Dari Perantau Banjar ke Solo: Sejarah Bubur Samin Jayengan yang Tak Pernah Absen Saat Ramadhan

bubur samin, Solo, Dari Perantau Banjar ke Solo: Sejarah Bubur Samin Jayengan yang Tak Pernah Absen Saat Ramadhan

Masjid Darussalam yang terletak di Jayengan, Solo, Jawa Tengah selalu menghadirkan pemandangan unik setiap bulan Ramadhan.

Setiap sore hari, antrean warga tampak mengular di area masjid untuk menunggu pembagian bubur samin menjelang waktu berbuka puasa. 

Tradisi ini bukan hal baru, melainkan kebiasaan yang terus hidup sejak puluhan tahun yang lalu.

Tahun ini, pembagian bubur samin sudah dimulai sejak Kamis (19/2/2026) yang bertepatan dengan 1 Ramadhan 1447 Hijriah. 

Sejak pagi hari suasana dapur masjid tampak sibuk. Bahan dipotong, bumbu diracik, lalu diaduk dalam kuali besar untuk menyiapkan hidangan berbuka bagi masyarakat.

Pantauan di lokasi menunjukkan proses memasak berlangsung sejak sekitar pukul 09.30 WIB. 

Aktivitas terus berjalan hingga sore hari, saat warga mulai berdatangan menunggu waktu berbuka.

Pada hari kedua Ramadhan, Jumat (20/2/2026), bubur yang dibagikan setelah shalat Asar langsung habis. Dalam rentang sekitar pukul 15.00 hingga 16.00 WIB, sebanyak 1.200 porsi ludes dibawa pulang warga.

"Alhamdulillah kita bagikan setiap bulan Ramadhan kurang lebih selama 30 hari setelah shalat ashar," ujar Wakil Ketua Yayasan Darussalam Nur Cholish saat diwawancarai Kompas.com, Jumat.

"Kalau bahasa Jawanya 'mbabar' itu bisa sampai 1.500 porsi. 1.200 kita bagikan secara umum kepada masyarakat umum secara cuma-cuma dan yang 300 dibagikan pada saat takjil atau buka bersama di masjid," sambungnya.

Jejak Bubur Samin Banjar di Solo

Nur Cholish menjelaskan, bubur samin yang dibagikan setiap Ramadhan di Jayengan bukan sekadar tradisi kuliner, melainkan bagian dari perjalanan sejarah panjang komunitas Banjar di Solo. 

Tradisi pembagian bubur samin ini telah dilakukan Masjid Darussalam sejak tahun 1975 dan menjadi agenda tahunan yang selalu dinantikan masyarakat.

"Tradisi bubur samin di Jayengan telah berlangsung sejak puluhan tahun silam dan dikenal luas sebagai salah satu tradisi Ramadhan yang khas di Kota Surakarta," jelasnya.

"Bubur samin merupakan kuliner khas masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan, berbahan dasar beras, santan, minyak samin, daging sapi, susu, dan racikan rempah-rempah yang kaya cita rasa," sambung Nur Cholish.

Ia menuturkan, tradisi ini bermula dari kedatangan para saudagar dan perantau Banjar yang menetap di Jayengan sejak awal abad ke-20. 

Pada masa itu, bubur samin dimasak sebagai hidangan internal komunitas saat Ramadhan. 

Seiring berjalannya waktu, tradisi tersebut berkembang menjadi kegiatan berbagi yang terbuka untuk masyarakat luas.

bubur samin, Solo, Dari Perantau Banjar ke Solo: Sejarah Bubur Samin Jayengan yang Tak Pernah Absen Saat Ramadhan

Subadi, warga Solo, Jawa Tengah sedang memasak bumbu untuk pembuatan bubur samin khas Banjar, Kalimantan Selatan di Masjid Darussalam, Solo, Jawa Tengah pada Kamis (19/2/2026). Bubur ini akan dibagikan selama bulan Ramadhan kepada masyarakat. Tradisi ini sudah berlangsung sejak 1975 dan terus dilanjutkan hingga kini.

"Yang istimewa, pembagian bubur samin dilakukan tanpa membedakan latar belakang," tandas Nur Cholish.

"Tua dan muda, pria dan wanita, Muslim maupun non-Muslim, seluruhnya dapat merasakan dan menikmati sajian ini," sambungnya.

Nur Cholish menegaskan bahwa pembagian bubur samin mengandung nilai inklusivitas sehingga acara ini tidak hanya tradisi kuliner, tetapi juga tradisi sosial dan budaya yang mempersatukan.

Dalam praktiknya, proses memasak dilakukan secara gotong royong oleh takmir masjid, relawan, dan warga sekitar. 

Sejak siang hari, kuali besar mulai dipanaskan untuk menghasilkan ratusan hingga ribuan porsi setiap harinya selama Ramadhan.

Nur Cholish menambahkan, tradisi Bubur Samin Banjar di Jayengan sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Tahun 2025 oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. 

Pengakuan tersebut menjadi penguat bahwa tradisi lokal ini memiliki arti penting, bukan hanya bagi warga Jayengan, tetapi juga bagi khazanah budaya nasional.

bubur samin, Solo, Dari Perantau Banjar ke Solo: Sejarah Bubur Samin Jayengan yang Tak Pernah Absen Saat Ramadhan

Antrean warga di Masjid Darussalam, Solo, Jawa Tengah pada Jumat (20/2/2026) sore. Ribuan warga mengantre sejak siang untuk mendpat bubur samin yang dibagikan secara gratis oleh pihak masjid. Tradisi ini dilakukan setiap bulan Ramadhan sejak 1975. Sebanyak 1.200 porsi bubur samin langsung habis dalam waktu satu jam.

Dampak Sosial Tradisi Bubur Samin

Nur Cholish menjelaskan, bubur samin di Jayengan tidak hanya dimaknai sebagai hidangan berbuka, tetapi juga berpengaruh pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar.

Kawasan Jayengan sejak lama dikenal sebagai pusat perdagangan batu permata dan perhiasan di Surakarta. 

Aktivitas warga di sekitar Masjid Darussalam Jayengan selama Ramadhan, termasuk pembagian bubur samin, mempertemukan pedagang dan pengrajin dalam satu ruang interaksi. 

Pertemuan yang berlangsung berulang membangun kedekatan antarpelaku usaha hingga terbentuk komunitas Jayengan Kampoeng Permata yang menghimpun pedagang, pengrajin, serta pelaku usaha perhiasan setempat. 

"Komunitas ini berkembang menjadi identitas ekonomi kreatif Jayengan, memperkuat citra kawasan sebagai sentra permata di Surakarta," ujar Nur Cholish.

"Tradisi bubur samin menjadi salah satu momentum sosial tahunan yang mempertemukan para pelaku usaha, mempererat jaringan, sekaligus menghidupkan aktivitas ekonomi lokal," sambungnya.

bubur samin, Solo, Dari Perantau Banjar ke Solo: Sejarah Bubur Samin Jayengan yang Tak Pernah Absen Saat Ramadhan

Warga Solo dan sekitarnya sedang mengantre pembagian bubur samin khas Banjar, Kalimantan Selatan di Masjid Darussalam, Solo, Jawa Tengah, Jumat (20/2/2026) sore. Pihak masjid selalu membagikan bubur samin setiap bulan Ramadhan sejak 1975.

Ia juga menerangkan, kawasan Jayengan dihuni masyarakat beragam etnis, terutama Banjar, Jawa, dan Tionghoa. 

Hubungan sosial yang terjalin lama melahirkan akulturasi yang dikenal warga sebagai "Jarwono" alias Banjar, Jowo, Cino. 

Dalam antrean pembagian bubur samin, warga hadir tanpa sekat sosial maupun etnis sehingga kebersamaan tersebut dipandang sebagai simbol harmoni masyarakat.

"Istilah ini menggambarkan akulturasi budaya yang hidup secara alami. Para pedagang Banjar, warga Jawa lokal, serta komunitas Tionghoa saling berinteraksi dalam perdagangan, kegiatan sosial, maupun tradisi keagamaan," ungkap Nur Cholish.

Selain itu, antusiasme warga yang datang setiap sore saat pembagian bubur samin turut mendorong munculnya aktivitas ekonomi baru. 

Sepanjang Jalan Gatot Subroto di depan masjid bermunculan pedagang makanan dan minuman untuk berbuka yang kemudian berkembang menjadi pasar takjil musiman. 

Keberadaannya memberi penghasilan tambahan bagi pelaku UMKM dan pedagang kecil, sehingga tradisi bubur samin tidak hanya menghadirkan nilai spiritual, tetapi juga manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang