Harga Bitcoin Diprediksi Anjlok ke Rp1 Miliar, Ada Apa?
Pergerakan harga Bitcoin kembali memasuki fase penuh ketidakpastian. Setelah sempat bertahan di atas level psikologis penting, aset kripto terbesar di dunia ini justru kehilangan sejumlah area support krusial.
Tekanan pasar global, sentimen risk-off, hingga aksi jual investor besar membuat volatilitas Bitcoin kembali meningkat tajam. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa koreksi harga Bitcoin belum berakhir. Sejumlah analis teknikal dan data on-chain terbaru menunjukkan bahwa pasar kripto tengah memasuki fase rapuh.
Bahkan, beberapa pengamat memperkirakan penurunan harga Bitcoin masih berpotensi berlanjut hingga level yang jauh lebih rendah.
Sebagaimana diketahui, harga Bitcoin tercatat turun hingga ke kisaran US$92.000 atau setara Rp1,55 miliar, setelah sebelumnya menembus beberapa level support. Penurunan ini terjadi di tengah sentimen risk-off global, kekhawatiran tarif terkait isu Greenland, aksi likuidasi oleh investor besar atau whale, serta tekanan pasar yang lebih luas.
Melansir dari CoinGape, Selasa, 20 Januari 2026, dalam 24 jam terakhir, harga Bitcoin tercatat melemah hampir 2 persen dan diperdagangkan di level US$90.889 atau setara Rp1,54 miliar. Harga terendah harian berada di US$90.833 atau setara Rp1,53 miliar, sementara level tertinggi mencapai US$93.358 atau setara Rp1,58 miliar.
Trader veteran Peter Brandt memperingatkan potensi penurunan harga Bitcoin yang lebih dalam. Ia memprediksi Bitcoin berpotensi anjlok ke kisaran US$58.000 hingga US$62.000, atau sekitar Rp980 juta hingga Rp1,04 miliar, dengan tetap mempertahankan pandangan bearish.
Brandt menyebutkan bahwa target harga US$58.000 berada sedikit di atas harga realisasi dan rata-rata pergerakan 200 minggu, yang kerap menjadi area krusial dalam siklus Bitcoin. Ia membagikan grafik harian Bitcoin yang menunjukkan pengulangan pola seperti yang terjadi saat kejatuhan pasar kripto pada Oktober.
Pandangan ini diperkuat oleh analis lain, termasuk Ali Martinez, yang menilai pola pergerakan Bitcoin saat ini mirip dengan fase pasar tahun 2022. Martinez menilai bahwa Bitcoin kerap mengikuti pola historisnya, sehingga potensi koreksi besar masih terbuka.
Sebelumnya, Brandt juga memperingatkan peluang besar penurunan harga Bitcoin setelah aset ini gagal bertahan di atas level psikologis US$100.000. Dalam grafik mingguan berskala logaritmik, ia menunjukkan bahwa Bitcoin masih memiliki ruang untuk turun lebih jauh, dengan batas bawah zona hijau berada di kisaran US$40.000-an.
Sementara itu, analis populer Cheds Trading menyoroti terbentuknya pola bear flag breakdown pada grafik Bitcoin timeframe empat jam. Menurutnya, level US$90.400 atau setara Rp1,52 miliar menjadi area support penting yang perlu diawasi.
Selain analisis teknikal, data on-chain juga mengindikasikan pelemahan pasar. Investor jangka pendek dan whale tercatat melakukan aksi jual setelah Bitcoin gagal bertahan di atas level US$97.000.
Reli pasar kripto terbaru dinilai lebih banyak didorong oleh pergerakan derivatif dan likuidasi posisi short, bukan oleh permintaan riil dari investor besar. Julio Moreno, Kepala Riset CryptoQuant, menyebutkan bahwa pemegang Bitcoin kini mulai merealisasikan kerugian.
Ia mengungkapkan bahwa metrik Bitcoin 30-day Realized Net Profit/Loss menunjukkan realisasi kerugian untuk pertama kalinya sejak Oktober 2023. Selain itu, Onchain Lens melaporkan bahwa sejumlah whale membuka posisi short baru pada Bitcoin.
Salah satu whale yang dikenal dengan sebutan “255 BTC Sold” bahkan telah menutup seluruh posisi long-nya di Bitcoin, Ethereum, Solana, dan Dogecoin, dengan total kerugian terealisasi sebesar US$2,64 juta atau setara Rp44,6 miliar.
Di sisi lain, platform analitik Glassnode menilai bahwa meski Bitcoin kembali melemah ke area US$90.000-an, momentumnya masih berada di atas level netral. Glassnode menilai Bitcoin lebih berpotensi bergerak dalam fase konsolidasi dibandingkan mengalami penurunan tajam dalam waktu dekat.
Namun, pelaku pasar derivatif tetap berhati-hati di tengah ketidakpastian yang tinggi. Metrik on-chain STH-NUPL, yang mengukur keuntungan atau kerugian belum terealisasi investor baru, menunjukkan bahwa investor jangka pendek masih berada dalam posisi rugi sejak November 2025.
Dengan kombinasi tekanan teknikal, sinyal on-chain yang melemah, serta ketidakpastian global, arah pergerakan Bitcoin ke depan masih penuh risiko. Investor pun dihadapkan pada dilema antara potensi konsolidasi atau koreksi lanjutan menuju level yang lebih rendah.