Rahasia Bubur Samin Masjid Darussalam Solo yang Buat Warga Rela Antre Sejak Subuh
Antrean warga sudah terlihat sejak dini hari di halaman Masjid Darussalam, Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Solo, Jawa Tengah, Kamis (19/2/2026).
Di tengah hujan rintik, mereka datang membawa wadah masing-masing untuk mendapatkan bubur samin khas Banjar yang dibagikan gratis setiap Ramadan.
Tradisi ini telah berlangsung sejak pertengahan 1980-an dan selalu menjadi magnet warga Solo dan sekitarnya.
Dari dapur masjid, bubur dimasak dalam jumlah besar dengan proses yang memakan waktu berjam-jam sebelum akhirnya dibagikan usai Salat Ashar.
Takmir Masjid Darussalam Noor Cholish mengatakan, warga sudah mulai mengantre sejak pukul 02.30 WIB.
Pembagian dilakukan setelah Salat Ashar, dengan sebagian bubur juga disajikan untuk jamaah yang berbuka puasa bersama di masjid.
"Di Ramadhan ini, seperti biasa kita membagikan kurang lebih 1.500 porsi bubur samin. Sekitar 1.200 porsi dibagikan kepada masyarakat umum," ungkap Noor Cholish, dikutip dari , Kamis (19/2/2026).
Antusiasme warga tak hanya datang dari Solo, tetapi juga dari daerah sekitar seperti Karanganyar, Sukoharjo, Boyolali, Klaten, hingga Semarang.
Tradisi membagikan bubur ini terbuka untuk siapa saja tanpa memandang agama.
Antrean panjang sejak subuh
Bagi sebagian warga, menikmati bubur samin telah menjadi bagian dari rutinitas Ramadan.
Marsiati (70), warga Gajahan, mengaku sudah puluhan tahun menikmati hidangan tersebut.
"Di sini berkah puasanya. Rasanya enak banget. Selama bukan Ramadhan, kadang seminggu sekali sampai dua kali saya rutin ke sini buat keluarga," ucapnya.
Setiap hari selama Ramadan, ratusan warga mengular di halaman masjid. Mereka membawa ember, rantang, hingga panci untuk menampung bubur yang dibagikan gratis.
Sekitar 200–300 porsi lainnya dinikmati langsung di masjid untuk buka bersama, lengkap dengan kopi khas Masjid Darussalam.
Dimasak 2–3 Jam dengan 50 Kg Beras
Dilansir dari Tribun Solo pada Jumat (20/2/2026), proses memasak bubur dimulai sejak pukul 11.00–11.30 WIB.
Beras sebanyak 45–50 kilogram diolah untuk menghasilkan lebih dari seribu porsi bubur setiap harinya.
Air direbus terlebih dahulu sebelum dicampur santan, susu cair, dan bumbu khas.
Juru masak masjid bersama beberapa pria dewasa terus mengaduk selama 2–3 jam agar bubur tidak mengendap.
Bahan yang digunakan antara lain beras, daging sapi atau ayam sekitar 4 kilogram, bawang merah, bawang putih, serta aneka rempah seperti kayu manis, pala, kapulaga, jahe, lengkuas, dan cengkeh.
Minyak samin menjadi kunci cita rasa gurih sekaligus memberi warna kekuningan hingga cokelat khas pada bubur.
Setelah matang, bubur biasanya disajikan dengan tambahan topping seperti kacang goreng, ikan teri, tomat, atau telur sesuai selera.
Tradisi perantau Banjar yang mengakar di Solo
Meski identik dengan Solo, bubur samin berasal dari Banjar, Kalimantan Selatan.
Tradisi ini dibawa para perantau Banjar yang menetap di Jayengan sekitar 1980-an sebagai pengobat rindu kampung halaman sekaligus mempererat tali persaudaraan.
Pada 1986, pembagian bubur kepada masyarakat umum mulai dilakukan di Masjid Darussalam.
Sejak saat itu, tradisi ini terus berlangsung setiap Ramadan dan menjadi bagian dari identitas kultural kawasan tersebut.
Pelaksana Harian (Plh) Wali Kota Solo Astrid Widiyani yang hadir pada hari pertama Ramadan mengapresiasi keberlanjutan tradisi tersebut.
"Hari ini merupakan lanjutan tradisi yang sudah bertahun-tahun berjalan di Jayengan. Tradisi pembagian bubur samin ini menunjukkan Kota Solo sebagai kota toleransi sekaligus menjadi wujud nyata menyambut Ramadhan. Kami berharap tradisi ini terus dijaga," katanya.
Pemerintah Kota Solo turut mendukung dengan menyediakan bantuan beras hingga 1,5 ton selama Ramadan.
Sementara kebutuhan operasional harian sekitar Rp 3 juta dipenuhi dari donatur, baik dalam bentuk uang maupun bahan makanan.
Bubur samin pun tak sekadar menjadi sajian berbuka, tetapi juga simbol solidaritas, toleransi, dan warisan budaya yang terus dijaga lintas generasi di Kota Bengawan.
Sebagian artikel ini telah tayang di TribunSolo.com dengan judul Sejarah Bubur Samin : Takjil Legendaris Ramadhan di Solo, Dibawa oleh Para Perantau Banjar.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang