemampuan Iran membongkar dan mempelajari teknologi Barat bukan hal baru. Selama puluhan tahun menghadapi embargo dan sanksi internasional, Iran dikenal aktif melakukan reverse engineering terhadap berbagai sistem persenjataan asing.

Bahkan Pakistan pernah dituding mengembangkan rudal jelajah Babur dari serpihan Tomahawk yang ditemukan pasca-serangan AS ke Afghanistan pada 1998.

Yang membuat Washington semakin waspada bukan hanya klaim soal pembelajaran teknologi rudal. Sejumlah laporan intelijen Amerika Serikat justru menyebut kemampuan militer Iran masih jauh dari kata lumpuh.

Laporan yang dikutip New York Times menyebut Teheran telah memulihkan akses operasional ke 30 dari 33 situs rudal di sepanjang Selat Hormuz. Fakta itu bertolak belakang dengan klaim Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya menyatakan kekuatan militer Iran mengalami kehancuran besar.

Selain itu, Iran disebut masih mempertahankan sekitar 70 persen peluncur rudal bergerak serta sebagian besar fasilitas bawah tanah penyimpanan misil mereka. Infrastruktur militer bawah tanah Iran selama ini memang dikenal luas sebagai salah satu sistem pertahanan paling sulit dihancurkan di Timur Tengah.

Sejumlah analis militer Barat menilai jaringan bunker dan terowongan bawah tanah Iran menjadi alasan utama stok rudal mereka tetap bertahan meski digempur selama berminggu-minggu.

Di sisi lain, media-media Iran juga mengklaim kemampuan perang elektronik mereka berhasil mengganggu sistem peledak beberapa rudal Tomahawk sehingga gagal meledak sempurna. Klaim itu belum dikonfirmasi Pentagon, tetapi menjadi perhatian serius karena menyangkut efektivitas sistem senjata paling diandalkan militer AS.

Tomahawk sendiri bukan rudal biasa. Senjata ini merupakan misil jelajah jarak jauh buatan Amerika Serikat yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung operasi serangan presisi AS di berbagai medan perang.

VIVA MIliter: Kapal perang militer Amerika Serikat luncurkan rudal Tomahawk

Rudal ini pertama kali dikembangkan pada era 1970-an dan kini diproduksi oleh Raytheon Technologies. Tomahawk dikenal memiliki kemampuan terbang rendah untuk menghindari radar, sekaligus mampu menghantam target dengan tingkat akurasi tinggi.

Berikut spesifikasi utama Rudal Tomahawk:

  • Panjang sekitar 5,5 hingga 6,2 meter
  • Bobot peluncuran mencapai 1,3 hingga 1,6 ton
  • Kecepatan sekitar Mach 0,74 atau hampir 900 kilometer per jam
  • Jangkauan maksimal hingga 2.500 kilometer tergantung varian
  • Mampu membawa hulu ledak konvensional maupun nuklir
  • Menggunakan sistem navigasi GPS, TERCOM, DSMAC, dan INS
  • Diluncurkan dari kapal perang maupun kapal selam

Tomahawk juga memiliki beberapa generasi pengembangan. Varian terbaru Block IV dan Block V mampu menerima pembaruan target saat sedang terbang, bahkan dapat mengirim data visual ke pusat komando sebelum menghantam sasaran.

Keunggulan itulah yang membuat rudal ini sering digunakan dalam operasi militer besar Amerika Serikat, mulai dari Perang Teluk, invasi Irak, Suriah, hingga operasi terbaru terhadap fasilitas strategis Iran.

Namun di balik reputasinya, Tomahawk tetap memiliki keterbatasan. Rudal ini dinilai kurang efektif untuk menghancurkan bunker bawah tanah ekstrem seperti fasilitas nuklir Fordow di Iran. Karena itu, militer AS biasanya mengombinasikan Tomahawk dengan bom penghancur bunker seperti GBU-57.

Sementara itu, Pengamat Timur Tengah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Khalid Al Walid, menilai Iran kini berada dalam fase membangun ulang kekuatan militernya dengan sangat cepat.

“Kita mendengar bahwa Iran telah membangun kembali seluruh persenjataan yang mereka miliki dan bahkan telah menguji cobakan beberapa rudal-rudal baru,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ia juga menyebut Iran memiliki sejumlah sistem senjata yang belum sepenuhnya dipublikasikan ke dunia internasional, termasuk teknologi pertahanan udara baru yang disebut-sebut mampu mendeteksi pesawat siluman.

Situasi ini membuat kawasan Timur Tengah masih berada dalam ketegangan tinggi meski gencatan senjata resmi diberlakukan. Selat Hormuz tetap menjadi titik paling rawan karena jalur tersebut merupakan nadi distribusi minyak dunia.