Harga Perak Dunia Longsor di Awal Februari, Anjlok 28 Persen Imbas Aksi Ambil Untung
Logam mulia bergejolak setelah mencapai berturut-turut mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all high time/ATH). Pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026, harga perak dunia terpantau turun drastis melanjutkan tren koreksi akibat aksi jual besar-besaran yang terjadi di akhir pekan.
Harga perak spot turun lebih dari 6 persen menjadi US$78,86 sekitar Rp 1,32 juta (estimasi kurs Rp 16.760 per dolar AS) per ons di awal bulan Februari 2026. Penurunan ini melanjutkan pelemahan pada hari Jumat, 30 Januari 2026, jenis logam mulia ini tergerus 28 persen menjadi U$83,45.
Di pasar berjangka, kontrak perak terpantau sempat naik 2 persen ke level US$80,11 per ons. Volatilitas masih tinggi setelah kontrak berjangka perak ambruk hingga 28 persen pada Jumat, 28 Januari 2026, sekaligus menjadi penurunan harian terparah sejak Maret 1980.
Ilustrasi Perak
Dikutip dari CNBC Internasional, tekanan di pasar logam mulia setelah CME Group menaikkan persyaratan margin menyusul aksi jual tajam pekan lalu. Margin kontrak berjangka emas COMEX dinaikkan menjadi 8 persen dari sebelumnya 6 persen. Sementara margin kontrak berjangka perak COMEX ukuran 5.000 ons melonjak menjadi 15 persen dari sebelumnya 11 persen.
Anjloknya harga perak dan emas dipicu pembalikan sentimen yang agresif. Optimisme terkait potensi pemangkasan suku bunga AS berbenturan dengan perubahan ekspektasi pasar setelah Presiden AS Donald Trump menunjuk mantan Gubernur The Fed, Kevin Warsh, sebagai calon pengganti Jerome Powell.
“Perdagangan ‘Buy America’ kembali muncul, dan dorongan independensi yang sebelumnya mendorong emas dan perak ke level rekor ekstrem mulai runtuh,” ujar Ekonom Senior Interactive Brokers, José Torres, dikurip dari risetnya.
Menurut Kepala Asia dan Timur Tengah CMC Markets, Christopher Forbes, pelemahan harga emas dan perak lebih mencerminkan koreksi teknikal ketimbang perubahan arah tren jangka panjang. Ia menambahkan koreksi di logam mulia merupakan penuruna klasik setelah reli yang luar biasa.
“Aksi ambil untung, penguatan dolar AS, serta dinamika geopolitik terbaru dari Washington mengikis euforia di pasar karena tingginya permintaan," ungkap Forbes.
Sejak awal tahun 2026, harga perak masih naik sekitar 16 persen dan emas menguat sekitar 8 persen. Sepanjang tahun 2024, perak melonjak sekitar 145 persen dan emas naik sekitar 65 persen.
Forbes eraya memprediksi prospek bullish emas dan perak masih terbuka dalam horizon 12 bulan ke depan.
“Jika dolar kembali melemah atau Warsh menunjukkan sikap lebih dovish, pemburu harga murah akan kembali masuk,” pungkas Forbes.