Tembok Ratapan Solo Ramai di Media Sosial, Ini Sejarah Tembok Ratapan yang Asli

Tembok Ratapan Solo, Tembok Ratapan Solo Ramai di Media Sosial, Ini Sejarah Tembok Ratapan yang Asli

Penanda lokasi Tembok Ratapan Solo di Google Maps mendadak viral dan menjadi perbincangan warganet.

Label tersebut muncul pada kediaman Mantan Presiden ke-7 RI Joko Widodo di Jalan Kutai Utara Nomor 1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Solo, Jawa Tengah.

Dikutip dari (16/2/2026), penamaan itu sempat memicu kebingungan publik karena tidak sesuai dengan konteks historis istilah “Tembok Ratapan”.

Ajudan Jokowi, AKBP Syarif Fitriansyah, menyatakan pihaknya mengetahui adanya penandaan tersebut, namun belum mengetahui sejak kapan label itu muncul di Google Maps.

Adapun saat Kompas.com mencoba menelusuri Tembok Ratapan Solo di Google Maps, sejumlah titik ini sudah dihapus.

Apa Itu Tembok Ratapan di Yerusalem?

Istilah “Tembok Ratapan” sendiri sebenarnya merujuk pada situs bersejarah di Yerusalem, Israel, yang dikenal secara internasional sebagai Western Wall.

Dilansir dari Encyclopaedia Britannica, Western Wall merupakan bagian dari tembok penahan kuno yang mengelilingi kompleks Bait Suci Kedua (Second Temple) di Kota Tua Yerusalem.

Struktur ini menjadi satu-satunya bagian yang masih tersisa setelah Bait Suci dihancurkan oleh pasukan Romawi pada tahun 70 Masehi.

Secara arsitektural, tembok ini tersusun dari balok-balok batu kapur berukuran besar yang sebagian berasal dari masa pemerintahan Raja Herodes Agung pada abad pertama Sebelum Masehi.

Bagian bawah tembok terdiri dari batu-batu besar dengan teknik pemotongan khas era Herodian, sementara bagian atasnya mengalami penambahan pada periode selanjutnya.

Lokasinya berada di sisi barat kawasan Temple Mount, atau yang juga dikenal sebagai Haram al-Sharif dalam tradisi Islam.

Kawasan ini merupakan titik suci yang memiliki makna penting bagi tiga agama besar dunia: Yahudi, Kristen, dan Islam.

Makna Religius dan Tradisi Doa

Bagi umat Yahudi, Western Wall adalah tempat paling suci yang dapat diakses untuk berdoa.

Hal ini karena tembok tersebut berada paling dekat dengan lokasi Bait Suci yang diyakini sebagai pusat ibadah kuno bangsa Yahudi.

Nama “Wailing Wall” atau “Tembok Ratapan” muncul dari praktik doa dan ratapan yang dilakukan di sana, terutama sebagai ungkapan duka atas kehancuran Bait Suci.

Hingga kini, jutaan peziarah dari berbagai negara datang setiap tahun untuk berdoa di depan tembok tersebut.

Salah satu tradisi yang paling dikenal adalah menyelipkan secarik kertas berisi doa atau harapan ke dalam celah-celah batu tembok.

Kertas-kertas itu secara berkala dikumpulkan dan diperlakukan secara hormat sesuai tradisi keagamaan.

Area di depan tembok juga telah ditata menjadi plaza luas yang digunakan untuk ibadah, perayaan keagamaan, hingga upacara kenegaraan di Israel.

Tempat ini terbuka untuk umum, dengan aturan berpakaian dan tata tertib tertentu yang harus dipatuhi pengunjung.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang