Konflik Timur Tengah, Kunjungan Turis ke Petra Yordania Anjlok 75 Persen

Jumlah wisatawan asing yang datang berkunjung ke Situs Kota Kuno Petra di selatan Yordania turun tajam hingga lebih dari 75 persen akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Dilansir dari Arab News, otoritas Petra Development and Tourism Region Authority mencatat hanya 16.207 wisatawan asing yang mengunjungi Petra pada Juni, data ini menunjukan adanya penurunan dibanding 68.349 wisatawan pada bulan yang sama tahun 2023.
Penurunan ini terjadi setelah pecahnya konflik bersenjata di kawasan, termasuk perang di Jalur Gaza yang dimulai pada Oktober 2023 serta meningkatnya permusuhan antara Iran dan Israel pada Juni.
Ketua Dewan Komisaris Petra Development and Tourism Region Authority, Fares Braizat, mengatakan konflik regional tersebut berdampak besar terhadap anjloknya jumlah wisatawan internasional yang datang ke Petra.
Data otoritas pariwisata juga menunjukkan penurunan signifikan pada paruh pertama 2025.
Jumlah pengunjung ke Petra tercatat 259.798 orang, termasuk 175.510 wisatawan asing, jauh lebih rendah dibanding 692.595 pengunjung dengan 606.000 wisatawan asing pada periode yang sama tahun 2023.
Selama konflik berlangsung, ruang udara di Timur Tengah bahkan sempat kosong dari lalu lintas penerbangan selama sekitar 12 hari, setelah Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran dan Teheran membalas dengan serangan rudal serta drone ke kota-kota Israel.
Amerika Serikat juga menargetkan tiga fasilitas nuklir di Iran.
Meski tidak ada peringatan perjalanan khusus ke Yordania dari negara Barat, sejumlah peringatan keamanan dikeluarkan untuk wilayah sekitar seperti Israel, Iran, dan kemudian Qatar ketika ketegangan meningkat.
Penurunan jumlah wisatawan juga diperparah dengan berkurangnya turis domestik dan wisatawan dari negara Arab, sehingga berdampak langsung pada pendapatan sektor pariwisata.
Padahal sekitar 85 persen penduduk Yordania bergantung pada sektor pariwisata, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dampak ekonomi mulai terasa di kawasan Petra
Presiden Petra Hotel Cooperative Association, Abdullah Hasanat, mengatakan lebih dari 90 persen pemesanan hotel dibatalkan, menyebabkan sejumlah hotel tutup dan terjadi pemutusan hubungan kerja.
Ia menambahkan, sebanyak 28 hotel dengan total 1.975 kamar terpaksa berhenti beroperasi, yang berarti sekitar 56 persen kapasitas kamar hotel di wilayah Petra tidak lagi digunakan.
Penurunan tajam ini menunjukkan betapa rentannya industri pariwisata terhadap konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama bagi destinasi yang sangat bergantung pada wisatawan internasional seperti Petra.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang