Mengejutkan, Intelijen AS Ungkap Kekuatan Militer Iran Pulih dalam 6 Bulan
Badan intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa asumsi Amerika Serikat mengenai kemungkinan melakukan operasi militer cepat dan mudah terhadap Iran terbukti keliru setelah serangkaian serangan dan blokade yang dinilai gagal.
IRGC menyinggung beberapa operasi yang disebut tidak berhasil, termasuk perang 12 hari Israel pada 2025 yang melibatkan dukungan langsung Amerika Serikat, serta perang yang mereka sebut sebagai perang teroris selama 50 hari yang dilakukan AS dan Israel sejak 28 Februari 2026. Selain itu, blokade terhadap pelabuhan Iran yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump pada April lalu juga disebut sebagai bentuk perang ekonomi untuk melemahkan rakyat Iran.
“Setelah serangan sia-sia pada 13 Juni dan 28 Februari serta runtuhnya blokade 12 April, kekeliruan asumsi Gedung Putih mengenai operasi cepat dan mudah terhadap Republik Islam Iran akhirnya terbongkar,” kata Organisasi Intelijen IRGC dalam pernyataannya pada Kamis dikutip dari laman presstv.ir, Jumat 22 Mei 2026.
Mereka juga mengklaim bahwa lembaga-lembaga intelijen Amerika Serikat kini menyadari waktu tidak lagi berpihak pada Washington.
“Kesimpulan lembaga intelijen AS adalah ini: waktu tidak berada di pihak mereka, dan untuk keluar dari situasi yang semakin rumit, mereka harus menganggap serius inisiatif dan ancaman Iran,” lanjut pernyataan tersebut.
Sementara itu, CNN melaporkan pada Kamis bahwa Iran disebut tengah bergerak cepat membangun kembali kekuatan militernya. Mengutip sumber intelijen, media itu menyebut Iran mulai mengganti lokasi dan peluncur rudal yang rusak serta kembali memproduksi sistem persenjataan penting di tengah gencatan senjata enam pekan dengan AS.
Laporan itu menyebut intelijen Amerika menilai pemulihan militer Iran berlangsung jauh lebih cepat dari perkiraan awal. Iran bahkan disebut sudah memulai kembali produksi drone dan diperkirakan mampu memulihkan penuh kemampuan serangan dronenya hanya dalam waktu sekitar enam bulan.
“Pihak Iran melampaui seluruh perkiraan waktu pemulihan yang dimiliki komunitas intelijen,” kata seorang pejabat AS kepada CNN.
Menurut laporan tersebut, Iran juga dianggap berhasil membatasi dampak jangka panjang perang dengan cara memulihkan kemampuan militernya secara cepat setelah serangan terjadi.
Awal bulan ini, lembaga intelijen AS juga dilaporkan mengungkap bahwa Iran telah kembali mendapatkan akses ke sebagian besar lokasi rudal, peluncur, dan fasilitas bawah tanahnya. Informasi itu dimuat oleh The New York Times.
Laporan tersebut mengutip penilaian rahasia yang bertolak belakang dengan klaim Trump sebelumnya yang menyebut kemampuan rudal Iran telah “dihancurkan sepenuhnya.”
Menurut laporan itu, Iran telah memulihkan akses operasional ke 30 dari 33 lokasi rudal di sepanjang Selat Hormuz. Kondisi itu disebut memungkinkan Iran kembali menargetkan kapal perang AS yang melintasi jalur strategis tersebut.
Setelah perang pecah, Iran diketahui menutup selat tersebut bagi kapal-kapal musuh, sementara perusahaan asuransi maritim menaikkan premi secara drastis bagi kapal yang ingin melintas.
Salah satu penilaian intelijen yang dikutip The New York Times menyebut Iran masih memiliki sekitar 70 persen peluncur rudal bergeraknya dan mempertahankan sekitar 70 persen stok rudal yang dimiliki sebelum perang.
Selain itu, citra satelit dan alat pengawasan lainnya menunjukkan Iran telah kembali mengakses sekitar 90 persen fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal bawah tanahnya. Fasilitas tersebut disebut sudah beroperasi sebagian maupun sepenuhnya.