Apa yang Membuat AS Nekat Menyerang Iran? Fakta di Balik Konflik yang Kian Memanas

Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih
Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih

Amerika Serikat melancarkan gelombang kedua serangan udara ke Iran hingga Kamis pagi setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Teheran akan ‘membayar harga’ atas mandeknya perundingan. Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan yang menargetkan Bahrain, Kuwait, dan Yordania.

Serangan terbaru Amerika yang menyasar sejumlah kota di Iran terjadi ketika upaya untuk merundingkan berakhirnya perang kembali menemui jalan buntu. Iran tetap bersikeras mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang gangguannya telah mengacaukan pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak dunia.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Serangan Amerika kali ini tampak lebih besar dan lebih intens dibandingkan sehari sebelumnya. Namun, Iran hanya memberikan sedikit informasi mengenai tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Kuwait menutup wilayah udaranya selama beberapa jam akibat serangan pada Kamis pagi tersebut, tetapi tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai dampak yang terjadi. 

Sementara itu, Yordania menyatakan berhasil mencegat 20 rudal Iran yang ditembakkan ke arah kawasan yang memiliki pangkalan udara tempat pasukan AS ditempatkan. 

Tidak ada korban dalam insiden tersebut.

Melansir laman AP News, Di Bahrain, Kementerian Dalam Negeri melaporkan bahwa seorang anak perempuan berusia 11 tahun terluka, sementara sejumlah kendaraan dan rumah mengalami kerusakan akibat puing-puing yang jatuh dari proses pencegatan serangan Iran.

Rangkaian serangan saling balas yang terjadi untuk ketiga kalinya dalam pekan ini semakin menguji gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung selama dua bulan. 

Serangan pertama terjadi antara Iran dan Israel pada Minggu hingga Senin, kemudian disusul dua putaran serangan antara Amerika Serikat dan Iran. Di saat yang sama, seorang pejabat India mengonfirmasi pada Kamis bahwa serangan AS terhadap sebuah kapal tanker minyak yang diduga mencoba menerobos blokade Iran telah menewaskan tiga pelaut asal India, menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi para pelaut di kawasan tersebut.

Trump telah mendesak Iran untuk menandatangani kesepakatan guna mengakhiri perang dan sebelumnya menyatakan bahwa kesepakatan itu bisa tercapai dalam hitungan hari.

Namun, Iran menunjukkan ketahanan meskipun telah menghadapi pemboman berat selama berminggu-minggu. Teheran tampaknya yakin bahwa kemampuannya untuk secara efektif mengendalikan Selat Hormuz jalur vital bagi pengiriman minyak dan gas alam dunia memberinya posisi tawar yang kuat dalam perundingan.

Meski demikian, kedua negara tampaknya sama-sama mencari jalan untuk mengakhiri konflik, asalkan hasil akhirnya dapat dipresentasikan sebagai kemenangan di hadapan publik masing-masing.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu juga terlihat bertekad mengejar sejumlah tujuan yang membuat kompromi semakin sulit dicapai, termasuk runtuhnya pemerintahan teokratis Iran, penghapusan program nuklir Iran, serta penghancuran kelompok militan Hizbullah di Lebanon yang bersekutu dengan Teheran.

AS menyerang Iran, Iran membalas dengan menyerang negara-negara Teluk

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan bahwa gelombang serangan udara terbaru berakhir sesaat sebelum matahari terbit pada Kamis di Iran. Menurut pihak militer, serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas agresi Iran yang terus berlanjut tanpa alasan yang dapat dibenarkan dan menargetkan kemampuan pengawasan militer Iran, sistem komunikasi, serta lokasi pertahanan udara.

CENTCOM tidak merinci tingkat kerusakan akibat serangan yang melibatkan Angkatan Udara, Korps Marinir, dan Angkatan Laut AS tersebut. Ledakan terdengar di berbagai wilayah, termasuk ibu kota Teheran, kota pelabuhan Bandar Abbas, serta sejumlah daerah di bagian selatan yang berada di sepanjang Selat Hormuz. 

Garda Revolusi Iran kemudian menyatakan bahwa lokasi yang diserang Amerika mencakup kompleks manufaktur, barak militer, dan sebuah pangkalan Garda Revolusi di luar Teheran. Pada Kamis dini hari, Israel juga memperingatkan warga di wilayah utara negaranya untuk segera berlindung setelah terdeteksi adanya dugaan serangan yang datang dari Lebanon.

Trump mengklaim AS berhasil mengalirkan minyak melewati Selat Hormuz

Sejak Amerika Serikat dan Israel memulai perang melalui serangan terhadap Iran pada 28 Februari, konflik tersebut telah mengguncang perekonomian global, memicu kenaikan harga energi, serta membuat harga pangan dan kebutuhan pokok lainnya semakin mahal. Harga minyak mentah acuan dunia sempat diperdagangkan di atas 93 dolar AS per barel pada Rabu, meningkat lebih dari 25 persen sejak perang dimulai.

Trump mengatakan bahwa sejak bulan lalu militer AS menjalankan "misi rahasia" untuk membantu pengiriman minyak melewati pasukan Iran di Selat Hormuz. Menurutnya, kapal-kapal minyak berhasil melintas pada malam hari dengan bantuan penghancuran peralatan radar Iran.

Trump mengklaim bahwa lebih dari 100 juta barel minyak telah berhasil lolos dari kendali Iran atas selat tersebut. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi independen mengenai angka tersebut. Sebagai gambaran, jumlah itu setara dengan sekitar lima hari volume pengiriman minyak melalui Selat Hormuz sebelum perang dimulai.

Peran pasti militer dalam operasi tersebut masih belum jelas. 

Pada Rabu, CENTCOM membantah klaim Iran bahwa Selat Hormuz telah ditutup dan menyatakan bahwa kapal-kapal komersial masih terus keluar masuk jalur pelayaran tersebut. Meski demikian, perairan di kawasan itu tetap berbahaya bagi para pelaut. Menteri Pelabuhan, Pelayaran, dan Perairan India, Sarbananda Sonowal, mengumumkan melalui platform X bahwa tiga warga India yang sebelumnya dinyatakan hilang setelah serangan Amerika terhadap kapal tanker berbendera Palau bernama Settebello telah dipastikan meninggal dunia.

Sebelumnya, CENTCOM menuduh kapal tersebut melanggar blokade yang sedang berlangsung dengan mencoba mengangkut minyak dari Iran. Pasukan AS dilaporkan menembaki ruang mesin kapal itu pada Rabu untuk menghentikan pelayarannya.

Pimpinan Organisasi Maritim Internasional (IMO), badan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengecam serangan terhadap Settebello. Menurut IMO, sejak perang Iran dimulai telah terjadi 43 serangan terhadap kapal-kapal pelayaran internasional di kawasan tersebut.

Sebuah kapal tanker lain yang berada di dekat lokasi insiden Settebello di perairan Oman juga mengalami kebakaran di ruang mesin pada Kamis pagi, menurut laporan pusat operasi maritim Inggris. Penyebab kebakaran belum diketahui secara pasti, meskipun dugaan awal mengarah pada kemungkinan adanya serangan Amerika lainnya.

Perbedaan besar masih menghambat tercapainya perdamaian

Menghadapi kekhawatiran akan tingginya harga bahan bakar menjelang pemilu paruh waktu pada November, Trump tampaknya menginginkan kemenangan diplomatik yang cepat. Namun, sejumlah tuntutan yang diajukan Washington sulit diterima oleh Teheran.

Amerika Serikat ingin Iran menyerahkan seluruh cadangan uranium yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi. Meskipun Iran terus menegaskan bahwa program nuklirnya bertujuan damai, uranium tersebut hanya membutuhkan sedikit langkah teknis lagi untuk mencapai tingkat yang dapat digunakan dalam pembuatan senjata nuklir.

Iran menolak menyerahkan uranium tersebut dan menuntut pencabutan sanksi ekonomi. Selain itu, Teheran juga meminta pencairan aset-asetnya yang dibekukan bahkan sebelum kesepakatan akhir tercapai, sesuatu yang ditolak oleh Trump.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Iran juga menegaskan bahwa setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang harus mencakup penghentian pertempuran antara sekutunya, Hizbullah, dan Israel.

Sebuah delegasi diplomatik Qatar yang melakukan perundingan dengan koordinasi bersama Amerika Serikat meninggalkan Teheran pada Kamis pagi setelah menyelesaikan serangkaian pembicaraan. Informasi tersebut disampaikan oleh seorang pejabat yang mengetahui langsung proses mediasi dan berbicara dengan syarat identitasnya dirahasiakan.