Sejarah Ketupat dan Makna Filosofisnya, Tradisi Lebaran yang Diperkenalkan Sunan Kalijaga

Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki kekayaan tradisi yang berkelindan erat dengan agama. Salah satu yang paling ikonik adalah tradisi makan ketupat saat hari raya Idul Fitri.
Ketupat bukan sekadar hidangan berbahan dasar beras yang dibungkus anyaman janur.
Berdasarkan studi dalam Journal of Ethnic Foods, ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-15 hingga ke-16 di wilayah Demak, Jawa Tengah. Tokoh penting Wali Songo ini menggunakan ketupat sebagai sarana dakwah untuk menyebarkan Islam di tanah Jawa melalui pendekatan budaya.
Makna Filosofis: Ngaku Lepat dan Laku Papat
Dalam perspektif etnik, ketupat mengandung pesan moral yang sangat dalam. Kata "ketupat" atau "kupat" dalam bahasa Jawa sering dikaitkan dengan istilah jarwa dhosok yaitu ngaku lepat yang berarti mengakui kesalahan.
Selain itu, ketupat juga diartikan sebagai laku papat (empat tindakan) yang melambangkan fase spiritual seorang Muslim:
- Lebaran: Menandakan berakhirnya bulan puasa, di mana pintu maaf dibuka lebar.
- Luberan: Berarti melimpah, pesan untuk berbagi harta kepada yang membutuhkan melalui amal.
- Leburan: Bermakna saling memaafkan semua kesalahan.
- Laburan: Berasal dari kata "labur" (kapur), yang berarti manusia kembali murni dan putih bersih dari dosa.
Secara fisik, kerumitan anyaman janur pada kulit ketupat melambangkan berbagai kesalahan manusia. Namun, saat dibelah, nasi putih di dalamnya mencerminkan kebersihan hati setelah melewati bulan Ramadhan.
Data Teknis Pembuatan Ketupat
Ibu Rosida, seorang penganyam ketupat di Pasar Rawabadak Utara, Jakarta Utara, Rabu (18/3/2026)
Ketupat menggunakan bahan alami dari tanaman, yakni janur (daun kelapa muda) dan beras. Berikut adalah detail teknis pemrosesannya:Pemilihan Janur: Daun kelapa muda dipilih karena fleksibel dan tidak mudah pecah saat dianyam. Janur kuning dianggap sebagai simbol jatining nur (cahaya sejati).
Proses Memasak: Beras dimasukkan ke dalam anyaman sebanyak 1/3 hingga 2/3 bagian. Ketupat kemudian direbus dalam air mendidih selama kurang lebih ±5 jam.
Ketahanan: Setelah matang, ketupat harus digantung hingga kering untuk mencegah pembusukan dan bisa bertahan selama 2 hari di suhu ruang.
Daftar Ragam Ketupat di Berbagai Wilayah Indonesia
Meskipun berawal dari Jawa, setiap daerah di Indonesia memiliki kreativitas tersendiri dalam menyajikan ketupat. Berikut adalah ragam budayanya:
- Jawa Tengah (Ketupat Sumpil): Memiliki bentuk segitiga kecil menyerupai siput sungai (sumpil). Sering disajikan dengan sambal parutan kelapa pada acara Maulid Nabi atau pernikahan.
- Jawa Barat (Kupat Tahu): Di tanah Sunda, ketupat menjadi menu sarapan populer yang disajikan dengan tahu goreng, tauge, dan siraman saus kacang segar.
- Jawa Timur (Orem-orem): Khas dari Malang, menggunakan ketupat raksasa yang ukurannya lima kali lebih besar dari biasanya, disajikan dengan irisan tempe dan kuah santan.
- Bali (Tipat): Meskipun mayoritas beragama Hindu, masyarakat Bali mengenal ketupat dengan sebutan Tipat. Digunakan dalam ritual seperti hari Kajeng Kliwon dan dikonsumsi dengan sate atau sup ayam.
- Sumatera (Ketupat Bareh & Palas): Di Minang, ketupat sering dibuat dari beras ketan yang dimasak dengan santan sehingga menghasilkan rasa gurih, biasanya disantap bersama rendang. Ada juga Sipulut yang menggunakan ketan hitam.
- Kalimantan (Ketupat Kandangan): Menjadi ikon kuliner di Banjarmasin. Ketupat ini menggunakan beras pera (tekstur keras) dan wajib disajikan dengan ikan haruan (ikan gabus) serta kuah santan Banjar.
Pengamat budaya menyebut ketupat sebagai simbol solidaritas sosial. Tradisi saling memberi ketupat antar tetangga menciptakan hubungan timbal balik (law of reciprocity) yang memperkuat persatuan masyarakat.
Kini, ketupat telah melintasi batas negara dan dikenal di Malaysia, Singapura, hingga Brunei sebagai simbol perayaan Idul Fitri. Sebagai generasi muda, menjaga kelestarian budaya ketupat adalah tanggung jawab besar agar identitas nasional ini tidak hilang atau diklaim oleh pihak lain.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang