Sejarah Timlo Solo, Kuliner Peranakan yang Jadi Ikon Kota Bengawan

kuliner Solo, makanan khas Jawa Tengah, timlo, Timlo, Kuliner Solo, makanan khas jawa tengah, timlo khas kota solo, Timlo Khas Solo, sejarah timlo Solo, sejarah makanan timlo solo, sejarah timlo, sejarah makanan timlo, timlo vs kimlo, Sejarah Timlo Solo, Kuliner Peranakan yang Jadi Ikon Kota Bengawan, Ciri Khas Timlo Solo, Asal-usul Timlo, Berakar dari Sup Cina Bernama Kimlo, Resep Kimlo Tua dari Tahun 1941, Dari Kimlo ke Timlo, Akulturasi Rasa Jawa dan Tionghoa, Warung Timlo Legendaris di Solo

Timlo Solo menjadi salah satu kuliner khas yang selalu diburu wisatawan ketika berkunjung ke Kota Surakarta. Hidangan berkuah bening dengan isian sosis Solo, telur pindang, serta ati ampela ini bukan hanya lezat, tetapi juga menyimpan sejarah panjang yang melekat dengan perjalanan budaya warga Solo dan komunitas Tionghoa.

Kuliner ini bahkan dianggap sebagai salah satu warisan gastronomi yang memperkaya identitas kuliner Solo dan makanan khas Jawa Tengah.

Berikut sejarah timlo berdasarkan buku Timlo dan Tionghoa Solo.

Ciri Khas Timlo Solo

Timlo Solo mengingatkan pada perpaduan antara soto dan sup. Dalam buku Saeroji dan Wijaya (2017), timlo dijelaskan sebagai, “Masakan berkuah bening yang terdiri dari sosis Solo yang dipotong-potong, telur ayam pindang, dan irisan ati ampela ayam.”

Kuahnya bening namun kaya rempah, cocok disantap saat sarapan ataupun makan siang.

Timlo lazim disajikan bersama nasi putih karena kuahnya tidak mengandung karbohidrat seperti hidangan berkuah lainnya.

Meski kini menjadi ikon kuliner Solo, cita rasa timlo disebut-sebut sulit ditiru oleh daerah lain.

Asal-usul Timlo, Berakar dari Sup Cina Bernama Kimlo

Tak banyak yang mengetahui bahwa timlo merupakan hasil adaptasi dari kimlo, sup tradisional Tionghoa yang telah lama berkembang di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kimlo masuk ke Indonesia lewat para saudagar Cina dan menjadi makanan populer di kawasan Pecinan pada abad ke-19.

Jejak sejarah kimlo juga tercatat dalam pengalaman seorang wisatawan asal Belanda, Justus van Maurik, dalam bukunya Indrukken Van Een Totok (1897).

Ia menuliskan pengalamannya mencicipi sup kimlo dari penjual keliling Tionghoa.

Dikisahkan, kimlo disajikan dalam mangkuk dan sendok porselen biru, dan pembelinya menikmati sambil jongkok hanya dengan membayar beberapa sen.

Resep Kimlo Tua dari Tahun 1941

kuliner Solo, makanan khas Jawa Tengah, timlo, Timlo, Kuliner Solo, makanan khas jawa tengah, timlo khas kota solo, Timlo Khas Solo, sejarah timlo Solo, sejarah makanan timlo solo, sejarah timlo, sejarah makanan timlo, timlo vs kimlo, Sejarah Timlo Solo, Kuliner Peranakan yang Jadi Ikon Kota Bengawan, Ciri Khas Timlo Solo, Asal-usul Timlo, Berakar dari Sup Cina Bernama Kimlo, Resep Kimlo Tua dari Tahun 1941, Dari Kimlo ke Timlo, Akulturasi Rasa Jawa dan Tionghoa, Warung Timlo Legendaris di Solo

Sajian timlo di Timlo Maestro, Solo.

Resep kimlo juga muncul dalam buku masakan Poetri Dapoer (1941) karya Lie Hiang Hwa, seorang perempuan Tionghoa. Bahan-bahan yang digunakan antara lain:
  • bawang merah
  • daging
  • garam dan kecap
  • air
  • soun
  • jamur kuping
  • kincam
  • udang basah atau ebi
  • kentang
  • kubis

Cara memasaknya pun rinci yakni menumis bawang merah, memasak daging hingga putih, menambahkan kecap, lalu memasukkan soun, jamur kuping, ebi, serta kentang dan kubis.

Hidangan ini disajikan dengan taburan bawang goreng dan merica halus, serta tambahan cuka untuk mengurangi aroma udang.

Dari Kimlo ke Timlo, Akulturasi Rasa Jawa dan Tionghoa

Seiring perkembangan zaman, warga Solo mulai bereksperimen dengan kimlo. Dari proses panjang kontak budaya, muncullah inovasi yang mengadaptasi bahan dan cita rasa ke selera Jawa.

Perubahan paling mencolok adalah penggantian daging babi yang umumnya digunakan dalam kimlo Tionghoa, dengan telur pindang dan jeroan ayam.

Bahan-bahan ini lebih sesuai dengan kebiasaan kuliner masyarakat Solo, sekaligus memperluas konsumen termasuk umat Muslim.

Selain itu, hadirnya sosis Solo sebagai isian menjadikan timlo semakin memiliki karakter khas yang tidak ditemukan pada sup kimlo.

Perubahan nama dari “kimlo” menjadi “timlo” pun diyakini sebagai hasil penyesuaian fonetik yang lebih akrab di tengah masyarakat Jawa.

Warung Timlo Legendaris di Solo

kuliner Solo, makanan khas Jawa Tengah, timlo, Timlo, Kuliner Solo, makanan khas jawa tengah, timlo khas kota solo, Timlo Khas Solo, sejarah timlo Solo, sejarah makanan timlo solo, sejarah timlo, sejarah makanan timlo, timlo vs kimlo, Sejarah Timlo Solo, Kuliner Peranakan yang Jadi Ikon Kota Bengawan, Ciri Khas Timlo Solo, Asal-usul Timlo, Berakar dari Sup Cina Bernama Kimlo, Resep Kimlo Tua dari Tahun 1941, Dari Kimlo ke Timlo, Akulturasi Rasa Jawa dan Tionghoa, Warung Timlo Legendaris di Solo

Pedagang melakukan transaksi dengan calon pembeli di Pasar Gede Solo, Jawa Tengah, Selasa (2/9/2025). Berdasarkan Pusat Data statistik (BPS), perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Indonesia pada bulan Agustus 2025 terjadi deflasi sebesar 0,08 persen (month-to-month). Secara tahunan, terjadi inflasi sebesar 2,31 persen, dan secara tahun kalender terjadi inflasi sebesar 1,60 persen.

Jika ingin mencicipi kuliner ini, sejumlah warung timlo legendaris di Solo menjadi tujuan favorit wisatawan.

1. Timlo Sastro – Pasar Gede

Terletak di sudut belakang Pasar Gede, Warung Timlo Sastro berdiri sejak 1958. Pengunjung disarankan datang sebelum jam makan siang karena tempat ini nyaris selalu penuh.

Meski tampil sederhana, rasa timlo di sini terkenal gurih, kaya kaldu, dan konsisten sejak puluhan tahun lalu. Warung ini juga menyediakan layanan bungkus untuk dibawa pulang.

2. Timlo Maestro – Jalan KH Ahmad Dahlan

Warung Maestro mulai populer pada awal 2000-an. Kuahnya yang gurih-segar serta isian yang melimpah menjadikannya salah satu timlo terenak di Solo. Meski tempatnya sederhana, pembeli kerap kembali karena rasa timlonya yang membuat ketagihan.

3. RM Timlo Solo – Jebres

Berlokasi di Jalan Jenderal Urip Sumoharjo No. 94, RM Timlo Solo juga dikenal sebagai tempat menikmati timlo dengan isian komplit dan sosis yang lezat. Setiap hari warung ini ramai didatangi pecinta kuliner lokal maupun wisatawan.

Hingga kini, timlo Solo bukan sekadar kuliner, tetapi juga wujud akulturasi antara budaya Jawa dan Tionghoa yang bertahan lebih dari seabad.

Cita rasa yang unik, sejarah panjang, serta kehadirannya di warung-warung legendaris membuat timlo menjadi salah satu ikon kuliner Kota Solo yang tak lekang waktu.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.