Sejarah dan Makna Dumpling, Kuliner Khas Imlek yang Melambangkan Kekayaan

Tahun Baru Imlek bukan sekadar perayaan pergantian kalender bagi masyarakat Tionghoa dan beberapa negara di Asia. Di balik kemeriahannya, terdapat tradisi menyajikan hidangan yang diyakini membawa keberuntungan.
Salah satu kuliner yang paling representatif dan sarat akan makna budaya adalah dumpling atau pangsit.
Mengutip buku "Imlek dan Peleburan Budaya di Atas Piring" terbitan TEMPO Publishing, pangsit bukan hanya sekadar isian daging dan sayur yang dibungkus adonan tipis, melainkan sebuah simbol aspirasi untuk kehidupan yang lebih baik.
Sejarah Pangsit, berawal dari Tahun 220-280 SM
Berdasarkan catatan sejarah, pangsit pertama kali muncul pada awal periode Tiga Kerajaan sekitar tahun 220–280 SM. Namun, bentuk pangsit seperti yang kita kenal sekarang baru mulai tersaji di atas piring sebagai hidangan pada masa Dinasti Tang.
Kepopuleran pangsit mencapai puncaknya pada masa Dinasti Qing (1644–1911). Pada era tersebut, restoran pangsit menjamur di berbagai sudut kota.
Menariknya, tradisi ini juga merambah ke daerah minoritas etnis Barat.
Hal ini diperkuat dengan temuan arkeolog di Makam Astana Turpan pada tahun 1972, di mana ditemukan mangkuk kayu berisi benda berbentuk bulan sabit menyerupai pangsit dari zaman Dinasti Tang.
Temuan ini membuktikan bahwa tradisi makan pangsit sudah diturunkan sejak 1.300 tahun yang lalu.
Simbol Kemakmuran dan "Batangan Emas"
Ilustrasi dimsum atau dumpling di dalam kukusan.
Secara visual, pangsit berbentuk setengah bulan atau bulan sabit. Bentuk ini sering dianggap menyerupai batangan perak atau emas, mata uang yang digunakan pada masa Cina kuno.Oleh karena itu, memakan pangsit saat Festival Musim Semi atau Imlek dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan finansial.
Cara pembuatan dan penyajiannya pun tidak sembarangan karena mengandung aturan adat yang ketat:
- Lipatan Kulit: Pangsit harus memiliki jumlah lipatan yang bagus. Jika dibuat terlalu datar, hal itu dianggap sebagai simbol kemiskinan.
- Tata Letak: Pangsit harus diatur dalam barisan garis lurus, bukan lingkaran. Masyarakat meyakini bahwa menyusun pangsit secara melingkar melambangkan hidup yang hanya berputar-putar di tempat dan tidak menuju ke mana pun.
- Isian Keberuntungan: Terkadang, orang menyelipkan benang putih sebagai simbol umur panjang atau koin tembaga sebagai simbol kekayaan bagi siapa pun yang memakannya.
Makna di Balik Variasi Isian Pangsit
Setiap bahan yang menjadi isian pangsit memiliki filosofi tersendiri yang mencerminkan harapan bagi penyantapnya di tahun yang baru:
- Isian Seledri: Mewakili ketekunan dan kerja keras yang diharap dapat membuahkan kekayaan.
- Isian Kubis: Melambangkan berkah untuk kehidupan yang berkecukupan selama seratus tahun.
- Isian Jamur: Dianggap sebagai maskot untuk meningkatkan kekayaan dan keberuntungan.
- Isian Ikan: Berarti kelebihan kekayaan. Dalam pepatah populer Cina, hal ini mengungkapkan keinginan untuk selalu memiliki sisa makanan atau surplus setiap tahunnya.
- Isian Daging Sapi: Mewakili harapan akan pertumbuhan ekonomi yang kuat.
- Isian Kubis dan Lobak: Menyiratkan harapan agar kulit seseorang menjadi cerah dan suasana hati menjadi lebih lembut.
Sebaliknya, masyarakat Tionghoa umumnya menghindari penggunaan asinan kubis sebagai isian pangsit saat Festival Musim Semi.
Hal ini dikarenakan isian tersebut menyiratkan masa depan yang buruk dan sulit.
Melalui sepiring pangsit, masyarakat Tionghoa tidak hanya menikmati kelezatan kuliner, tetapi juga merawat doa dan harapan agar tahun yang baru dipenuhi dengan limpahan berkah serta kesejahteraan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang