Bitcoin Anjlok 50 Persen, Masih Layak Serok atau Saatnya Jual? Ini Jawaban Pakar
Harga Bitcoin kembali bikin jantung investor deg-degan. Setelah sempat terbang tinggi, aset kripto terbesar di dunia ini kini terperosok tajam, memicu pertanyaan klasik: apakah ini momen beli murah, sinyal untuk kabur, atau justru waktu terbaik untuk tetap tenang dan bertahan?
Kondisi pasar global yang penuh ketidakpastian, volatilitas yang meningkat, serta sikap investor yang makin hati-hati membuat pergerakan kripto kembali liar.
Sebagaimana diketahui, Bitcoin turun dari puncaknya di atas US$126.000 atau sekitar Rp2,12 miliar pada Oktober menjadi di bawah US$64.000 atau sekitar Rp1,07 miliar. Artinya, terjadi penurunan sekitar 50 persen hanya dalam beberapa bulan.
Koreksi ini terjadi meski sebelumnya ada sentimen positif seperti peluncuran ETF spot Bitcoin dan dukungan kebijakan yang lebih ramah kripto.
Secara historis, kripto memang dikenal bereaksi lebih ekstrem dibanding aset tradisional saat volatilitas pasar naik. Tidak seperti saham atau obligasi, harga kripto sangat dipengaruhi sentimen dan likuiditas. Saat nafsu risiko investor turun, harga bisa bergerak tajam ke bawah.
John Blank, kepala strategi ekuitas di Zacks Investment Research mengatakan, Bitcoin sangat bergantung pada permintaan berkelanjutan, yang bisa membuat harga “meledak naik dan turun” ketika pembeli atau penjual mundur. Ia bahkan memperingatkan harga kripto ini bisa jatuh hingga US$40.000 atau sekitar Rp672 juta jika pelemahan berlanjut.
Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan investor? Penasihat keuangan menekankan bahwa tidak ada satu jawaban benar untuk semua orang. Keputusan sangat tergantung pada rencana keuangan pribadi dan seberapa kuat Anda menahan gejolak harga.
Vered Frank, perencana keuangan bersertifikat sekaligus pendiri StackWealth, mengatakan, volatilitas Bitcoin baru-baru ini adalah pengingat bahwa kripto masih merupakan aset spekulatif, bukan fondasi utama sebagian besar portofolio. "Penurunan besar setelah periode euforia menunjukkan betapa berisikonya mengandalkan bitcoin sebagai strategi utama membangun kekayaan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari CNBC, Jumat, 6 Februari 2026.
Ia menyarankan agar kripto tetap menjadi bagian kecil dari portofolio yang terdiversifikasi. “Alokasi 1 sampai 5 persen bisa masuk akal bagi investor dengan fondasi keuangan kuat dan toleransi risiko tinggi. Penurunan pasar tidak mengubah peran kripto, justru menegaskan ketidakpastiannya,” ungkapnya.
Sebagian penasihat bahkan menilai volatilitas bukan cacat, melainkan karakter utama Bitcoin. Douglas Boneparth, perencana keuangan bersertifikat dan anggota CNBC Financial Advisor Council, mengatakan, volatilitas adalah fitur, bukan bug, pada bitcoin.
Ia menilai Bitcoin bisa punya tempat dalam portofolio bagi investor bertoleransi risiko tinggi yang melihatnya sebagai penyimpan nilai jangka panjang, bukan instrumen trading cepat. “Jika Anda membeli bitcoin karena percaya itu kelas aset sah dengan peluang jangka panjang, Anda harus bertanya pada diri sendiri apa yang sebenarnya berubah dengan penurunan terbaru ini,” kata dia.
Namun perlu diingat, berbeda dari saham atau obligasi, Bitcoin tidak menghasilkan arus kas atau pendapatan. Imbal hasil jangka panjang sangat bergantung pada kenaikan harga dan kesiapan investor menghadapi fluktuasi tajam.
Frank juga menegaskan kripto bukan kebutuhan utama dalam rencana keuangan. “Bagi kebanyakan orang, kripto hanya masuk akal sebagai bagian kecil dari portofolio terdiversifikasi dan dalam jumlah yang siap untuk hilang. Kripto tidak seharusnya menggantikan saham, obligasi, atau dana darurat,” ungkapnya.