Mikael Tata Jadi Sasaran Rasisme, Persebaya Surabaya Lapor ke APPI dan I League
Manajemen Persebaya Surabaya mengambil langkah tegas demi melindungi pemainnya, Mikael Tata, yang menjadi korban serangan rasisme di media sosial.
Kasus ini mencuat menyusul hasil imbang 2-2 dalam laga klasik antara Bajul Ijo melawan Persib Bandung di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Senin (2/3/2026).
Langkah hukum dan administratif ini diambil Persebaya Surabaya sebagai bentuk perlawanan terhadap perundungan yang menyasar identitas fisik dan latar belakang sang bek kiri.
Manajemen menilai tindakan oknum suporter tersebut telah mencederai nilai-nilai sportivitas dalam kompetisi sepak bola kasta tertinggi Tanah Air.
Insiden yang menimpa Mikael Tata disinyalir merupakan buntut dari ketegangan yang terjadi di atas lapangan pada pekan ke-24 Super League 2025-2026.
Saat itu, sempat terjadi friksi di area teknis yang melibatkan pelatih Bernardo Tavares dan pemain Persib, Kakang Rudianto, terkait sengketa lemparan ke dalam.
Tata yang berada di lokasi kejadian turut bereaksi membela timnya hingga sempat terjadi adu mulut dan aksi saling dorong.
Meski wasit Eko Saputra berhasil menenangkan situasi di lapangan, serangan justru berlanjut di jagat maya.
Akun Instagram pribadi pemain berusia 21 tahun itu dibanjiri komentar rasis dan hinaan yang tidak bertanggung jawab.
Pernyataan Sikap dan Laporan ke Otoritas
Menyikapi deraan rasisme yang diterima pemainnya, pihak klub segera mengeluarkan pernyataan resmi.
Mereka menegaskan bahwa perbedaan warna kulit atau asal-usul tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan martabat seseorang dalam sepak bola.
"Sepak bola bukan hanya adu strategi dan gengsi di atas lapangan," tulis pernyataan Persebaya dikutip BolaSport, Rabu (4/3/2026).
"Ia adalah tempat untuk saling mengenal dan bertemu antar sesama, pemain, ofisial, pelatih, juga sesama pecinta sepak bola."
Jelang laga perdana Kualifikasi Piala Asia U23 2026 melawan Laos, pelatih Timnas U23 Indonesia dan pemainnya Mikael Tata foto bersama usai menjalani konferensi pers di salah satu hotel Surabaya, Jawa Timur, Selasa (2/9/2025) siang.
"Tempat di mana perbedaan latar belakang, warna kulit, maupun identitas, tak pernah menjadi alasan untuk direndahkan," ucapnya.
Demi memberikan efek jera, manajemen langsung meneruskan laporan kepada Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) dan I League selaku operator kompetisi.
Persebaya berharap otoritas terkait segera bertindak agar kasus serupa tidak menimpa atlet lain di masa depan.
"Karena pada akhirnya, sepak bola adalah tentang kebersamaan. Bukan kebencian," tegas Persebaya.
Perlindungan Pemain adalah Prioritas
Pihak klub mengutuk keras segala bentuk kebencian, baik yang dilakukan oleh pendukung tim lawan maupun suporter mereka sendiri.
Manajemen memastikan akan terus mengawal kasus ini melalui jalur formal yang tersedia.
"Saat ini, bek Persebaya Mikael Alfredo Tata mengalami deraan rasisme yang bertubi-tubi. Manajemen sudah melakukan pelaporan kepada APPI dan I League untuk penanganan lebih lanjut," tutur perwakilan manajemen.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang