Menikmati Kelezatan Steak Legendaris Surabaya Sejak 1977

Steak, keluarga, Surabaya, kuliner, museum, Menikmati Kelezatan Steak Legendaris Surabaya Sejak 1977

Hampir lima dekade bukan waktu yang singkat bagi sebuah restoran untuk bertahan. Di tengah perubahan selera, gelombang tren kuliner, hingga tantangan ekonomi. Hanya sedikit yang mampu menjaga eksistensi sekaligus maknanya bagi pelanggan.

Sejak berdiri pada 28 Februari 1977, Boncafe Steak & Ice Cream bukan sekadar tempat makan. Ia tumbuh menjadi ruang pertemuan lintas generasi, tempat ulang tahun dirayakan, pertemuan keluarga digelar, hingga kisah cinta dimulai.

Menjelang usia ke-49, restoran pelopor steak hotplate di Surabaya ini memilih berbenah tanpa meninggalkan jati dirinya sebagai family restaurant.

Melangkah Maju Tanpa Meninggalkan Akar

Sebagai generasi ketiga yang kini memimpin, CEO Andrew T. Prasetya memahami bahwa inovasi adalah keniscayaan. Namun, perubahan baginya bukan berarti menghapus identitas yang telah dibangun puluhan tahun.

“Tentu kita ingin terus memberikan improvement dari apa yang sudah kita berikan selama ini. Dari desain interior, penyajian sampai servis, kita ingin memberikan yang lebih baik lagi kepada customer kita,” ujar pria yang biasa disapa Andrew itu kepada jurnalis termasuk Kompas.com.

Pembenahan dilakukan di berbagai sisi, mulai dari suasana ruang hingga kualitas layanan. Meski demikian, konsep restoran keluarga menjadi satu hal yang tetap dijaga.

“Kita mau Boncafe itu selalu ada setiap momen pelanggan yang berkesan saat makan di sini,” imbuhnya.Steak, keluarga, Surabaya, kuliner, museum, Menikmati Kelezatan Steak Legendaris Surabaya Sejak 1977

Pengunjung saat menikmati steak yang memiliki sensasi khas dan menjadi salah satu menu utama dalam perjalanan Boncafe selama hampir setengah abad, salah satu restoran yang berada di Surabaya, Jawa Timur.

Steak Hotplate, Warisan Rasa yang Tak Lekang Zaman

Berada di kawasan Gubeng, Boncafe identik dengan steak hotplate yang disajikan panas mengepul. Menu ini bukan lahir dari buku resep, melainkan dari pengalaman kuliner keluarga pendirinya, Sugita dan Evelina Natadihardja.

Ia menuturkan, saus khas Boncafe terinspirasi dari pengalaman sang nenek di Singapura, lalu disesuaikan dengan lidah lokal.

“Steak kami memang bergaya Eropa, tetapi sudah disesuaikan dengan lidah orang Indonesia. Ada sentuhan cita rasa Nusantara, sehingga lebih cocok untuk selera masyarakat Surabaya dan Indonesia pada umumnya," tutur Andrew T. Prasetya.

"Bentuk pengalaman, memori, dan cintanya yang kuat saat makan bersama anak-anaknya itu yang tercipta sampai saat ini,” sambungnya.

Hingga kini, tenderloin dan chicken steak tetap menjadi dua menu terlaris. Sebab konsistensi rasa menjadi kunci, bahkan ketika jaman berubah.

Steak yang disajikan di atas hotplate bukan hanya soal rasa. Asap yang mengepul saat brown sauce dituangkan menghadirkan sensasi khas. Membangkitkan nostalgia, menghadirkan kembali tawa keluarga, dan mengulang kenangan masa muda.

Steak, keluarga, Surabaya, kuliner, museum, Menikmati Kelezatan Steak Legendaris Surabaya Sejak 1977

Andrew T. Prasetya sebagai generasi ketiga sebagai pemimpin Boncafe yang selama hampir setengah abad, salah satu restoran yang berada di Surabaya, Jawa Timur.

Perjalanan hampir 50 tahun tentu tidak selalu mulus. Ia mengakui, pada awal berdiri Boncafe sempat menjadi kafe dengan beragam menu sebelum akhirnya menemukan identitas kuat lewat steak hotplate.

Sejak itu, namanya perlahan mengukuhkan diri sebagai salah satu restoran ikonik di Surabaya. Bukan semata karena rasa, tetapi karena pengalaman makan bersama yang ditawarkan.


“Di tengah keadaan ekonomi yang tidak mudah, kita terus berusaha melakukan yang terbaik. Banyak hal tidak sempurna, tapi dinikmati saja,” kata pria berusia 38 tahun itu.

Menjaga Legacy, Menghidupkan Memori

Baginya, melanjutkan usaha keluarga bukan sekadar meneruskan bisnis, melainkan menjaga warisan nilai.

“Sebuah legacy atau peninggalan yang perlu untuk kita teruskan dan value-nya dijaga,” ucap pria lulusan Arsitek di Australia.

Ia menepis anggapan bahwa generasi ketiga hanya menikmati hasil kerja pendahulu. Setiap generasi, menurutnya harus berani bertanya What’s next?

“Saya bukan lulusan F&B tapi arsitek. Namun pengalaman sejak kecil sering diajak ke Boncafe memberi saya naluri dan connecting atas usaha ini,” imbuhnya.

Steak, keluarga, Surabaya, kuliner, museum, Menikmati Kelezatan Steak Legendaris Surabaya Sejak 1977

Hotplate salah satu yang dipajangan yang hadir di museum mini di dalam restoran sebagai etalase perjalanan Boncafe selama hampir setengah abad, selain buku menu lawas, kalender dari tahun ke tahun, hingga foto-foto lama yang ditemukan kembali dari gudang penyimpanan.

Salah satu inovasi yang kini menarik perhatian adalah hadirnya museum mini di dalam restoran. Ruang tersebut menjadi etalase perjalanan usaha keluarga selama hampir setengah abad.

“Kita ingin apa yang telah dilakukan selama 49 tahun itu tidak hilang dan agar generasi-generasi itu bisa kenal Boncafe yang dulu,” kata Andrew T. Prasetya.

Di sana, pengunjung dapat melihat buku menu lawas, hotplate klasik, kalender dari tahun ke tahun, hingga foto-foto lama yang ditemukan kembali dari gudang penyimpanan.

“'Dulu papa dan mama makan di sini harganya segini,' kalimat itu kan sebuah cerita yang bisa diceritakan ke generasi selanjutnya,” pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang