Terungkap! Penyebab Harga Bitcoin Anjlok ke Level Terendah, Cuan 11 Bulan Lenyap
Harga Bitcoin (BTC), anjlok ke level US$86.325,81 atau Rp 1,44 miliar (estimasi kurs Rp 16.730 per dolar AS). Ini menjadi level terendah sejak 21 April 2025. Koreksi terus berlanjut hingga pukul 15.54 WIB pada Jumat, 21 November 2025.
Dikutip dari data MarketCoinCap, Bitcoin diperdagangkan semakin murah di harga US$83.736,25 atau Rp 1,40 miliar per keping. Ini menunjukkan penurunan sebesar 9,13 persen dalam 24 jam terakhir dan 14,13 persen dalam sepekan.
Penurunan emas digital ini mulai terlihat sejak Senin malam, 17 November 2025, di mana harganya jatuh di bawah level psikologis US$90.000. Ini menjadi koreksi terdalam sejak tujuh bulan sekaligus melenyapkan keuntungannya selama 11 bulan terakhir.
Penyebab ambruknya Bitcoin lantaran para investor mulai menjauhi aset berisiko, seperti emiten saham terkait kecerdasan buatan (AI) dan pasar kripto. Sikap menghindari risiko ini membebani bitcoin, sebuah investasi yang sangat spekulatif dan volatil.
Bitcoin dan aset kripto.
Kondisi semakin buruk karena ketidakpastian pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) pada pertemuan bulan Desember 2025 mendatang. Anjloknya harga Bitcoin menyebabkan nilai pasar (market capitalization) merosot lebih dari US$600 miliar Rp 10.038 miliar selama masa tren penurunan berlangsung.
"Penurunan Bitcoin merupakan bagian dari pergeseran sentimen risiko yang lebih luas,” ujar Mitra Pengelola Global bursa kripto, OKX, Haider Rafique, yang dikutip dari CNN Internasional pada Jumat, 21 November 2025.
Tekanan Bitcoin semakin berat imbas aksi jual investor jangka panjang. Mereka memilih untuk melepas Bitcoin untuk mengambil atau mengamankan keuntungan yang sudah didapatkan selama beberapa tahun terakhir.
"Bitcoin mengalami kesulitan akibat tekanan jual dari pemegang jangka panjang yang mengambil untung, tetapi juga ketidakpastian seputar kebijakan Fed, kondisi likuiditas, dan kondisi makro lainnya," jelas Head of Global Market Insights di Hashdex Asset Management, Gerry O’Shea.
Sepakat, Kepala Presto Research, Peter Chung, mengatakan bahwa Bitcoin berada di bawah tekanan sejalan dengan aset berisiko lainnya, salah satunya harga saham AI. Penurunannya diperparah oleh faktor khusus kripto, jumlah pesanan yang menipis setelah likuidasi yang merugikan banyak pelaku pasar di sektor ini.
Ia menuturkan, Bitcoin telah berjuang untuk pulih secara signifikan sejak flash crash pada 10 Oktober 2025. Tepat ketika Presiden AS Donald Trump menyalakan api perang dagangnya dengan Tiongkok.
"Beberapa pembeli dan penjual telah meninggalkan pasar sejak saat itu, sehingga pesanan Bitcoin berkurang, membuat harganya lebih rentan terhadap volatilitas," imbuhnya.
Pada awal bulan Oktober 2025, aset kripto paling berharga ini melonjak ke harga US$126.000 yang merupakan level tertinggi sepanjang masa (all high time/ATH). Kenaikan pesat ini menjadi pertma sejak melampaui level US$100.000 pada awal Desember 2024 lalu.