Hari Ini dalam Sejarah: Lion Air Kecelakaan di Solo pada 2004, Badan Pesawat Terbelah dan Tabrak Makam

kecelakaan pesawat, kecelakaan Lion Air, kecelakaan lion air 2004, pesawat lion air jt 538, kecelakaan lion air jt 538, kecelakaan pesawat lion air jt 538, Hari Ini dalam Sejarah: Lion Air Kecelakaan di Solo pada 2004, Badan Pesawat Terbelah dan Tabrak Makam

Tepat 21 tahun lalu, dunia penerbangan Indonesia berduka setelah pesawat Lion Air tergelincir di Bandara Adisumarmo, Solo, Jawa Tengah pada Selasa (30/11/2004).

Pesawat Lion Air jenis MD-82 dengan nomor penerbangan JT 538 itu terbang dari Jakarta menuju Solo sebelum mengalami kecelakaan.

Insiden tersebut menewaskan 23 orang dan melukai 61 orang lainnya. Sebagian korban merupakan warga Nahdlatul Ulama (NU) yang tengah dalam perjalanan untuk menghadiri Muktamar di Donohudan, Boyolali.

Saat kecelakaan terjadi, pesawat sedang dipiloti oleh kapten Dwi M dan kopilot Steven L.

Kecelakaan ini menyebabkan badan pesawat terbelah dua, sementara bagian bawah pesawat dari tengah hingga bagian depan mengalami kerusakan parah.

Kronologi Pesawat Lion Air Tergelincir di Solo 30 November 2004

Berdasarkan arsip Harian Kompas, Rabu (1/12/2004), kecelakaan yang dialami JT 538 bermula saat pesawat mendarat di Bandara Adisumarmo pada Selasa (30/11/2004) sekitar pukul 18.15 WIB.

Pesawat tergelincir ketika melakukan pendaratan di tengah cuaca buruk. Kondisi tersebut membuat pesawat tidak dapat dikendalikan hingga akhirnya menghantam pagar di ujung landasan.

Setelah itu, pesawat melaju dan jatuh di area pemakaman penduduk di Desa Ngesrep, Kecamatan Ngemplak.

Tergelincirnya pesawat membuat JT 538 menghantam pagar dan menabrak sejumlah makam.

Kecelakaan ini juga menyebabkan badan pesawat terbelah menjadi dua, sementara bagian bawah pesawat dari tengah hingga ke bagian depan hancur.

Cuaca Buruk Sudah Terjadi Ketika Berangkat dari Jakarta

Elvis, salah satu penumpang JT 538, mengatakan bahwa cuaca buruk sebenarnya sudah terjadi ketika pesawat tebang dari Jakarta.

Kepada Harian Kompas, Rabu (1/12/2004), ia menceritakan, pesawat sempat dijadwalkan berangkat menuju Solo pukul 17.00 WIB. Namun, JT 538 baru meninggalkan bandara 15 menit kemudian.

Ia menjelaskan, cuaca ketika berangkat sudah sangat buruk dan gelap disertai hujan deras serta petir.

Elvis yang duduk di tepi lorong mengaku, hampir sepanjang penerbangan ia menggunakan sabuk pengaman.

Pesawat juga terasa kerap terguncang akibat cuaca yang sangat tidak bersahabat.

Elvis menambahkan, awalnya ia tidak curiga dengan penerbangan JT 538 dan menganggap guncangan yang terjadi disebabkan oleh cuaca buruk.

“Saat ada kondisi tenang, kami lepas seat belt (sabuk pengaman), tetapi hampir dalam separuh perjalanan kami disuruh memakai seat belt. Pesawat berjalan naik dan turun,” ujarnya.

Berdasarkan pengakuan Elvis, JT 538 melakukan pendaratan seperti pesawat pada umumnya.

Namun, lampu di dalam pesawat tiba-tiba padam dan ia merasakan benturan saat pendaratan. 

"Saat itu kami semua terlonjak dan terempas," ungkap Elvis.

KH Yusuf Muhammad Meninggal

Total korban kecelakaan Lion Air JT 538 pada Selasa (30/11/2004) mencapai 84 orang dari 156 penumpang.

Jumlah korban terdiri dari 23 penumpang meninggal dan 61 orang luka-luka.

Salah satu korban meninggal adalah mantan Ketua Fraksi Kebangkitan Bangsa DPR RI KH Yusuf Muhammad.

Korban kecelakaan JT 538 dibawa ke beberapa rumah sakit (RS), seperti RS Dr Oen di Kandangsapi dan Solo Baru, RS Yarsis, RS Kasih Ibu, RS Islam Al Amin, serta RS Kustati. 

Namun, sebagian besar korban dievakuasi ke RS Yarsis yang terdiri atas sekitar 29 korban luka-luka, serta 14 meninggal dunia.

Setelah kecelakaan tersebut, Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur bersama istri dan anaknya menjenguk keluarga korban di RS Yarsis.

Saat Gus Dur tiba, jenazah KH Yusuf Muhammad baru saja tiba di RS tersebut.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang