Sejarah Grebeg Sudiro Solo, Tradisi Karnaval Imlek Khas Sudiroprajan
Menjelang Tahun Baru Imlek, kawasan Pasar Gede dan kampung Sudiroprajan di Solo selalu ramai oleh karnaval budaya Grebeg Sudiro.
Tradisi ini menjadi simbol harmonisasi antara etnis Jawa dan Tionghoa, yang telah hidup berdampingan selama berabad-abad.
Tahun ini Grebeg Sudiro digelar pada Sabtu (14/2/2026) dengan rute mulai dari Bundaran Pasar Gede.
Lantas, bagaimana sejarah lahirnya Grebeg Sudiro?
Sudiroprajan, kampung Pecinan dan interaksi Etnis
Menurut Indonesian Journal of Religion and Society (2020), Sudiroprajan awalnya dihuni masyarakat Jawa, sebagian besar abdi dalem dan selir Keraton Kasunanan Surakarta.
Pada abad ke-15 hingga ke-19, imigran Tionghoa datang ke Solo untuk berdagang. Banyak yang menetap di sekitar Pasar Gede dan kemudian membentuk kawasan pecinan.
Kedekatan hunian memunculkan interaksi sosial yang intens, sehingga kedua etnis mulai saling mengenal, membangun hubungan baik, dan berbagi tradisi.
Sejarah ini menunjukkan bahwa pembauran sosial bukan terjadi secara instan.
Pembaruan terjadi melalui interaksi ekonomi, budaya, dan kehidupan sehari-hari, yang kemudian menjadi fondasi bagi tradisi lokal seperti Grebeg Sudiro.
Lahirnya Grebeg Sudiro
Grebeg Sudiro resmi lahir pada 2007 atas inisiatif tokoh masyarakat Sudiroprajan. Tradisi ini memadukan unsur Grebeg dari budaya Jawa dengan identitas lokal kampung Sudiro.
Untuk diketahui, masyarakat menggunakan Grebeg sebagai peringatan acara keagamaan.
Acara ini menampilkan kirab gunungan kue keranjang, kesenian lion barongsai, dan wayang potehi, yang dimainkan bersama oleh warga Jawa dan Tionghoa.
Bersatunya sejumlah elemen ini menunjukkan bahwa Grebeg Sudiro bukan milik satu etnis, tetapi menjadi representasi keberagaman dan inklusivitas masyarakat Sudiroprajan.
Selain itu, Grebeg Sudiro juga menjadi simbol hubungan harmonis yang berhasil terjaga meski Surakarta pernah menghadapi konflik sosial, termasuk kerusuhan pada Mei 1998.
Masyarakat Sudiroprajan tetap menjaga keamanan dan solidaritas antar-etnis, sehingga tradisi ini tumbuh tanpa gesekan budaya yang berarti.
Pelaksanaan Grebeg Sudiro tahun ini
Ketua Grebeh Sudiro 2026 Arsatya Putra Utama menyatakan, sebanyak 5.000 kue keranjang nantinya akan diperebutkan warga.
"Ada 5.000 kue keranjang dihadirkan dalam bentuk jodang lanang wadon dan nanti kita akan juga melakukan pelemparan kue keranjang setelah peserta karnaval melewati garis finis," ujar Arsatya, dikutip dari Kompas.com, Jumat (13/2/2026).
Karnaval budaya Grebeg Sudiro mengambil rute sebagai berikut:
- Pasar Gede - Jalan Jenderal Sudirman - Jalan Mayor Kusmanto - Jalan Kapten Mulyadi - Jalan RE Martadinata - Jalan Cut Nyak Dien - Jalan Juanda - Jalan Urip Sumoharjo - Pasar Gede.
Untuk mendukung kelancaran acara, Dinas Perhubungan Solo melakukan rekayasa lalu lintas.
Kepala Bidang Lalu Lintas, Andri Wahyudi, menjelaskan tentang rekayasa lalu lintas selama Grebeg Sudiro berlangsung.
"Perkiraan jam 12 siang atau menyesuaikan situasi. Bundaran Pasar Gede sebagai start kirab budaya. Setelah peserta berkumpul, kita tutup jalur tersebut," terang Andri.
Selain itu, sebanyak 40–50 personel bidang lalu lintas diterjunkan untuk mengatur keamanan dan kelancaran acara.
Sementara warga dapat memanfaatkan kantong-kantong parkir yang disiapkan, seperti Gedung Parkir Ketandan, Benteng Vastenburg, Jalan Arifin, taman parkir Loji Wetan, dan barat Pasar Gede.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang