Menlu Rubio: Iran Tak Bisa Tekan AS dengan Lonjakan Harga BBM Akibat Perang
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengatakan Iran tidak akan berhasil menekan Amerika dengan memanfaatkan situasi domestik yang mengalami lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat perang di Timur Tengah.
Menurut Rubio, lonjakan harga bensin yang tinggi di AS tidak akan membantu Iran memperoleh konsesi dari AS, maupun mencapai kesepakatan untuk memenuhi tuntutannya.
"Jika Iran berpikir mereka bisa memanfaatkan politik domestik kami untuk menekan Presiden agar menerima kesepakatan yang buruk, itu tidak akan terjadi," kata Rubio dalam percakapan dengan NBC News, Jumat, 15 Mei 2026.
"Kami telah mengambil langkah-langkah luar biasa untuk menjaga harga bensin tetap lebih rendah dibandingkan beberapa wilayah lain di dunia, dan harganya akan terus turun," sambungnya.
Menurut American Automobile Association (AAA), pada 14 Mei harga rata-rata bensin di Amerika Serikat naik menjadi 4,53 dolar AS (sekitar Rp79.600) per galon.
Pada 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target di Iran yang menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Pada 7 April, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu. Pembicaraan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil yang jelas, dan Presiden AS Donald Trump memperpanjang penghentian permusuhan untuk memberi waktu kepada Iran untuk mengajukan “proposal terpadu.”
Peningkatan ketegangan akibat serbuan AS-Israel terhadap Iran itu hampir menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global, sehingga menyebabkan kenaikan harga bahan bakar di banyak negara di dunia.