1.200 Porsi Bubur Samin di Masjid Darussalam Solo Ludes dalam Satu Jam

bubur samin, 1.200 Porsi Bubur Samin di Masjid Darussalam Solo Ludes dalam Satu Jam

Sebanyak 1.200 porsi bubur samin khas Banjar, Kalimantan Selatan, yang dibagikan di Masjid Darussalam, Solo, Jawa Tengah, pada Jumat (20/2/2026) sore, ludes hanya dalam waktu satu jam.

Pembagian bubur ini telah berlangsung sejak Kamis (19/2/2026) yang bertepatan dengan 1 Ramadhan 1447 Hijriah. 

Pihak masjid mulai membagikan bubur sekitar pukul 15.00 WIB setelah waktu shalat ashar.

Ribuan warga datang silih berganti memadati kawasan Masjid Darussalam yang berada di Jayengan, Kecamatan Serengan. Mereka membawa wadah makan masing-masing untuk mendapatkan jatah bubur samin.

Warga rela berdesak-desakan menunggu pembagian bubur samin yang memang rutin digelar setiap bulan Ramadhan. 

Satu panci berukuran raksasa berisi bubur samin pun langsung habis sekitar pukul 16.00 WIB.

Tradisi pembagian bubur samin ini telah dilakukan Masjid Darussalam sejak tahun 1975 dan menjadi agenda tahunan yang selalu dinantikan masyarakat.

"Alhamdulillah kita bagikan setiap bulan Ramadhan kurang lebih selama 30 hari setelah shalat ashar," ujar Wakil Ketua Yayasan Darussalam Nur Cholish kepada Kompas.com, Jumat.

"Kalau bahasa Jawanya 'mbabar' itu bisa sampai 1.500 porsi. 1.200 kita bagikan secara umum kepada masyarakat umum secara cuma-cuma dan yang 300 dibagikan pada saat takjil atau buka bersama di masjid," tambahnya.

Pembuatan Bubur Samin Habiskan 40–50 Kg Beras

Nur Cholish menjelaskan, proses pembuatan bubur samin membutuhkan waktu yang cukup panjang. 

Persiapan bahan sudah dimulai sejak pagi hari, sementara proses memasak dimulai sekitar pukul 11.00 WIB.

Seluruh bahan yang telah disiapkan kemudian dimasukkan ke dalam panci berukuran besar untuk dimasak secara perlahan.

Bahan yang digunakan pun beragam. Pihak masjid menyiapkan sekitar 40 buah kelapa untuk dijadikan santan, serta bawang bombai, wortel, daging, hingga empon-empon, seperti jahe dan kapulaga.

Khusus beras yang menjadi bahan utama pembuatan bubur, pihak masjid harus menyiapkan beras sebanyak 40-50 kilogram.

"Itu kemudian dimasak dan harus diaduk sampai (waktu) ashar," jelas Nur Cholish.

Ia menambahkan, warga diperbolehkan mengantre selama persediaan bubur masih tersedia. 

Jika stok habis, masyarakat masih bisa menikmati bubur saat waktu berbuka puasa.

Pihak masjid sengaja menyediakan sekitar 300 porsi tambahan untuk takjil dan buka bersama bagi jemaah yang masih menunggu.

"Selagi masyarakat minta, selagi ada kita kasih, kalau enggak ada, kadang-kadang menunggu di waktu makan takjil atau buka bersama itu," ungkap Nur Cholish.

Berdasarakan pantauan Kompas.com, Kamis (19/2/2026) pagi, pembuatan bubur memang sudah dimulai dengan proses memotong bahan.

Proses memotong bahan dilakukan oleh ibu-ibu yang merupakan warga sekitar, sementara proses memasak dikerjakan bapak-bapak.

bubur samin, 1.200 Porsi Bubur Samin di Masjid Darussalam Solo Ludes dalam Satu Jam

Warga Bekonang, Sukoharjo, Rismawati (kiri), setelah mendapat jatah bubur samin yang dibagikan secara gratis di Masjid Darussalam, Solo, Jawa Tengah, Jumat (20/2/2026) sore.

Alasan Warga Ikut Berebut Bubur Samin

Bubur samin gratis dari Masjid Darussalam tidak hanya dinikmati warga Solo, tetapi juga masyarakat dari daerah sekitar.

Rismawati, warga Bekongan, Sukoharjo, Jawa Tengah, turut mengantre sejak pukul 15.00 WIB bersama temannya. Ia membawa kantong berisi beberapa wadah makanan untuk menampung bubur.

Rismawati mengaku, bubur yang didapatkannya tidak akan dimakan sendiri. Ia berencana membagikannya kepada teman serta keponakannya yang sedang sakit.

"Saya dari belakang sana (antre dari pemukiman warga)," ujar Rismawati kepada Kompas.com.

Ia menceritakan, dirinya mulai berburu bubur samin di Masjid Darussalam sejak Ramadhan 2024 dan sejak saat itu tidak pernah absen mengantre.

"Khasnya ini yang dinanti-nanti itu memang rasa yang seperti ini," ungkap Rismawati.

"Buburnya memang rasanya beda. Itu kayak rempah-rempah Arab. Beda, enggak pernah didapatkan," tambahnya.

Hal serupa juga dilakukan Fadhila, warga Mojolaban, Sukoharjo, yang telah datang berburu bubur samin selama dua hingga tiga tahun terakhir.

Menurutnya, bubur samin buatan Masjid Darussalam layak dicoba karena memiliki cita rasa rempah yang khas dan berbeda dari bubur pada umumnya. Rasanya sudah pas sehingga tidak perlu tambahan topping maupun saus.

"Enggak (ditambahkan apa-apa), cukup gini aja," katanya kepada Kompas.com.

Fadhila mengapresiasi konsistensi Masjid Darussalam yang terus membagikan bubur samin setiap tahun karena dinilai sangat membantu masyarakat, terutama selama bulan puasa.

"Apalagi di bulan Ramadhan kan. Pahala juga buat takmir Darussalam," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang